Yang Perlu Kamu Tahu tentang Coronavirus

Dunia diguncang ketidakpastian karena pandemi COVID-19. Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada akhir Desember 2019 di Cina. Tepatnya di kota Wuhan, provinsi Hubei. 

Sejak itu, COVID-19 telah menyebar ke 118 negara, menginfeksi lebih dari 120.000 orang, dan membunuh 4.600 orang di seluruh dunia. Cina mengarantina provinsi Hubei untuk memperlambat penyebaran virus. Jepang menutup semua sekolah selama sebulan. Italia dan Denmark bahkan mengurung seluruh wilayahnya. 

Virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19 ini tergolong baru. Belum ada vaksin yang terbukti bisa menyembuhkan orang terjangkit. Meski demikian, ada sejumlah langkah tertentu yang menjadi acuan komunitas medis dunia untuk menangkal COVID-19. 

Sayangnya, kabar miring terkait COVID-19 tak berhenti beredar. Berikut panduan singkat yang kami rangkum dari berbagai sumber tentang COVID-19. 
 

Ada Corona, novel coronavirus, COVID-19, SARS. Bingung deh! Sebenernya, apa sih nama penyakit ini? 

Virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, Cina, ini bernama SARS-CoV-2. Penyakit yang ditimbulkannya secara resmi disebut COVID-19, singkatan dari Coronavirus Disease 2019. Contoh mudahnya, penyakit AIDS disebabkan oleh virus HIV. 

Nah, SARS-CoV-2 ini termasuk golongan virus yang menyerang pernapasan. Dalam dunia medis, virus jenis ini tergabung dalam keluarga virus Corona. Ada tujuh jenis virus Corona yang sudah diketahui, termasuk virus flu biasa, severe acute respiratory syndrome (SARS), dan Middle East respiratory syndrome (MERS). 

Jadi, COVID-19 memang masih berkerabat dengan penyakit flu biasa, SARS, dan juga MERS. 

Nama “Corona” diambil dari kata berbahasa Latin yang berarti “mahkota.” Ini disebabkan karena bentuk virus Corona yang menyerupai sebuah bola berduri yang berbentuk mahkota. 

 

Apa gejala COVID-19?

Menurut WHO, COVID-19 jauh lebih mudah menular, dan sayangnya, sangat sukar dideteksi. Gejala yang muncul umumnya ringan, seperti batuk kering, demam, kelelahan, dan sesak napas. Namun, ini semua sangat tergantung kepada daya tahan tubuh masing-masing.  Bahkan, sudah ada beberapa laporan kasus terbukti positif COVID-19 meski tanpa gejala. 

 

Seberapa mematikan COVID-19?

Para pejabat badan kesehatan mengatakan COVID-19 tidak lebih mematikan daripada SARS, yang memiliki laju kematian (fatality rate) 10% dari seluruh orang yang terinfeksi.

Per 3 Maret 2020, WHO menyatakan bahwa 3,4% kasus COVID-19 yang dilaporkan berujung pada kematian. Namun, itu hitungan sementara yang masih sangat mungkin berubah. Daya bunuh virus ini mungkin saja tersembunyi di balik kasus-kasus yang tak dilaporkan dan ditangani secara medis.

 

Siapa yang paling berisiko terkena COVID-19?

Sebagaimana umumnya penyakit pernapasan, orang-orang berusia lanjut dan yang mempunyai penyakit-penyakit bawaan seperti diabetes dan darah tinggi lebih rawan. Pada lansia dengan riwayat penyakit jantung, diabetes, atau kondisi lain, COVID-19 dapat menyebabkan pneumonia, kegagalan organ, bahkan kematian.

Tetapi bagi kebanyakan orang, kasus-kasusnya lebih ringan, hanya membutuhkan sedikit atau tidak ada intervensi medis.

Bagaimana dengan anak-anak? Menurut CDC, belum ada bukti bahwa anak-anak lebih rentan terkena COVID-19.

 

Bagaimana saya mempersiapkan diri?

