Usaha Prabowo Subianto Perangi Pemilih Hantu Sejak Pemilu 2009

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto punya cerita panjang soal pemilih hantu jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Bukan hanya saat ini saja, jauh sebelumnya Prabowo juga sudah pernah berurusan dengan isu pemilih hantu ini. Bahkan keresahan Ketua Umum Partai Gerindra itu sudah muncul sejak Pilpres 2009 lalu.

Kini, Prabowo pun meminta kepada para pendukungnya untuk mengawasi setiap tempat pemungutan suara (TPS) saat pelaksanaan Pilpres 2019 nanti. Ia meminta para relawan memastikan bahwa tak ada lagi pemilih hantu di TPS saat hari H pencoblosan nanti. 

"Saudara-saudara sekalian, jaga TPS, jaga suara rakyat. Waspada terhadap nanti pemilih-pemilih hantu yang akan nyoblos. Coba dicek, cek semua kotak suara itu, harus kosong dulu sebelum mulai pemilihan," kata Prabowo di hadapan simpul relawan di Roemah Djoeang Prabowo-Sandi, Jalan Wijaya I No 81, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu, 13 Januari 2019.

Selain itu, Prabowo juga meminta kesediaan para pendukungnya untuk berjaga di TPS di hari H pencoblosan, bahkan kalau perlu sampai malam. Menurutnya, kecurangan akan sangat mungkin terjadi, apalagi kontestasi politik sebesar Pilpres akan sangat menentukan nasib bangsa di masa mendatang.

"Dan emak-emak semuanya, bapak-bapak semuanya, kalau datang, maaf, kali ini kalau pulang jangan cepat-cepat, tunggu sampai malam. Loh kok ketawa? Kuat nggak? Berani nggak. Datang ya, harus sampai sore, nunggu.”

Saran Prabowo: Tidur di TPS Pantau Pemilih Hantu

Bahkan, demi menjaga keamanan suara di TPS saat hari pencoblosan, Prabowo pun menghimbau kepada para pendukungnya untuk membawa bekal makanan atau bila perlu menetap di TPS sampai pemungutan suara selesai dilakukan. Bagi Prabowo, usaha tersebut bakal bermanfaat bagi bangsa dan negara selama bertahun-tahun mendatang.

Baca Juga: Alasan Prabowo-Sandi Ubah Visi Misi, Seperti Apa Isinya?

“Jadi saudara-saudara, ya kalau terpaksa kalian bawa rantang ke TPS, bawa tikar ke TPS, sekalian piknik di situ. Kalau perlu tidur di situ sampai selesai. Betul? Bisa? Untuk negara. Apa yang kita lakukan tanggal 17 menentukan kita untuk beberapa ratus tahun ke depan saudara-saudara sekalian.”

Prabowo lantas membandingkan pemilihan presiden dengan lomba sepakbola. Menurut dia, lomba sepak bola di tingkat kecamatan pun rentan kecurangan. Apalagi kontestasi sekaliber pemilihan presiden. Ketua Umum Partai Gerindra ini pun berujar hal tersebut perlu dikoreksi dari Indonesia.

"Kita harus koreksi kelemahan bangsa kita, kadang-kadang main sepak bola tingkat kecamatan aja mau curang. Apalagi?," ujarnya.

Cara Lain Prabowo Berantas Pemilih Hantu

Pada Oktober 2018 lalu, Prabowo sudah pernah menyinggung soal pemilih hantu jelang Pilpres 2019. Mantan Pangkostrad itu punya cara tersendiri untuk mencegah pemilih hantu. Saat itu ia mengajak gerakan rakyat untuk menyisir daftar pemilih tetap (DPT).

Demi meminimalisir pemilih hantu, Prabowo pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencegah kecurangan pemilu dengan ikut mengawasi proses berjalannya pemilihan dan penghitungan suara di TPS. Ia sendiri tak ingin adanya kecurangan yang terjadi di Pilpres 2019.

"Saya butuh gerakan seluruh rakyat, cara menghadapi kecurangan adalah berbondong-bondong datang ke TPS untuk mengamankan suara," kata Prabowo di Griya Persada The Wujil, Semarang, Jawa Tengah, Senin, 29 Oktober 2018. 

"Kita juga harus berjuang menyisir DPT-DPT yang ada karena kita tidak mau ada pemilih hantu, orangnya sudah meninggal tapi namanya dipakai untuk mencoblos. Kita harus berjuang menyelamatkan bangsa dan negara ini, harus ada perbaikan pada bangsa kita," ujarnya.

Baca Juga: Diduga Relawan Prabowo-Sandi yang Sebar Hoaks, Siapakah Bagus Bawana?

Prabowo Soroti Pemilih Hantu Sejak Pilpres 2009

Bahkan jauh sebelumnya atau sekitar 10 tahun lalu, tepatnya pada Pilpres 2009, Prabowo sudah menyoroti tentang keberadaan pemilih hantu. Menurut Prabowo, pada Pilpres 2009 lalu, banyak nama-nama yang tidak sesuai dengan DPT, dan menjadi pemilih hantu dalam proses Pemilu tersebut.

"Bangsa ini suka lelucon. Kalau di daftar pemilih ada 20 persen ada nama hantu. Kita harus terima bangsa kita bangsa lelucon," kata Prabowo dalam diskusi Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) bertemakan “Masa Depan Indonesia: Tantangan 20 tahun ke Depan” dan Analisis Politik 2012: “Suara Tuhan: Suara Rakyat Versus Suara Elite”, di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 18 Desember 2012 lalu.

Prabowo membeberkan pada tahun 2009 itu saja terdapat 20 juta nama fiktif yang semestinya tidak ada dalam DPT, namun nama-nama tersebut justru dapat memberikan suara pada Pilpres 2009. "Kalau orang itu enggak ada jangan namanya dibikin. Tim kami dari Partai Gerindra mencatat ada 20 juta nama fiktif pada Pemilu 2009," ujarnya.

Saat itu pun, Prabowo meminta agar DPT pada Pilpres 2014 bisa diperbaiki. Hal itu menurutnya perlu ditempuh agar tak terjadi kesalahan yang sama seperti pada Pemilu 2009. Menurut Prabowo, keberhasilan demokrasi dalam menjalankan Pemilu adalah ketepatan dalam menghasilkan DPT yang sesuai dengan ketentuan dan jumlah masyarakat yang berhak memilih.

Baca Juga: Dua Paslon Diduga Tak Transparan dalam Laporan Sumbangan Dana Kampanye

"Siapapun yang ditampilkan (capres) kita harus terima asal prosesnya benar. Di setiap demokrasi, kuncinya adalah daftar pemilih," ujarnya.

Selain itu, Prabowo mengatakan bahwa pada Pilpres 2009 lalu itu, tak hanya dirinya saja yang mempermasalahkan keberadaan pemilih hantu. Penemuan nama fiktif di Pilprs 2009 juga dirasakan oleh pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto. Saat itu, Prabowo pun berharap agar kesalahan fatal itu tak terulang lagi pada di Pilpres 2014 sehingga proses demokrasi di Indonesia dapat berjalan sesuai harapan.

"Timnya Pak JK malah lebih menemukan angka fiktif yang lebih besar, itu dari beberapa ahli komputer, dia bisa buka. Ada software cepat yang bisa menghilangkan nama-nama fiktif itu dan terjadi pada Pilkada DKI, mereka bisa menghilangkan," kata Prabowo.

Related Article