post

Current Affairs

Social Distancing Harus Diterapkan Sampai 2022

Raka Ibrahim, 18 April 2020

Kita tidak akan kembali ke keadaan “normal” untuk waktu yang sangat, sangat lama. Riset terbaru dari Harvard University T.H Chan School of Public Health menyatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, ada kemungkinan kebijakan social distancing wajib dilakukan secara berkala hingga 2022. Bila tidak, pandemi COVID-19 dapat membunuh jutaan orang.

Jangan panik atau berkecil hati, sebab yang mereka maksud bukan seluruh dunia harus di-lockdown total selama dua tahun ke depan. Riset tersebut, yang diterbitkan di jurnal Science, menyatakan bahwa ada indikasi pandemi COVID-19 punya kemiripan dengan wabah Coronavirus yang sudah-sudah. Bila benar demikian, pandemi akan bertambah parah, lantas surut secara berkala sampai vaksin ditemukan atau herd immunity tercapai. Singkatnya, pandemi ini jadi pandemi musiman.

Ada dua hal yang perlu kita pahami baik-baik sebelum temuan ini kita bicarakan lebih jauh. Pertama, kita belum tahu segalanya tentang virus ini. Kita harus terus-menerus beradaptasi. Kedua, prediksi ilmuwan mana pun tentang kapan pandemi akan reda dan kambuh sangat bergantung pada faktor-faktor seperti seberapa efektifnya kebijakan lockdown, seberapa kuatnya infrastruktur kesehatan di suatu wilayah, dan seberapa cekatan aparat melakukan contact tracing alias melacak orang-orang yang bersinggungan dengan pasien positif.

Maka, perkiraan Harvard School of Public Health bukan harga mati. Ia didasarkan pada hal-hal yang kita ketahui sekarang tentang virus SARS-CoV-2 dan upaya penanganan saat ini terhadap pandemi tersebut. Bila kita mendapat pengetahuan baru, ada terobosan dalam peracikan vaksin, atau praktik penanggulangan pandemi yang terbukti ampuh diterapkan secara masif, urusan dapat berubah.

Salah satu faktor yang penting diketahui adalah seberapa miripnya virus SARS-CoV-2 dengan virus lain dari famili Coronavirus seperti HKU1 dan OC43. Bila ternyata virus SARS-CoV-2 serupa dengan HKU1 dan OC43, pandemi ini harusnya mereda di musim panas--walau tidak berhenti sepenuhnya. Namun, bila demikian, maka besar kemungkinan pandemi tersebut akan kambuh lagi pada bulan-bulan musim dingin. Bahkan, mereka memprediksi bahwa ada kemungkinan pandemi ini akan “kambuh” tiap musim dingin tiba.

Persoalan lainnya adalah: apakah orang yang pernah kena virus jenis Corona lainnya jadi kebal terhadap SARS-CoV-2? Dan bila iya, seberapa lama kekebalan tersebut dapat bertahan? Riset terhadap virus yang menyebabkan pandemi SARS di 2003, misalnya, menunjukkan bahwa orang yang sudah pernah kena SARS akan memiliki antibodi yang bikin dirinya “kebal” SARS selama setidaknya dua tahun. Pada tahun ketiga, mereka dapat terpapar SARS lagi.

Berhubung virus penyebab pandemi SARS satu famili dengan virus penyebab pandemi COVID-19, apakah orang yang “sembuh” dari COVID-19 punya “kekebalan” serupa? Bila iya, berapa lama mereka “kebal”? Misalnya ternyata bekas pasien COVID-19 “kebal” selama dua tahun. Apakah dalam jeda waktu dua tahun tersebut, sudah ada vaksin COVID-19 yang berhasil dikembangkan, diproduksi, dan disebarluaskan? Bila iya, maka kita selamat. Bila tidak, siap-siap menghadapi pandemi lagi.

Hal inilah yang dikhawatirkan oleh para periset. Bila ternyata orang yang pernah kena virus Corona bisa kebal terhadap virus SARS-CoV-2, pandemi dapat mereda (reda lho, bukan berhenti) sebelum kembali berkobar sekitar 2024. Namun jika imunitas terhadap SARS-CoV-2 bertahan lebih lama, ada kemungkinan pandemi ini akan reda sepenuhnya pada tahun 2025. Namun, menurut mereka, skenario terakhir ini sukar terwujud.

Nah, kita akhirnya tiba pada poin terpenting dari artikel ini. Sampai kapan social distancing harus dilakukan supaya pandemi ini sungguh-sungguh reda?

Pertama, jangan bayangkan bahwa setelah ronde pertama social distancing ini beres semuanya akan kembali seperti sediakala. Bila social distancing hanya dilakukan sekali, maka upaya tersebut tak efektif untuk menghentikan laju penyebaran virus. Menurut periset di Imperial College London, lockdown atau kebijakan social distancing harus dilakukan secara berkala dan bersifat buka-tutup.

Ronde pertama lockdown, menurut mereka, dapat berlangsung sekitar lima bulan. Setelah itu, selama beberapa bulan pemerintah boleh agak melonggarkan aturan pembatasan sosial. Kemudian, sekitar akhir September 2020, lockdown ronde kedua harus dilakukan lagi. Menurut Irwin Redlener, pakar pandemi dari Columbia University, lockdown ini bersifat siklus dan harus dilakukan dalam “fase yang berlangsung selama 5-6 bulan sekali.”

Tiap wilayah dapat menimbang kapan lockdown dapat dilonggarkan dan diketatkan kembali berdasarkan data peningkatan kasus positif COVID-19. Ketika jumlah pasien positif konsisten menurun, pembatasan sosial dapat dilonggarkan secara perlahan. Saat mulai naik lagi, pembatasan sosial harus kembali diterapkan. Begitu terus sampai vaksin ditemukan, herd immunity tercapai, ditemukan metode medis yang dapat mengobati pasien COVID-19, atau meteor jatuh membumihanguskan planet.

Tentu kita tidak mungkin tinggal diam selagi menunggu pandemi usai. Virus ini tidak akan hilang secara ajaib. Menurut riset Imperial College London, pemerintah tetap harus menyelenggarakan tes yang menjangkau sebanyak-banyaknya penduduk; memperkuat infrastruktur kesehatan masyarakat; dan melacak serta mengkarantina pasien-pasien positif COVID-19 sebelum mereka dapat menyebar ke lebih banyak orang.

Lebih dari apapun, pemerintah harus memberikan tunjangan kepada masyarakat untuk menjaga kesejahteraan publik. Pemerintah mesti memandang pandemi ini sebagai skenario bencana alam, di mana setiap orang membutuhkan bantuan segera, ketimbang memandang kondisi ini sebagai kondisi kemerosotan ekonomi belaka. Bila bantuan ini tak segera dilakukan, jutaan pekerja informal terpaksa tetap turun ke lapangan dan berisiko memperparah persebaran virus.

Seperti dilansir Buzzfeed News, epidemiolog Caitlin Rivers menyatakan bahwa dunia mesti berhenti membayangkan bahwa pandemi ini akan reda begitu saja dalam kurun waktu beberapa bulan. “Jika kita merasa pandemi ini hanya akan mengancam kita selama dua pekan ke depan, kita akan mengambil keputusan jangka pendek,” tuturnya. “Namun kita harus mulai menerima bahwa ancaman ini akan tetap ada selama berbulan-bulan ke depan.”

Singkatnya, kata Rivers, kita harus berpikir jangka panjang dan mulai menerima bahwa inilah normal yang baru.