Solusi Macet Jakarta Lebih Baik dari Mumbai

"Tom Tom Traffic Index" menyebutkan bahwa tingkat kemacetan di Jakarta mencapai 53%. Penurunan 8% dibandingkan tahun sebelumnya itu merupakan yang terbesar di seluruh dunia.

Dalam klasemen Tom Tom, Jakarta menempati peringkat ketujuh dalam hal kemacetan. Kendati masih tinggi, telah ada perbaikan signifikan: sebelumnya Jakarta duduk di peringkat keempat. Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengungkapkan bahwa penurunan tersebut adalah buah kebijakan gubernur bersama Pemprov DKI Jakarta.

Dalam keterangan Pemprov DKI, ada delapan kebijakan yang mengurai kemacetan di Jakarta, di antaranya: penutupan pelintasan sebidang kereta api, perancangan ulang Jalan Thamrin dan Sudirman, program Jak Lingko, dan pembukaan rute-rute baru Transjakarta.

Sigit berharap, kemacetan Jakarta akan berkurang lebih banyak lagi pada 2019. "MRT sudah beroperasi, disusul dengan LRT, dan integrasi angkutan umum dalam program Jak Lingko bersama Transjakarta sudah berjalan,” ujarnya.

Mumbai Masih yang Tertinggi, Transportasi Publik Belum Menjadi Pilihan

Keberhasilan yang dicapai Jakarta tak dialami Mumbai, yang kembali menyandang gelar sebagai kota termacet di seluruh dunia. Mumbai mencatatkan persentase kemacetan sebesar 65%. Kota metropolitan di India ini hanya berhasil menurunkan tingkat kemacetannya sebesar 1% dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data, kemacetan Mumbai paling besar terjadi di jalan-jalan non-tol, dengan persentase kemacetan mencapai 73%.

Kemacetan di Mumbai memang luar biasa. Apa sebabnya? Pada akhir 2017, ada data yang mencengangkan: setiap hari, 700 kendaraan baru terdaftar di kota itu. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, kendaraan baru yang terdaftar hanya 461 unit per hari. Yang memperburuk kondisi ini adalah luas jalanan yang tak banyak berubah. Kehadiran Metro sebagai transportasi publik sejak 2014 juga tidak membuat masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Satu solusi baru yang diperkenalkan oleh kepolisian Mumbai pada akhir 2018 adalah Intelligent Traffic Management System (ITMS). Mereka menyatakan ITMS akan diletakkan di 617 simpang di seluruh kota dan berharap instrumen itu sanggup memecah kemacetan di seluruh penjuru kota.

“Membangun ITMS dirasa menjadi sebuah kebutuhan, yang diharapkan dapat memperbaiki efisiensi dan keefektifan lalu lintas di jalan-jalan kota Mumbai,” ujar Amitesh Kumar, komisioner bersama polisi Mumbai.

Dalam program ITMS ini, banyak fitur-fitur yang diharapkan dapat menjadi solusi kemacetan kota Mumbai. Fitur-fitur tersebut seperti 4.705 sinyal lalu lintas baru, 300 kamera pendeteksi pelanggaran lampu lalu lintas, 925 kamera pendeteksi plat nomor kendaraan, 300 kamera mengidentifikasi kendaraan melawan arus, dan 300 kamera pendeteksi pelanggaran parkir. Meski tidak dapat langsung mengurai keruwetan jalanan Mumbai, kepolisian berharap ITMS dapat membantu polisi mengawasi kendaraan-kendaraan yang memperparah kemacetan dengan melanggar peraturan lalu lintas.

Related Article