Semua tentang Cinta

Berbicara tentang cinta memang tidak ada habisnya. Cinta sebagai suatu peristiwa dialami oleh setiap manusia semasa hidupnya. Meskipun pengalamannya berbeda-beda, kita tahu bahwa yang kita rasakan itu adalah cinta. Dalam obrolan sehari-hari, kita bisa bercerita secara gamblang kepada siapa kita jatuh cinta, mengapa kita mencintainya, dan seperti apa wujud ungkapan cinta kita kepada orang tersebut. Akan tetapi, kita seolah kehabisan kata-kata ketika ditanya hal paling mendasar dari cinta itu sendiri: apa itu cinta? 

Sampai detik ini, tidak ada kata sepakat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang beralasan bahwa cinta hanya bisa dirasakan dan ditunjukkan lewat tindakan, tetapi tidak bisa dipahami apalagi didefinisikan. Pandangan ini memosisikan cinta berseberangan dengan logika. Mereka menganggap cinta sebagai peristiwa di luar nalar manusia layaknya pengalaman supernatural. Ada juga yang berusaha mendefinisikan cinta berdasarkan nilai-nilai ideal. Cinta menurut mereka adalah perasaan yang abadi, kekuatan yang mengalahkan segalanya dan pemersatu yang berbeda. Tapi, apakah jawaban itu menunjukkan bahwa kita benar-benar sudah memahami cinta? Kalau memang benar adanya, maka seharusnya tidak ada lagi manusia yang merasakan sakitnya putus cinta. 

Buaian Janji Cinta Romantis

Ada banyak kisah cinta dalam hidup kita, baik yang bersumber dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Kisahnya kira-kira begini: ada dua insan yang jatuh cinta, kemudian mereka menjalin relasi yang lebih dekat sebagai kekasih, selang beberapa waktu kemudian mereka menikah dan memiliki anak. Ketika kisah ini diangkat ke layar kaca biasanya ada narasi yang menyimpulkan bahwa mereka hidup bahagia selamanya setelah menikah, happily ever after katanya. Saking umumnya, tanpa sadar kita menjalani hidup dengan mengikuti skenario roman itu. Adalah suatu kewajaran ketika pasangan yang saling mencintai memutuskan untuk menikah karena itulah bukti ‘keseriusan’ dan ‘kedewasaan’ cinta mereka. Sebaliknya, jika ada sepasang kekasih yang belum atau tidak ingin menikah, maka itu menunjukkan bahwa cinta mereka ‘main-main’ saja. 

Inilah apa yang disebut Sigmund Freud (2007) sebagai cinta romantis. Dalam pandangan cinta romantis, cinta telah tercapai, lengkap, dan selesai dengan berlangsungnya pernikahan. Penyatuan dua insan dalam ikatan legal di hadapan negara dan atau agama menjadi garis akhir dari kebanyakan relasi cinta romantis. Berdasarkan anggapan tersebut, kalau ada pasangan yang saling mencintai tetapi belum menikah, itu artinya kisah cinta mereka belum tuntas. Cepat atau lambat orang-orang terdekat mereka akan bertanya “Kapan kalian nikah?” Menikah pun jadi terasa seperti PR yang mau tidak mau dikerjakan supaya tidak diomeli guru. Lagian capek juga kan kalau ditagih-tagih melulu!

Cinta seringkali dilihat dari wujudnya yang tunggal melalui logika dua menjadi satu dan singularitas objek cinta. Pertama, tahapan penting dalam relasi manusia ditandai dalam bentuk penyatuan. Dua orang yang saling mencintai bersatu sebagai kekasih pada tahap pacaran dan dipersatukan kembali secara resmi dalam tahap pernikahan. Setiap momen penyatuan dalam relasi manusia dipandang sebagai pencapaian yang perlu dirayakan secara spesial. Traktiran jadian, peringatan tanggal jadian setiap bulan maupun tahun, seremoni pernikahan, dan peringatan wedding anniversary adalah contoh bagaimana kita merayakan pencapaian cinta dalam hidup kita.

Kedua, cinta yang berorientasi pada objek tunggal seperti dalam ungkapan legendaris “Kamulah satu-satunya.” Tidak ada yang salah dengan ungkapan tersebut, tapi sebelum mengumandangkannya di hadapan orang yang kita cintai, ada baiknya kita meninjau kecenderungan manusia dalam mencintai. Cinta menurut Plato (2006) hadir dalam tujuh bentuk yaitu eros (cinta seksual), philia (cinta persahabatan), storge (cinta keluarga), agape (cinta kepada Tuhan dan alam), ludus (cinta tanpa komitmen), pragma (cinta jangka panjang), dan philautia (cinta pada diri sendiri). Perlu diketahui bahwa ada lebih dari satu bentuk cinta di dunia ini dan manusia memiliki kemampuan untuk merasakan lebih dari satu cinta. 

