Isu Terkini

Kisah Tukang Bangunan Naik Haji

Manda Firmansyah — Asumsi.co

featured image
ANTARA Jatim/HO-PPIH Embarkasi Surabaya

Mohammad Djaelani, seorang kuli bangunan asal Saradan, Madiun, Jawa Timur, bisa berangkat ke Tanah Suci karena tekun menabung sejak tahun 1980. 

Pria berusia 62 tahun itu mengaku ulet mengelola keuangan dari hasil jerih payahnya demi bisa memenuhi rukun Islam yang kelima.

“Tentu tidak menyangka bisa berangkat haji. Wong buat makan sehari-hari saja susah,” ucapnya di Asrama Haji Surabaya, Rabu (8/6/2022) dikutip Antara.

Kelola uang: Djaelani butuh waktu selama 27 tahun untuk mengumpulkan uang tabungan dari kerja kerasnya sebagai kuli bangunan hingga mencapai Rp5 juta. Saat itu sekitar tahun 2007, uang Rp5 juta yang dikumpulkannya bertahun-tahun dia habiskan untuk membeli seekor sapi.

Dua tahun kemudian sapi yang dibesarkannya dijual dan laku Rp8 juta. Kemudian, terbesit keinginan untuk membeli sebidang tanah seharga Rp10 juta. “Kekurangannya sekitar Rp2 juta saya pinjam bank untuk membeli tanah itu,” ujar Djaelani. 

Niat naik haji: Setelah tanah dibeli. Muncul keinginan untuk naik haji dengan menjual tanah. 

“Saya bernadzar, kalau tanah ini laku terjual, akan saya pakai sebagai uang muka naik haji,”tutur Djaelani. 

Rupanya Allah mendengar cita-cita mulia hambanya yang tekun ini. Tidak membutuhkan waktu lama tanahnya yang dulu dibeli seharga Rp10 juta, justru terjual seharga Rp25 juta.

“Langsung saya habiskan buat daftar naik haji,” ucapnya. 

Djaelani merasa Allah tidak pernah luput membagi rezeki kepada setiap hambanya yang terus berusaha dengan bekerja keras. Rezekinya justru semakin bertambah meski tidak banyak. Yaitu, ketika seorang Nadzir di desanya menawarkan untuk membantu tugas sebagai modin untuk mengurus jenazah. 

Rezeki tambahan: Sejak itu di sela kesibukan sebagai kuli bangunan, Djaelani juga menjadi modin bagi warga di desanya yang meninggal dunia. Kemudian, ketika ada rezeki lebih, Djaelani mengaku akan menginvestasikannya dengan membeli sapi. 

“Saya lunasi uang naik haji dengan menjual sapi. Tidak masalah sekarang tidak punya sapi lagi, yang terpenting bisa menunaikan rukun Islam yang kelima,” tutur Djaelani.

Djaelani tergabung bersama jamaah calon haji asal Madiun lainnya di Kelompok Terbang (Kloter) 7 Embarkasi Surabaya. Berangkat ke Tanah Suci pada Kamis dini hari pukul 00.05 WIB.

Baca Juga:

Pedagang Siomay di Aceh Daftar Haji Pakai Uang Receh 

Diduga Ingin Nyambel di Arab, Jemaah Haji Asal Jatim Bawa Cobek 

Kisah Mantan Anak Punk Naik Haji

Share: Kisah Tukang Bangunan Naik Haji