Tak perlu menghambur-hamburkan uang untuk menimbun barang seolah-olah dunia akan kiamat besok. Para ahli epidemiologi mengatakan bahwa aspek terpenting dari kesiapsiagaan tidak butuh biaya, yaitu ketenangan.

Cuci tangan secara teratur, tutup mulut dan hidung dengan siku saat batuk atau bersin, dan bila Anda kurang sehat, istirahatlah di rumah dan perbanyak minum air putih. CDC melengkapi panduan dasar itu dengan imbauan agar tak menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan. Bagaimana dengan masker? Kecuali Anda sakit atau menangani orang sakit, tak perlu.

"Tujuan utama penggunaan masker adalah mencegah orang yang terinfeksi menularkan virus kepada orang lain," kata Brewer. 

 

Saya merasa batuk, pilek, dan sesak napas. Apa saya harus segera periksa ke dokter? 

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah menelepon hotline COVID-19 di 119 extension 9, atau 021-521 0411 atau 0812 1212 3119. Kamu bisa menjelaskan gejala yang kamu alami. Pihak hotline akan merekomendasikan langkah selanjutnya. 

Kamu juga bisa segera mengunjungi rumah sakit rujukan pemerintah di daerahmu. Jika kamu tidak tahu lokasi terdekat, tanyakan di hotline COVID-19. 

 

Apa yang akan terjadi kepada saya di rumah sakit? 

Pertama-tama, mereka akan melakukan profiling. Ini mencakup pertanyaan tentang kamu, aktivitas kamu belakangan ini, gejala-gejala yang kamu keluhkan, riwayat bepergian, riwayat kesehatan dan sebagainya. 

Langkah tim medis selanjutnya bergantung kepada informasi klinis yang kamu berikan. Variasinya bisa termasuk pengambilan sample cairan dari hidung dan mulut, tes darah hingga rangkaian tes radiologi seperti rontgen dan CT scan. Hasil tes umumnya keluar di pagi dan sore hari. 

Tim medis juga akan berkoordinasi dengan instansi pemerintahan terkait yang berwenang di wilayahmu. Umunnya Dinas Kesehatan. Berdasarkan hasil tesmu, mereka akan menentukan apakah kamu perlu dilakukan pemantauan kondisi selama 14 hari. Selama masa pemantauan tersebut, kamu dianjurkan untuk membatasi interaksi dengan orang lain, tidak keluar rumah kecuali amat diperlukan, dan menerapkan pola hidup sehat.

Jika kamu terbukti positif COVID-19, atau pernah melakukan kontak dengan pasien positif COVID-19, mereka akan menempatkan kamu di ruang isolasi selama 14 hari. 

 

COVID-19 secara resmi merupakan pandemi. Apa artinya?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi, artinya, wabah tersebut telah melanda seluruh dunia. Istilah ini berasal dari kata Yunani pan, yang berarti "semua" dan demo, yang berarti orang.

Pengumuman ini tidak serta-merta menuntut pendanaan, protokol, atau peraturan baru. Nilai terpentingnya ialah pengakuan atas keadaan. 

Tidakkah pengumuman ini memperparah kepanikan? Menurut Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, ada yang lebih penting. “Kami sangat prihatin melihat laju transmisi yang mengkhawatirkan dan penanganannya yang lamban,” ujarnya. 

Dulu, status pandemi dipandang sebagai tanda kegagalan mengatasi wabah, sehingga otoritas mesti sungguh-sungguh mengutamakan mitigasi, misalnya mendirikan rumah sakit khusus untuk menangani pasien terinfeksi, menyiapkan logistik, serta memberlakukan karantina.

Namun, COVID-19 berbeda. Dalam beberapa pekan terakhir, WHO menegaskan bahwa semua negara harus berfokus pada pencegahan, sekalipun ketika mereka sudah meningkatkan upaya mitigasi. Dunia masih bisa melawan. Dengan mengendalikan virus, kita dapat memperlambat penyebarannya dan menyusun strategi mitigasi yang lebih baik.

 

Related Article