post

Current Affairs

Tinggalkan Chloroquine, Kini Deksametason Dinilai Ampuh Obati Pasien COVID-19

MM Ridho, 17 Juni 2020

Deksametason menjadi obat pertama yang terbukti dapat mencegah kematian akibat COVID-19. Steroid murah dan mudah didapat ini dianggap sebagai "terobosan besar" oleh para ilmuwan karena meningkatkan harapan hidup bagi ribuan pasien dengan gejala yang parah.

Penelitian klinis Randomised Evaluation of COVID-19 Therapy (Recovery) di Inggris, mengumumkan bahwa hasil uji coba Deksametason, yang biasa digunakan untuk mengurangi peradangan pada berbagai penyakit, mampu mengurangi tingkat kematian hingga sekitar sepertiga jumlah pasien COVID-19 dengan gejala yang akut.

Penelitian tersebut memilih 2.104 pasien secara acak untuk mengonsumsi 6 miligram deksametason sekali sehari selama 10 hari, baik ditelan atau injeksi intravena (suntik). Hasil mereka dibandingkan dengan 4.321 pasien yang dipilih secara acak dengan perawatan normal saja.

Selama 28 hari tanpa mengonsumsi obat tersebut, tingkat kematian ditemukan paling tinggi pada pasien yang perlu memakai ventilator (41%), sedang pada pasien yang hanya membutuhkan bantuan oksigen (25%), dan terendah di antara pasien yang paru-parunya bekerja dengan cukup baik (13%).

Dengan mengonsumsi Deksametason, terjadi penurunan jumlah kematian hingga sepertiga pasien dengan ventilator, dan seperlima pasien dengan bantuan oksigen. Sementara, tidak ditemukan perbedaan pada pasien yang tidak memerlukan bantuan untuk bernapas.

Hal ini lantas menyingkirkan chloroquine, obat malaria yang sebelumnya digunakan untuk mengobati pasien COVID-19 namun tidak menunjukkan adanya manfaat. Pada Senin (15/6), Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menangguhkan izin edar dan penggunaan hydroxychloroquine dan chloroquine untuk mengobati pasien COVID-19.

Profesor dari Universitas Oxford, Martin Landray, salah satu pemimpin penelitian di Recovery lantas merekomendasikan obat tersebut untuk menjadi standar perawatan pada pasien dengan kondisi yang parah. Selain itu, harganya yang ekonomis dinilai mampu memaksimalkan pemanfaatan bagi pencegahan kematian banyak pasien COVID-19.

"Ini akan menyelamatkan banyak nyawa, dan itu akan dilakukan dengan biaya yang sangat rendah," kata Landray.

"Mengingat bahwa dengan kurang dari 50 pounds (Rp880 ribu), anda dapat mengobati delapan pasien dan menyelamatkan hidup," tambahnya

Perdana Menteri UK, Boris Johnson memuji hasil penelitian tersebut. Dengan bangga, ia mendukung penggunaannya secara luas dan memastikannya tersedia di National Health Service (NHS). Ia juga mendorong para peneliti untuk menelitinya lagi secara lebih jauh dan mendalam, menimbang kasus COVID-19 yang masih terpantau besar.

"Hari ini, ada alasan tulus untuk merayakan pencapaian ilmiah British yang luar biasa, dan manfaatnya, tidak hanya di negara ini tetapi di seluruh dunia," katanya pada konferensi pers di Downing Street pada Selasa (16/6).

"Deksametason, sekarang dapat tersedia di seluruh NHS, dan kami telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan kami memiliki cukup persediaan, bahkan jika terjadi gelombang kedua," tambahnya.