Isu Terkini

Di Balik Nama ‘Nusantara’, Antara Sejarah, Filosofi dan Luka Lama

Ray Muhammad — Asumsi.co

featured image
BPMI Setpres

Terpilihnya “Nusantara” sebagai nama Ibukota Negara (IKN) baru Indonesia oleh pemerintah mencuri perhatian publik. Ternyata ada beberapa alasan pemilihan namanya, hingga makna filosofi dan sejarah yang layak untuk dipahami.

Kalahkan 80 Nama

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sudah mengungkapkan alasan Nusantara dikukuhkan sebagai IKN baru dari 80 pilihan nama.

“Ada sekitar 80 lebih tapi kemudian akhirnya dipilih kata Nusantara tanpa kata Jaya,” kata Suharso.

Ia mengatakan, Nusantara merupakan konsep aktualisasi atas wilayah geografi sebuah negara yang di dalamnya terdapat pulau-pulau yang disatukan oleh lautan.

“Pulau-pulau yang disatukan lautan itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merupakan negara maritim. Jadi Nusantara itu konsep kesatuan yang bersedia mengakomodasi kemajemukan. Melalui nama Nusantara itu mengungkapkan realitas Indonesia,” jelasnya.

Erat dengan Majapahit

Warganet memperbincangkan “Nusantara” di Twitter. Setidaknya hingga pukul 15.15 WIB, Nusantara telah dicuitkan sebanyak 34.800 kali.

Banyak warganet yang menyebut Nusantara tidak mewakili bangsa Indonesia secara keseluruhan. Sejumlah warganet menilai nusantara terkesan Jawasentris. Sebab, namanya dianggap erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit yang lekat dengan tanah Jawa.

Jurnal “Hubungan Internasional Kuno Indonesia” yang ditulis Bernadetta Budi Lestari (2011) mengamini kalau Nusantara memang erat dengan penamaan konsep kenegaraan Majapahit.

Nusantara justru menjadi nama untuk merepresentasikan Negara Agung yang di dalamnya merupakan daerah-daerah di luar pengaruh budaya Jawa, tetapi masih diklaim sebagai daerah taklukan Majapahit.

Jurnal tersebut menyebutkan, Kitab Negarakertagama mencantumkan wilayah-wilayah Nusantara pada masa kerajaan tersbut, antara lain Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Kepulauan Maluku, dan Papua Barat.

“Ditambah wilayah Malaysia, Singapura, Brunei, dan sebagian kecil Filipina bagian selatan,” tulis Bernadetta dalam jurnalnya.

Dari Bahasa Sanksekerta

Secara morfologi kata Nusantara memang diambil dari bahasa Jawa Kuna (kuno) yang digunakan pada abad ke-13 hingga 15. Dalam bahasa tersebut, Nusantara memiliki arti pulau seberang.

Sejarawan sekaligus Direktur Layanan dan Pemanfaatan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Agus Santoso mengatakan dalam bahasa Indonesia, Nusantara merupakan serapan dari bahasa Sansakerta.

Di dalam bahasa Indonesia, Nusantara memiliki arti pulau-pulau di antara kepulauan luar. Sedangkan dalam bahasa Sansakerta memiliki arti daerah antarkepulauan.

“Nusantara ini berasal dari bahasa Sansekerta yang didopsi ke bahasa Indonesia. Munculnya nama ini tentu pengaruh dari adanya kerajaan Hindu-Buddha di negeri ini yang memicu lahirnya sebutan penggunaan bahasa Sansakerta yang memengaruhi lahirnya bahasa Jawa kuno,” jelasnya kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Selasa (18/1/2022).

Berdasarkan catatan sejarahnya, Nusantara memang lekat dengan eksistensi Kerajaan Majapahit di negeri ini, sebelum munculnya penamaan lain untuk menyebut kawasan kepulauan Indonesia.

“Memang kalau melihat berbagai referensi sejarah, Indonesia itu bagian dari Nusantara. Kemudian kan kita kenal juga kemudian Indonesia disebut dengan Hindia Belanda pada masa penjajahan,” ujarnya.

Semangat Persatuan

Menurut Agus Santoso ada filosofi dalam pemilihan nama Nusantara untuk IKN baru. Didalam nama ini, kata dia terdapat harapan pemerintah dengan adanya ibukota baru maka Indonesia bisa semakin solid menjaga persatuan bangsa.

Ia menyebutkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menaruh harapan Nusantara dapat membangkitkan semangat kebersamaannya seperti zaman kejayaan Kerajaan Majapahit yang mampu menyatukan bebagai pulau dalam kehidupan yang tentram.

“Semangat ingin menyatukan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. Harapannya sulaya tidak ada daerah yang ingin memisahkan diri dari Indonesia,” ungkapnya.

Luka Lama Perang Besar

Sementara itu, muncul juga anggapan publik yang menilai pemilihan Nusantara sebagai nama ibukota Indonesia bisa membangkitkan luka lama sejarah.

Menurut Agus, hal itu terkait peperangan besar antara Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak. Saat peperangan tahun 1527 Masehi memang terjadi perang hebat yang akhirnya menaklukan Majapahit yang pada masa itu dikenal sebagai kerajaan Hindu-Buddha terbesar di dunia.

Peperangan yang menyebabkan banyak korban jiwa itu akhirnya banyak membuat masyarakat Majapahit mengungsi ke berbagai daerah, seperti ke Bali. Kesultanan Demak pun berkuasa sebagai kerajaan Islam di Nusantara

“Perang itu menjadikan Majapahit sebagai kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang akhirnya dikalahkan dengan kesultanan yang menganut kepercayaan negara Islam. Peperangan ini mungkin meninggalkan luka bagi sejarah kerajaan negara ini,” tandasnya.

Bangkitkan Wibawa

Sementara itu, Kepala Bidang Organisasi Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Kusuma Espe mengatakan Nusantara adalah sebutan yang mengacu pada Indonesia di masa kerajaan secara keseluruhan.

“Tidak hanya Jawa semata. Karena kalau bicara Nusantara, seluruh pulau di Indonesia masuk,” ucapnya saat dihubungi terpisah.

Justru menurutnya dengan digunakannnya nama Nusantara sebagai ibukota baru Indonesia, bisa meningkatkan wibawa negeri ini di mata negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Sebab, Nusantara mengingatkan kembali betapa hebatnya Indonesia yang mampu menjadi negara dengan catatan sejarah pernah lahirnya kerajaan sebesar Majapahit yang pada masa itu dikenal ulung di bidang diplomatik dengan kerajaan-kerajaan India, China, hingga Eropa.

“Dengan dipilihnya nama Nusantara justru negara Asia Tenggara lain kayak Filipina, Brunei, dan Malaysia jadi ketar-ketir. Karena Indonesia punya semangat menjadi negara maju lagi di Asia Tengara,” tandasnya. (zal)

Baca Juga:

Makna ‘Nusantara’ yang Telah Disetujui Sebagai Nama Ibu Kota Negara

RUU IKN Baru Sah Jadi UU Meski Ditolak PKS

Jokowi Beri Nama Ibu Kota Negara Baru ‘Nusantara’

Share: Di Balik Nama ‘Nusantara’, Antara Sejarah, Filosofi dan Luka Lama