post

Current Affairs

Kamu Pengguna Transportasi Umum? Ini Tips Jaga Diri dari Virus Corona

Ramadhan, 13 Maret 2020

Para pengguna transportasi publik, terutama KRL Commuter Line, sewajarnya mencemaskan risiko penyebaran COVID-19 di gerbong-gerbong yang mereka tumpangi. Meski baru sebatas potensi risiko, pembicaraan tentang itu setidaknya bisa meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran warga untuk terus menjaga kondisi kesehatan.

Menurut berbagai kabar yang beredar beberapa hari terakhir, potensi kontaminasi COVID-19 terbesar disebut ada di wilayah KRL-2 atau rute Bogor-Depok-Jakarta Kota. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengaku berupaya keras mengerahkan seluruh sumber daya untuk mengantisipasi penjangkitan COVID-19.

VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba, dalam siaran tertulisnya, Jakarta, Rabu (11/03/20), mengatakan upaya antisipasi yang telah dilakukan PT KCI antara lain edukasi untuk mencegah penularan COVID-19. Hal ini telah dilakukan sejak 3 Februari 2020. Salah satunya edukasi tentang cuci tangan yang benar dan membagikan masker kepada pengguna di 36 stasiun.

Baca Juga: Yang Perlu Kamu Tahu tentang Coronavirus

KCI juga menyediakan lebih dari 700 botol hand sanitizer, rutin membersihkan seluruh rangkaian kereta seusai beroperasi dengan cairan pembersih yang mengandung disinfektan, serta memberlakukan on trip cleaning.

Selain itu, Anne mengatakan pihak KCI juga memberikan materi edukasi dan imbauan di 88 rangkaian kereta dan 80 stasiun, juga menyiapkan pos kesehatan di 30 stasiun KRL yang dapat memberikan pertolongan pertama jika pengguna mengalami masalah kesehatan.

"Di pos ini, pengguna juga dapat mengukur suhu tubuh, mendapatkan masker, hingga obat-obatan. Bila tidak dapat ditangani, petugas kesehatan akan merujuk pengguna ke rumah sakit terdekat. Tujuh, mewajibkan pegawai frontliner yang berinteraksi langsung dengan pelanggan untuk cek kesehatan termasuk suhu tubuh sebelum berdinas," ujarnya.

Pemerintah Indonesia sendiri memang belum mengeluarkan larangan terkait penggunaan transportasi umum di tengah wabah COVID-19. Namun, sejauh ini, masih banyak anggapan bahwa angkutan umum merupakan medium terbesar dari penularan virus. Berdasarkan sebuah survei tahun 2005 terhadap 3.436 orang yang dilakukan di berbagai negara Eropa dan Asia, ada sekitar 75 persen responden lebih memilih menghindari transportasi umum selama wabah.

Orang-orang dari Hong Kong, Spanyol, Polandia, Denmark, Inggris, dan Belanda mengatakan bahwa transportasi umum sebagai tempat yang paling berisiko terinfeksi. Namun, responden dari Guangdong, Cina, dan Singapura justru berpendapat bahwa lokasi hiburan lah yang lebih berisiko menularkan virus daripada angkutan umum.

Namun, risiko tertular virus dari seseorang di transportasi umum ternyata memang sulit diukur. Sebagian besar tergantung pada dua faktor: Seberapa ramai penumpangnya? Lalu, berapa banyak waktu yang dihabiskan di dalam transportasi umum?

"Orang-orang yang melakukan perjalanan yang relatif singkat (dalam jarak pendek), mungkin lebih baik hanya berjalan kaki saja dan berolahraga sedikit," kata William Schaffner, Profesor Kedokteran Pencegahan dan Penyakit Menular di Vanderbilt University dikutip dari The Verge. "Saya pikir orang akan lebih berhati-hati untuk menjauhkan diri dari satu sama lain sebisa mungkin."

Hal-hal yang Harus Dilakukan Pengguna Transportasi Publik

Bagi kalian yang setiap hari pulang dan pergi menggunakan KRL, tentu saja sudah paham bagaimana situasi di dalam gerbong. Berdesakan, saling dorong, hingga tak bisa bergerak sedikit pun karena terhimpit penumpang lain ialah kejadian sehari-hari. Situasi yang tak jauh berbeda juga biasanya terjadi di kereta MRT, bus Trans Jakarta, atau transportasi umum lainnya seperti bus antar kota dan angkot.

Yang jelas, selain harus paham setiap arahan dan informasi dari KCI atau pihak transportasi lain yang berwenang, terkait langkah pencegahan COVID-19, kalian juga harus mawas diri alias peduli dengan kesehatan dan ketahanan tubuh sendiri sebelum benar-benar berbaur dengan penumpang lain.

Baca Juga: Jauh-jauh dari Orang Lain Efektif Memperlambat Penyebaran Virus Corona

Saat ini, dari data real time Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Jumat (13/03) pukul 15.00 WIB, menunjukkan Indonesia memiliki total 34 kasus positif COVID-19. Cina masih menjadi yang terbanyak dengan total 80.981 kasus, diikuti Italia dengan 15.113 kasus, dan Iran dengan 10.075 kasus.