Realitanya, kita dapat mencintai banyak objek secara bersamaan: saya mencintai partner saya, orang tua saya, teman baik saya, pekerjaan saya, hunian saya, bahkan diri saya sendiri. Ini menunjukkan bahwa monolitik bukanlah cara manusia mencintai. Seiring berjalannya waktu, objek cinta bertambah dan kita tidak pernah kehabisan cinta. Manusia memiliki daya yang besar untuk mencintai dan hal ini tidak ada kaitannya dengan kapasitas hati menampung objek cinta itu sendiri. Oleh karena itu, ungkapan “Kamulah cintaku satu-satunya” mungkin perlu dilengkapi dengan keterangan waktu “…untuk saat ini, gak tau nanti” dan bagi yang mendengarnya, janganlah diterima mentah-mentah kalau tak ingin kecewa.

Belaian Mesra Cinta Erotis

Tidak dapat dipungkiri bahwa konsep cinta berkelindan dengan seksualitas. Dalam relasi arus utama, cinta kerapkali diawali dengan ketertarikan seksual dan diwujudkan melalui interaksi seksual. Inilah yang disebut Eric Fromm dalam bukunya The Art of Loving (2006) sebagai cinta erotis. Ketertarikan seksual menjadi basis hubungan antar individu yang mendorong keduanya untuk mengikatkan diri ke jenjang cinta yang lebih ‘serius’, yaitu relasi eksklusif monogami. Setelah ikatan terbentuk, interaksi seksual dalam relasi pun menjadi sah untuk dilakukan. Masyarakat kemudian membentuk norma untuk mengatur kadar interaksi seksual dalam relasi cinta. Misal, pada tahap pacaran berpegangan tangan, merangkul tubuh, dan berciuman adalah aktivitas yang lumrah dilakukan. Tetapi khusus untuk hubungan seksual hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Seksualitas menjadi titik awal sekaligus tujuan akhir relasi cinta erotis.

Cinta, dalam pemahamannya yang paling sempit, seringkali disamakan dengan seks. Dalam kosakata sehari-hari, cinta sebagai kata kerja (bercinta) diartikan sebagai kegiatan seksual (hubungan seks). Di sini kita melihat bagaimana logika intimasi bekerja dalam relasi erotis, yaitu dengan menjadikan hubungan seksual sebagai bukti cinta. Tak heran jika muncul anggapan bahwa cinta tidak ada artinya tanpa hubungan seks. Hasrat seksual yang mendasari cinta pada akhirnya justru mengaburkan makna cinta itu sendiri, menyederhanakannya menjadi sekadar pengalaman seksual.

Dalam pandangan cinta erotis, pernikahan menjadi gagasan yang ‘menggoda’ karena melalui institusi tersebut cinta dan hasrat seksual dilegitimasi. Pernikahan terjadi karena cinta dan atas dasar keduanyalah hubungan seksual menjadi wajar untuk dilakukan. Sayangnya, keleluasaan menyalurkan hasrat seksual dalam pernikahan bukanlah bebas konsekuensi karena hubungan seksual yang dianggap ‘benar’ di mata negara dan agama adalah yang bertujuan untuk reproduksi. Logika reproduksi dalam pernikahan memaksa cinta mewujud dalam bentuk anak (buah cinta). Menikah dan punya anak pun menjadi skenario roman berikutnya yang diikuti manusia secara ‘alamiah’, tapi kali ini lengkap dengan ‘bumbu-bumbu’ erotisnya. 

Mengapa orang suka bertanya “Kapan punya momongan” kepada pasangan yang sudah menikah? Karena menurut pandangan umum pernikahan tanpa anak menandakan kurangnya atau bahkan ketiadaan cinta dalam hubungan suami-istri. Sederhananya, suami-istri tanpa anak menandakan ranjang pernikahan yang kurang hangat. Melalui pandangan serupa, kita dapat mencermati bagaimana logika intimasi dan reproduksi bersemayam dan beroperasi secara efektif dalam lembaga pernikahan. Kita menikah untuk membuktikan keseriusan cinta dan sekaligus untuk menyalurkan hasrat seksual tanpa perasaan ketar-ketir. Tanpa sadar, kita memperlakukan cinta layaknya ijazah yang perlu dilegalisir untuk membuktikan keasliannya. 

