Politik

Vokal Jadi Tukang Kritik, Perjalanan Manuver Keras Amien Rais ke Jokowi dan Presiden Lainnya

Ramadhan — Asumsi.co

featured image
Ilustrasi: Ibam/Asumsi.co

Politikus senior Amien Rais dikenal sebagai sosok yang sangat vokal melancarkan kritik. Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, mantan ketua MPR RI itu kerap melontarkan kalimat-kalimat menohok terkait kinerja pemerintahan.

Teranyar, melalui kanal YouTube-nya Amien Rais Official, Minggu (14/3/21), Amien mencurigai adanya upaya pihak-pihak tertentu untuk mengusulkan pasal soal masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

Pada kesempatan yang sama, ia juga mengkritik Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko terkait kudeta Partai Demokrat, hingga Menko Polhukam Mahfud MD soal “The Wrong Man for The Wrong Job”.

Sebetulnya, berbagai manuver yang dilancarkan Amien terhadap Presiden Jokowi dan pemerintahannya memang sesuatu yang lumrah terjadi. Sebagai politikus gaek, berada di luar kekuasaan, dan malang melintang di dunia pemerintahan, membuatnya sudah paham betul seluk beluk perpolitikan, sehingga mengkritik kinerja presiden dan anak buahnya tentu saja sudah menjadi makanan sehari-hari.

Siapapun Presidennya, Kritik Amien Rais Jalan Terus

Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio tak heran kalau Amien akan terus mengkritik pemerintah, siapapun presidennya. Menurut Hendri, tak akan ada yang berubah dari sosok Amien meski zaman terus berganti.

​Baca Juga: Amien Rais Curiga Muncul Pasal Presiden 3 Periode, Jokowi Pernah Tolak Wacana Itu

“Amien Rais, siapapun presidennya, dia memang begitu, sama sahabatnya yang jadi presiden Gus Dur aja begitu, sama Megawati juga begitu. Memang aktivis kan darahnya Pak Amien itu,” kata Hendri saat dihubungi Asumsi.co, Senin (15/3).

Bahkan, Jusuf Kalla, saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI, pernah menyebut kalau kritik keras Amien adalah sesuatu yang biasa. Jadi tak heran kalau Amien terus bermanuver.

“Kalau tidak mengkritik itu bukan Pak Amien Rais. Kritiknya kadang-kadang luar biasa,” kata JK, sapaan akrabnya, di aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Kamis (22/3/18) lalu.

Apalagi, lanjut JK, sejak era reformasi Amien Rais konsisten melayangkan kritik pedasnya kepada pemerintah. “Seperti (era) reformasi, bagaimana pun salah satu sumbangan (Amien Rais) kritikan yang keras.”

Kritik-kritik Keras Amien Rais di Berbagai Era

Presiden Jokowi bukan satu-satunya presiden yang sudah merasakan pedasnya kritik Amien Rais. Sebelumnya, ada sederet presiden yang juga pernah disorot Amien.

Di era pemerintahaan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Amien Rais mengkritik bahwa Indonesia didominasi oleh kekuatan asing. Misalnya soal kontrak tambang emas oleh PT Freeport di Papua dan mekanisme perhubungan udara Indonesia bagian barat yang berada di bawah kendali Singapura.

Baca Juga: Apa Saja Permintaan Amien Rais dkk kepada Presiden Jokowi?

“MPR, DPR, Presiden diam. Jadi, mereka yang besok mau jadi calon presiden harus bisa mengakhiri kontrak karya dan bagi hasil yang memalukan saat ini. Ini betul-betul sebuah penghinaan. Hendaknya pimpinan nasional nanti tidak seperti kemarin. Sekarang ini kita sesungguhnya terhina,” kata Amien Rais di Hall A Basket, Senayan, Sabtu (3/8/13) lalu.

Lalu, pemerintahan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri pernah dianggap inkonsisten oleh Amien Rais, yang saat itu menjabat sebagai Ketua MPR RI. Terutama pada awal Januari 2002 lalu ketika pemerintah hendak menentukan harga BBM, tapi ternyata batal.

“Tampak ada kegamangan, inkonsisten, keraguan, dan kurang percaya diri. Pemerintah sepertinya tidak mengakui padahal jelas dari pemerintah, bahkan antara presiden dan menterinya juga saling lempar tanggung jawab. Jadi mohon konsistensi, istiqomah dalam bahasa agama, yang menjadi sikap dasar di pemerintahan yang sudah sangat berat saat ini,” kata kepada para wartawan yang menemuinya di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (2/1/03) siang.​

Di era lain, Amien Rais pernah meminta Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur turun dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Indonesia. Hal itu karena Amien menilai Gus Dur tidak bisa memimpin negara, dengan menyia-nyiakan kepercayaan rakyat.

“Kita telah berhasil membawa Gus Dur ke puncak kekuasaan. Tetapi tampaknya dia tidak pandai bersyukur. Tidak saja kepada manusia, tetapi juga kepada Allah. Amanah yang dipegang berupa kekuasaan yang sangat penting dan strategis itu disia-siakan,” kata Amien Rais pada acara Dialog Dakwah Nasional dan Rapat Kerja Nasional Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (12/7/03).