Secara keseluruhan, ada total 132.567 kasus positif COVID-19 di seluruh dunia. Rinciannya adalah 4.947 yang meninggal dunia dan diperkirakan ada sekitar 70.395 orang (ini bukan jumlah pasti) yang berhasil sembuh.

Dengan jumlah yang ada sekarang, penyebaran COVID-19 perlu diantisipasi agar tak meluas dan masif. Bukan tak mungkin, tetesan cairan (droplet)—yang menjadi media paling umum untuk penularan virus corona—yang keluar melalui batuk dan bersin penderita COVID-19, akan menempel di beberapa bagian di dalam transportasi umum seperti pegangan tangan yang bergelantungan di kereta KRL, MRT dan bus Trans Jakarta, serta di tiang-tiang besi pegangan dan kursi.

Sekali lagi, masyarakat harus memperhatikan betul dan tau cara mencegah penularan virus corona saat berada di angkutan umum. Setidaknya ada beberapa langkah mudah yang disarankan WHO dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Apa saja itu? Yuk, coba mulai kita terapkan.

1. Jelas saja kalian harus rajin-rajin mencuci tangan menggunakan sabun paling lama minimal 45 detik. Ingat jangan asal cuci tangan ya, mesti bersih menyeluruh seperti menggosok sela-sela tangan, telapak tangan, hingga ujung-ujung jari agar bisa membersihkan tangan dari kotoran dan kuman.

Cuci tangan tentu menjadi langkah utama dan lebih efektif ketimbang hanya membersihkan tangan dengan hand sanitizer cairan pembunuh kuman.

2. Hindari menyentuh area wajah terutama mata, hidung, dan mulut dengan menggunakan tangan langsung. Sebab, tangan yang sudah dicuci dengan sabun sekalipun, masih kerap spontan menyentuh banyak benda yang bisa saja jadi sarang virus, apalagi di tempat umum yang tentu banyak disentuh orang lain juga.

Karena kalau kita sudah memegang benda di tempat umum, setelahnya besar kemungkinan bakal terkontaminasi virus tersebut. Lalu, tanpa disadari, tangan diam-diam menggaruk-garuk hidung, menyentuh mata, dan mulut, hingga virus bisa masuk ke tubuh dan bisa menyebabkan sakit.

Baca Juga: Amankah Berkencan di Tengah Pandemi Virus Corona?

3. Meski tengah berada di keramaian atau ruang publik, kalian juga harus bisa jaga jarak dengan orang di sekitar atau membatasi kontak langsung. Setidaknya jarak yang disarankan dengan orang lain itu kurang lebih satu meter. Terutama menjaga jarak dengan penumpang yang batuk atau bersin, karena mereka bakal mengeluarkan tetesan cairan (droplet) dari hidung atau mulut yang mungkin mengandung virus.

4. Nah, selanjutnya adalah soal etika saat batuk dan bersin di transportasi umum. Kalian harus paham bahwa setiap kali batuk maupun bersin, kalian sangat dianjurkan untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu yang bersih agar tak menyemburkan tetesan cairan (droplet) yang mengandung virus. Selain itu, bisa juga menutup mulut dengan bagian siku tangan untuk mencegah penularan virus.

5. Kalau kalian mulai merasakan kondisi badan tak enak saat berada di dalam transportasi umum, seperti demam, batuk, dan sulit bernapas, segeralah informasikan ke petugas terdekat, security, atau langsung ke perawatan medis untuk mendapatkan perawatan dan arahan terkait pemeriksaan lebih lanjut. Selanjutnya, kalau merasa badan masih belum sehat betul, lebih baik tetap istirahat di rumah sembari memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Yang terpenting juga jangan lupa untuk selalu menjaga daya tahan tubuh, dengan sering-sering mengonsumsi makanan bergizi seperti sayur dan buah. Lalu, memperbanyak minum air putih dan rutin berolahraga.

Tak hanya masyarakat saja yang harus patuh terhadap aturan saat berada di transportasi umum, para pengemudi angkutan umum juga harus paham apa saja yang mesti dilakukan terkait pencegahan penyebaran COVID-19.

Misalnya, pertama, pengemudi atau petugas terkait harus rajin melakukan pembersihan standar, baik itu kereta KRL, MRT, bus Trans Jakarta, angkot hingga bus antar kota, pada akhir setiap shift perjalanan, sebagai bagian dari praktik menjaga kebersihan angkuta umum.

Kedua, pengemudi atau petugas terkait juga harus proaktif ketika tahu ada penumpang yang menunjukkan gejala COVID-19—yang sebelumnya telah melakukan perjalanan melalui negara yang berisiko—untuk mengenakan masker. Ketiga, kalau ada penumpang yang mengalami batuk, bersin, atau bahkan muntah, petugas segera membersihkan permukaan dengan disinfektan sehingga potensi penyebaran infeksi dapat diminimalisir.