Bebas dari Jeruji Cinta Ideal

Cinta yang dipahami masyarakat arus utama selama ini adalah seputar penerimaan tanpa syarat dari pasangan, kerelaan untuk berkorban banyak hal, kasih sayang yang mengalir deras, gairah yang menggebu-gebu, seks yang hangat, dan pernikahan yang bahagia sampai maut memisahkan. Cinta romantis membuat setiap pasangan meyakini bahwa dunia hanya milik mereka berdua dan cinta erotis mengarahkan dunia mereka untuk mengorbit ranjang intimasi. Pertanyaannya, apakah cinta memang hanya sebatas itu? Tidak mungkinkah ada versi cinta yang lain?

Kalau saja kita mau membebaskan pikiran dari kungkungan nilai-nilai romantis dan erotis, kita akan menemukan rupa-rupa cinta di luar sana. Simone de Beauvoir (2010) mengungkapkan bahwa cinta yang autentik harus didasarkan pada pengakuan timbal balik atas kebebasan kedua belah pihak. Konsep cinta yang membebaskan ini senada dengan yang diungkapkan Shulamith Firestone (2003) bahwa cinta antara dua orang yang setara akan memperkaya karena setiap orang saling mengembangkan dirinya melalui yang lain. Eva Illouz dalam bukunya Why Love Hurts: A Sociological Explanation (2012) juga menyatakan bahwa cinta berdasarkan emosi bersandar pada kekuatan fantasi, pengabaian diri, dan reaksi emosional, sedangkan cinta yang mengandalkan rasionalitas akan bersandar pada regulasi diri dan pilihan optimal. Rasionalitas memunculkan kebebasan memilih cinta yang didasari oleh kesetaraan dan hubungan timbal balik, dua hal yang selama ini luput dari pandangan cinta emosional romantis.

Pandangan alternatif tentang cinta yang diungkapkan tokoh-tokoh tersebut melampaui penyatuan dua individu yang berbeda dan juga bukan pengesahan atas seks semata. Di tengah konsep cinta yang mengikat, monogami, dan melayani, cinta yang membebaskan bukanlah pemahaman yang mudah diterima. Pengerdilan terhadap konsep cinta yang membebaskan bisa menjebak kita dalam persepsi relasi terbuka (open relationship), seolah kita bisa menebar cinta semau kita, sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya. Sesungguhnya yang perlu dibebaskan terlebih dulu adalah pemahaman kita tentang cinta kemudian barulah kita mengupayakan cinta secara emosional dan rasional.

Cinta bukan pertandingan maraton dengan garis start dan finish yang jelas, tetap, dan berlaku sama bagi semua orang. Kita mati-matian membuktikan cinta kepada pasangan dan sibuk mempertontonkan cinta romantis yang harmonis kepada orang lain. Memaksakan relasi cinta dalam logika kompetisi (pencapaian, pembuktian, dan perayaan) seperti itu sejatinya sungguh melelahkan. Kita menjadi lupa untuk membebaskan diri dalam mengalami cinta karena kita terbiasa mengikat diri pada standar-standar cinta arus utama. Padahal, cinta romantis dan erotis bukanlah untuk semua orang. 

Di luar sana masih ada cinta yang bagi banyak orang tidak umum, tidak dapat diterima, dan menyimpang dari nilai-nilai ideal. Tapi apapun rupa dan pengalamannya, sejak awal kita sudah sepakat kan kalau yang kita rasakan itu adalah cinta? Apa itu cinta sepertinya akan menjadi pertanyaan dengan jawaban yang cair sepanjang masa. Mungkin itulah yang abadi dan satu-satunya dari cinta. 

 

Referensi

Beauvoir, S. d. (2010). The Second Sex. New York: Vintage Classics.

Firestone, S. (2003). The Dialectic of Sex: The Case of Feminist Revolution. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Freud, S. (2007). The Psychology of Love. London: Penguin Classics.

Fromm, E. (2006). The Art of Loving. New York: Harper Perennial Modern Classics.

Illouz, E. (2012). Why Love Hurts: A Sociological Explanation. London: Polity Press.

Plato. (2006). Plato: On Love. Cambridge: Hackett Publishing Company Inc.

 

Nicky Stephani. Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang. Suka mencermati, mengkaji, dan menulis tema gender dan seksualitas di waktu luangnya.

Related Article