Suporter Itu Mendukung, Bukan Membunuh

“Dalam sebuah klub sepakbola, terdapat sebuah trinitas suci: para pemain, manajer, dan suporter-suporternya,” ujar Bill Shankly, seorang yang berasal dari kampung pertambangan kecil di Skotlandia yang kini dikenang luas sebagai manajer klub asal Inggris, Liverpool F.C., paling berpengaruh. Di lapangan hijau, pemain beradu tekhnik, manajer memutar otak, dan suporter menjadi faktor pembeda. Sehebat dan semewah apapun sebuah tim sepakbola, ia bisa saja kalah oleh tim-tim gurem yang didukung suporter-suporter dengan sokongan gairah semangat tak henti sepanjang 90 menit pertandingan berjalan.

Pun akhirnya, sepakbola bukan olahraga semata. Ia bertransformasi menjadi gaya hidup, instrumen doktrin, dan identitas sosial para suporternya. Mereka bahkan bisa mengidentifikasikan diri dengan tim kesayangannya, dan menjunjunginya, bagai pemabuk yang tak sadar diri.

Sayangnya, di Indonesia rasa mabuk itu menghasilkan lebih dari sekedar kebisingan dan kata-kata racauan semata, namun juga sifat beringas dan kebiadaban. Sekitar tiga jam sebelum tendangan pertama laga Persib Bandung melawan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dilakukan, apa yang ditakutkan terjadi. Haringga Sirla, suporter Persija berusia 23 tahun, dikeroyok suporter-suporter Persib hingga tewas.

Ia dikerumuni dan dipukuli, tanpa ada seorang pun yang mencoba menghentikan, sampai bersimbah darah. Bahkan, terlihat anak-anak kecil yang usianya belasan, atau bahkan lebih muda lagi, hadir di baris terdepan dalam kekejaman tersebut. Memang, sudah ada himbauan resmi bagi suporter Persija untuk tidak datang ke GBLA mengingat tensi tinggi dan riwayat buruk kedua kubu suporter, namun, seharusnya tidak boleh ada tuan rumah yang sampai sebegitu tega menghilangkan nyawa tamunya sendiri.

Saat tulisan ini dibuat, polisi telah berhasil menangkap 16 orang terduga pelaku penganiayaan, dan 8 diantaranya ditetapkan sebagai tersangka. Mereka yang diciduk seharusnya akan bertambah mengingat ramainya kerumunan bengis yang terekam kamera kala penganiayaan itu terjadi. Saya meyakini, ada dua tipe orang dalam kerumunan tersebut. Pertama, yang mengamini “mental kerumunan” sebagai alasan dan dalih keberanian mereka untuk ikut-ikutan beraksi tanpa memikirkan konsekuensi baliknya. Dan kedua, orang-orang yang sadar bahwa tindakan itu salah namun enggan melerai karena rasa takut ikut dihakimi.

Suporter sepakbola, khususnya di Indonesia, memang adalah entitas yang pongah dan mudah terhasut. Apa yang dikenal dengan banter, olok-olok dan saling ejek usil di antara suporter-suporter, lebih sering ditanggapi bukan sebagai bagian dari permainan, namun ancaman dan konfrontasi nyata yang harus diladeni sampai bertaruh nyawa.

Bentrokan fisik suporter pun kadang dianggap, yang menurut saya menjijikkan, sebagai kemakluman. Lebih jauh, mereka bahkan merasa jumawa bagai tentara berseragam yang baru pulang dari medan perang kala luapan emosinya tumpah dengan cara-cara anarkis. Mengapa semua hal-hal barbar itu bisa terjadi? Beberapa faktor, seperti rendahnya tingkat pendidikan, kemelaratan ekonomi, dan faktor salah urus dalam internal keluarga tiap-tiap pribadi suporter menjadi sekian hal yang bisa ditelaah.

Poin terakhir dapat dilihat dari kian banyaknya suporter berusia anak-anak dan remaja yang terang-terangan ikut-ikutan menyanyikan chant bernada kasar dan menikmati euforia rusuh. Tentu mereka meniru senior-senior mereka di stadion yang terkadang kebablasan dalam mendukung tim kesayangannya sehingga tidak bisa mengatur agresivitasnya. Hal ini bukan hanya buruk bagi pendidikan suporter di Indonesia, namun juga bagi regenerasi mentalitas kolektif regenerasi pemuda Indonesia secara keseluruhan.                         

Yang dikatakan oleh Bill Shankly sebenarnya masih ada lanjutannya: “Jajaran direksi (di klub sepakbola) tidak termasuk (trinitas suci). Mereka ada di sana hanya untuk menandatangani cek,” sebutnya. Ia secara tersurat menyebut bahwa para pengurus klub lebih mementingkan profit dari industri sepakbola dan cenderung tak peduli pada hasrat dan gairahnya. Kata-kata ini mungkin sudah agak meleset apabila diletakkan dalam konteks sepakbola Inggris kontemporer, namun masih relevan di Indonesia.

Tercatat sudah 7 nyawa suporter melayang sejak 2012 akibat rivalitas Persija-Persib, namun  pengurus-pengurus klub seakan abai melakukan pembenahan serius. Mungkin mereka masih melihat suporter sebagai komponen pemasukan pundi-pundi keuangan klub semata alih-alih sekelompok manusia dengan faktor-faktor kedinamisan psikologisnya. Asumsi yang sama juga dapat ditujukan pada pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), yang kebecusannya kian mengecewakan, mulai dari pejabat-pejabatnya sampai para pelaku tekhnis di lapangan. PSSI belum terlihat sebagai organisasi profesional, dan mungkin tidak akan pernah. Ia perlu direformasi besar-besaran.

Dan harus diingat pula bahwa benturan antar suporter ini sudah melewati batas-batas konflik olahraga semata, namun juga sosial-masyarakat. Orang-orang Jakarta yang bukan suporter kerap dicurigai dan menjadi target persekusi liar oleh suporter-suporter Persib di Bandung, begitu pula sebaliknya. Coba tanya saja pendapat orang awam terhadap suporter-suporter klub Indonesia, saya yakin banyak dari mereka memberikan sentimen negatif.

Lantas, apa solusi ke depannya untuk menghindari tragedi-tragedi serupa?

Saya tidak setuju jika kompetisi sepakbola di Indonesia harus ditiadakan, karena itu seperti melepas tanggung jawab. Jelasnya, kedua klub harus diberi hukuman berat untuk memutus mata rantai berdarah di antara mereka, baik itu larangan bertanding tanpa penonton dalam jangka waktu lama, atau bahkan pembekuan. Suporter-suporternya harus sadar diri untuk menanggalkan atribut-atribut mereka yang memprovokasi, baik saat maupun di luar pertandingan,serta membuang jauh-jauh pikiran-pikiran busuk yang menggambarkan rivalitas sebagai dalih untuk memulai pertengkaran.

Esensi dari suporter sepakbola itu mendukung, bukan membunuh. Satu-satunya hal yang harus dilenyapkan seorang suporter adalah semangat pemain dan suporter lawan, bukan nyawa.

Rahadian Rundjan adalah penulis yang memiliki minat pada bidang sejarah.

Related Article