post

Current Affairs

Vaksin COVID Bikinan Oxford Ditunda. Ada Apakah Gerangan?

Raka Ibrahim, 10 September 2020

Kabar buruk dalam upaya meramu vaksin COVID-19: salah satu calon vaksin yang paling menjanjikan baru-baru ini ditunda pengembangannya sampai waktu yang tak ditentukan. Sebab, salah seorang pasien yang sukarela jadi penguji vaksin tersebut menunjukkan efek samping yang parah dan tak terduga.

Bakal vaksin yang dimaksud adalah vaksin bikinan Oxford University, yang rencananya akan disebarkan ke seluruh dunia oleh perusahaan farmasi AstraZeneca. Dalam pernyataan pers hari ini (9/9), AstraZeneca beserta perwakilan dari tim peneliti menyatakan bahwa satu orang peserta ujicoba vaksin menunjukkan efek samping saat mengikuti ujicoba tahap ketiga.

Oleh karena itu, mereka menunda pengembangan vaksin dan proses ujicoba untuk sementara waktu, sampai insiden ini dapat diulas oleh komite independen. Adapun efek samping yang dimaksud belum dibuka ke publik sampai sekarang.

Sekilas, kabar ini mengejutkan sekaligus mengecewakan. Vaksin bikinan Oxford University adalah satu dari sembilan calon vaksin COVID-19 di dunia yang sudah memasuki fase ketiga uji klinis. Pada fase pertama, vaksin diberikan ke sukarelawan manusia yang berbadan sehat. Kemudian, pada fase kedua, vaksin diberikan ke populasi dengan kondisi kesehatan tertentu untuk menguji respon sistem imun manusia.

Adapun fase ketiga adalah fase terakhir. Bila lolos dari fase ketiga, vaksin yang bersangkutan dapat diproduksi secara luas dan didistribusikan ke masyarakat. Vaksin bikinan Oxford University telah diujicobakan di 62 titik di AS, Brazil, Afrika Selatan, dan Britania Raya. Kabarnya, setidaknya 17 ribu orang telah menjadi sukarelawan penelitian vaksin tersebut.

Pemerintah Australia dan Inggris sudah tancap gas duluan. Australia memesan setidaknya 33.8 juta dosis vaksin tersebut ketika sudah jadi, sementara Inggris memesan 100 juta dosis yang akan didistribusikan secara gratis. Bila tak ada aral merintang, diprediksi vaksin ini sudah siap untuk diproduksi secara massal pada Januari 2021 nanti. Singkat kata, vaksin ini sudah ditunggu-tunggu dan diharapkan banyak orang. Jangan sampai ia PHP.

Beruntung, skenario penundaan seperti ini rupanya bukan kejadian ganjil. Prof. Robert Booy, pakar vaksinologi di University of Sydney, menyatakan bahwa menghentikan sementara pengembangan vaksin itu “wajar dan sering terjadi”, terutama saat vaksin sudah sampai ke fase akhir dan diujicobakan ke populasi puluhan ribu orang.

“Dari sepuluh ribu orang yang jadi sukarelawan, pasti ada satu-dua kasus khusus yang menunjukkan efek samping.” Jelasnya. “Ini wajar, tapi para peneliti tetap harus menunda kelanjutan fase ujicoba supaya mereka tahu apa penyebab efek samping tersebut.”

Dari temuan sementara, efek samping tersebut lebih disebabkan oleh gejala penyakit lain yang sudah ada, dan tidak disebabkan oleh vaksin itu sendiri. Bahkan, diprediksi pasien yang bersangkutan dapat sembuh sepenuhnya. Namun meski hanya terjadi pada satu orang dari 17 ribu peserta vaksin, Prof. Booy merasa para peneliti Oxford pasti “bekerja dengan prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati.” Anomali sekecil apapun, semungil apapun, harus diselidiki sampai tuntas.

Wakil Ketua Dinas Kesehatan Australia, Nick Coatsworth, menyatakan bahwa insiden terbaru ini tidak berarti negara tersebut batal memesan puluhan juta dosis vaksin tersebut dan bahwa vaksin tersebut otomatis tak bisa diharapkan. “Kepanikan yang terjadi sekarang adalah cerminan dari cepatnya pengembangan vaksin tersebut,” ucapnya. “Semua orang ingin ada vaksin COVID-19 yang lekas jadi, tapi proses standar seperti sekarang harus tetap ditempuh. Keamanan dan ketepatan dari vaksin tersebut tetap harus diprioritaskan.”

“Kemungkinan besar, temuan awal dikonfirmasi: bahwa efek samping ini disebabkan oleh penyakit yang sudah ada di sang pasien, bukan karena vaksin itu sendiri,” ucap Prof. Booy. “Umumnya peneliti butuh waktu 1-2 pekan untuk mencari tahu penyebab efek samping parah tersebut, kemudian ujicoba dapat dimulai lagi dalam waktu sebulan.”

Meski ada penundaan sejenak, semua itu wajib dilakukan demi memastikan vaksin yang disebarkan memang tepat sasaran dan efektif.