Lalu, pada saat reformasi Mei 1998, Amien Rais mengumpulkan sejumlah tokoh dan mendesak agar Presiden ke-2 Soeharto mundur. Ia menilai Soeharto harus turun dari posisinya karena rakyat sudah tak percaya lagi dengan pemimpin otoriter.

Baca Juga: Hegemoni Politik Amien Rais Memudar di PAN

“Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasinya karena rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya, sehingga hari-harinya sudah bisa dihitung. Karena itu, tetap jaga terus persatuan dan kesatuan. Jangan mau dipecah-pecah,” kata Amien Rais, Senin (4/5/98).

Di era Presiden ke-7 Jokowi, berbagai macam kritik keluar dari mulut Amien. Mulai dari menyebut pembagian sertifikat oleh Jokowi sebagai ‘pengibulan’, menantang Jokowi untuk tak mendiskreditkan umat Islam, menyerukan gerakan ganti presiden, dikotomi ‘partai setan-partai Allah’, hingga jabatan presiden tiga periode.

Pengamat: Amien Rais Memang Kritis Sejak Dulu

Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komaruddin menilai sudah biasa kritik-kritik yang muncul dari Amien Rais terhadap pemerintah. Menurutnya, pemerintah perlu kontrol sehingga tak ada penyalahgunaan kekuasaan.

“Lumrah dan wajar ya. Karena kekuasaan itu memang perlu dikritik agar tak salah jalan,” kata Ujang kepada Asumsi.co, senin (15/3).

Menurut Ujang, Amien punya riwayat panjang sebagai sosok yang tumbuh di berbagai kondisi politik nasional. Sepak terjangnya sejak era reformasi cukup membuktikan bahwa ia memang kritis.

“Seorang yang berlatar belakang kampus itu akan kritis kepada siapapun termasuk pada pemerintahnya sendiri. Ketika pemerintahnya sudah mulai salah arah dan salah jalan.”

Baca Juga: Cerita Amien Rais soal Ada Kedipan ‘Lurah’ di Aksi Moeldoko Kudeta Demokrat

Senada dengan Ujang, pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bakir Ihsan, juga menganggap sosok Amien Rais bisa mengeluarkan berbagai jenis kritik. Mulai dari kritik yang sifatnya membangun, bisa juga yang keras.

“Amien Rais selalu kritis terhadap kekuasaan, sejak Orba sampai saat ini karena didasarkan pada perspektifnya terhadap kekuasaan dengan beragam cara dan strateginya, bisa frontal bisa akomodasional walaupun tidak selalu berhasil, termasuk saat ia ingin mengarah PAN, akhirnya ia yang terpental,” kata Bakir saat dihubungi Asumsi.co, Senin (15/3).

Pernyataan seperti Ujang dan Bakir, sebelumnya juga pernah diutarakan mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra. Pada Selasa (27/3/18) silam, ia menyebut bahwa Amien memang sudah vokal sejak era 1990-an.

Yusril menyebut di masa-masa dulu, Amien sudah aktif ceramah dari kampus ke kampus untuk bicara soal beberapa dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Ia juga menepis anggapan yang menyebut Amien mendompleng gerakan mahasiswa 1998.

“Enggak, beliau memang, sebelum mahasiswa turun ke jalan, sudah sering mengkritik Pemerintah dimana-mana,” kata Yusril di kantornya.

Kini, di usianya yang akan menginjak 77 tahun, Amien tetap konsisten mengkritik pemerintah. Meski tak lagi kuat secara fisik, tapi inisiator Partai Ummat ini tampaknya tak akan berhenti mengingatkan pemerintah kalau berada di jalan yang salah, sebagai bentuk checks and balances.

Tiga tahun lalu, Amien pernah mengakui bahwa tubuhnya memang tak lagi kuat menopang aktivitasnya sehari-hari. Tapi, ia tetap tak ingin ketinggalan dari hiruk pikuk perpolitikan nasional.

“Saya merasa makin tua juga, makin banyak kekurangan, tak sekuat dulu, makin cepat ngantuk. Kadang-kadang baru baca buku 10 halaman sudah ngantuk. Ada pemerosotan kemampuan fisik, maupun mungkin juga mental. Tapi so far so good, alhamdulillah,” kata Amien Rais di kediamannya, di Perumahan Taman Gandaria, Jakarta, Jumat (19/4/18).

Amien juga mengaku masih terus membaca buku. Yang terakhir dibacanya adalah ‘How Democracies Die’ (2018) karya dua profesor dari Harvard University, Steven Levitsky and Daniel Ziblatt. Ia menilai isi buku tersebut masih relevan dengan kondisi saat ini, bahwa, jika tak hati-hati lembaga-lembaga demokrasi akan perlahan berubah menjadi lembaga otoriter, bahkan totaliter, jika mentalnya belum cukup demokratis.

“Mungkin DPR, pemerintahnya, bahkan opini publiknya, bisa mendorong demokrasi kejebur, termasuk ke jurang. Dan sekarang kita akan ke sana kalau tidak hati-hati. Misalnya, pemikiran soal calon tunggal di Pilpres.”

Share: Vokal Jadi Tukang Kritik, Perjalanan Manuver Keras Amien Rais ke Jokowi dan Presiden Lainnya