Isu Terkini

Wabah Penyakit Baru Itu Bernama Pneumonia Wuhan

Permata Adinda — Asumsi.co

featured image

Sebuah wabah penyakit baru menyeruak di Cina. Akhir tahun 2019 lalu, otoritas kesehatan Cina melaporkan terdapat lebih 40 kasus penyakit mirip pneumonia (radang paru-paru) yang mewabah di kota Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, Cina. Hingga kini, dilaporkan korban yang terinfeksi telah hampir mencapai 50 orang dan menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Otoritas Cina mengidentifikasi penyakit tersebut disebabkan oleh tipe baru virus yang menyebabkan masalah pernapasan seperti flu dan pneumonia.

Dikabarkan pula virus ini termasuk dalam famili yang sama dengan Sars (severe acute respiratory syndrome) yang pada 2002-2003 pernah membunuh lebih dari 600 orang di kawasan Cina dan Hong Kong. Namun, ahli obat pernapasan di Cina, David Hui Shu-cheong, mengatakan bahwa penyakit ini nampaknya tidak seberbahaya Sars.

“Pasien Sars rata-rata harus dirawat di rumah sakit selama 3 minggu. Kondisi mereka biasanya memburuk di minggu kedua, dan setengah dari mereka membutuhkan bantuan oksigen untuk bernapas. Seperempat pasien juga perlu dibawa ke unit intensif (ICU),” kata Hui, dilansir scmp.com. “Namun, kondisi pasien [virus Wuhan] tampak lebih ringan,” lanjutnya.

Organisasi WHO (World Health Organization) yang diinformasikan oleh otoritas Cina telah melakukan investigasi lebih lanjut tentang wabah ini. Mereka punya bukti kuat bahwa salah satu pasar makanan laut (seafood) di Wuhan menjadi penyebab penyebaran virus. Kebanyakan penderitanya dikabarkan pernah bekerja di pasar Wuhan atau pembeli regular di sana.

Mencegah lebih parahnya penyebaran, pasar tersebut telah ditutup oleh pemerintah Jepang sejak 1 Januari lalu. Delapan orang ditangkap polisi karena telah menyebarkan informasi hoaks terkait wabah ini.

Dari hampir 50 kasus, dikabarkan bahwa 7 orang di antaranya sakit parah. Dua penderita yang punya riwayat penyakit kronis lain dikabarkan meninggal dunia. Gejala-gejala orang yang terjangkit virus ini terdiri dari demam, kesulitan bernapas, dan pneumonia invasif yang menginfiltrasi kedua paru-paru.

Berdasarkan kabar terbaru hari ini (18/1), penderita virus Wuhan diestimasi jauh lebih banyak daripada yang telah dilaporkan. Hasil studi yang dilakukan oleh MRC Centre for Global Infectious Disease Analysis di London mengestimasi bahwa jumlah orang yang terinfeksi telah mencapai 1.723 kasus. Studi ini turut memasukkan kasus-kasus gejala penyakit serupa yang telah mencapai Thailand dan Jepang.

Virus Wuhan telah terdeteksi di Thailand dan Jepang tak lama setelah Cina melaporkan wabah ini. Pada 14 Januari lalu, Thailand melaporkan kasus pertama virus Wuhan yang menjangkit seorang perempuan asal Cina. Perempuan berusia 60 tahun itu dirawat di rumah sakit setelah didiagnosis dengan gejala pneumonia ringan. Namun, setelah melalui tes laboratorium, dikonfirmasi bahwa perempuan tersebut membawa virus Wuhan.

Dua hari setelahnya, Jepang mengonfirmasi bahwa virus tersebut telah sampai di negaranya. Seorang warga negara Jepang berusia 30 tahun pulang dari Wuhan dalam keadaan demam. Ia kemudian dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu dan dikabarkan telah membaik.

“Dengan telah masuknya penyakit ini ke negara lain mengimplikasikan bahwa terdapat lebih banyak kasus dari yang telah dilaporkan,” kata Profesor Neil Ferguson sebagai salah satu peneliti London. Ia mengatakan bahwa penemuan ini membuatnya lebih khawatir dari minggu lalu. Namun, ia juga mengingatkan bahwa investigasi kasus ini masih, “terlalu dini untuk jadi alarmis.”

Belum diketahui pasti apakah virus tersebut dapat menular ke sesama manusia. Terdapat dugaan bahwa virus dapat menular ke sesama manusia dalam kondisi tertentu saja (limited human-to-human transmission). Namun, kemungkinan itu masih diinvestigasi. “Orang harus mempertimbangkan kemungkinan virus ini menular antar manusia. Berdasarkan informasi yang kita tahu tentang coronavirus, kecil kemungkinan virus ini disebarkan oleh hewan,” kata Ferguson.

Pemerintah Cina mengambil langkah waspada. Jumlah penderita terus meningkat, dan mereka diisolasi dalam ruangan khusus untuk mencegah semakin banyaknya orang tertular. Orang-orang yang berkontak dekat dengan para penderita pun dikarantina. Seorang anak berusia 3 tahun dikabarkan mengalami gejala-gejala pneumonia setelah pulang dari Wuhan. Ia pun dibawa ke rumah sakit dan diisolasi. Namun, esoknya, ia dikabarkan hanya menderita flu biasa.

WHO dan ahli-ahli penyakit pernapasan juga tidak merekomendasikan orang-orang untuk berwisata atau pergi ke Cina saat ini. Jika sedang berada di Cina, khususnya di wilayah Wuhan, disarankan agar sering-sering mencuci tangan, menghindari orang yang terinfeksi, dan menghindari pertenakan hewan dan satwa liar. “Orang-orang harus memakai masker bedah sekali pakai jika berada di tempat yang ramai,” kata Dokter Ho Pak-leung dari Universitas Hong Kong. Ia juga menekankan pentingnya memastikan toilet dalam keadaan higienis. Sebab, virus bisa saja menyebar dari urin dan feses orang yang telah terinfeksi.

Pemerintah Hong Kong yang berdekatan dengan Cina telah menetapkan virus ini termasuk dalam level serius dan mulai memberikan peringatan darurat kepada warganya. Pemerintah pun mewajibkan orang-orang yang dicurigai terinfeksi virus ini untuk berobat. Jika menolak, orang tersebut dapat didenda hingga HK$5000 (sekitar 8,7 juta rupiah) dan dipenjara selama 6 bulan. Pihak rumah sakit pun telah bersiap untuk menambah kapasitas kamar isolasi menjadi 1.400 kasur (dari 480) dalam waktu 72 jam jika diperlukan.

Sementara itu, negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat akan mulai memeriksa penumpang-penumpang di bandara yang datang dari Wuhan. Jepang juga memeriksa suhu tubuh semua penumpang bandara yang datang. Ada pula peringatan yang meminta penumpang untuk melapor ke petugas bandara jika mereka datang dari Wuhan dan dalam keadaan sakit.

Di Indonesia sendiri, belum ada kabar resmi virus telah sampai ke sini hingga kini. Namun, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menganjurkan warga untuk tetap waspada. Mereka juga merekomendasikan agar masyarakat Indonesia rajin mencuci tangan dan menjaga kondisi tubuh demi mencegah tertular dari virus ini. “Kalau imunitas kita diperbaiki maka kondisi tubuh juga terpengaruh,” kata Erlina Burhan, Pokja Infeksi PDPI, dilansir oleh Liputan 6.

Share: Wabah Penyakit Baru Itu Bernama Pneumonia Wuhan