Sekali Lagi Tentang Toleransi

Toleransi itu artinya membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak-pihak lain, khususnya mereka yang kalah secara jumlah ataupun posisi sosialnya, untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan menjalani hidup yang sama dalam sebuah ekosistem yang saling menguntungkan, atau setidak-tidaknya, tidak saling menimbulkan konflik. Hal tersebut sejatinya gagasan yang mudah dipahami dan dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kadar rasa cinta di hati. Sayangnya, toleransi di Indonesia cenderung menjadi kata-kata manis di mulut semata dan kerap absen dalam perbuatan.

Kini, babakan terbaru dari narasi intolerasi di Indonesia datang dari Kotagede, Yogyakarta, kota bermayoritaskan Muslim yang di masa lampau tersohor sebagai ibukota dari Kesultanan Mataram. Dikabarkan bahwa nisan salib makam seorang warga Kristiani di daerah Purbayan dipotong warga setempat. Alasannya, karena pemakaman tersebut dianggap sebagai pemakaman mayoritas Muslim sehingga atribut-atribut agama lain tidak layak berada di sana. Padahal, pemakaman yang dimaksud adalah pemakaman umum.

Keluarga almarhum memang sudah mengeluarkan pernyataan di atas materai bahwa ia tidak apa-apa mendapatkan perlakuan seperti itu. Namun, janggal rasanya bila menganggap penerimaan itu benar-benar hadir dari kerendahan hati. Sebagaimana dalam banyak kasus persekusi terhadap kelompok-kelompok minoritas di Indonesia, kesepakatan untuk ‘menurut’ terhadap kehendak-kehendak kelompok mayoritas cenderung hadir dalam tekanan, bahkan ancaman.

Setidaknya kasus pemotongan salib di Kotagede tidak sampai menimbulkan pertumpahan darah, walau kasus itu sendiri sudah sangat mengkhawatirkan dan meyakinkan kita semua bahwa kadar darurat toleransi di Indonesia kian hari kian membahayakan. Di Gowa, Makassar, dikabarkan pula bahwa sekelompok warga dengan kejinya membantai seorang pemuda di dalam masjid. Bahkan, toa masjid yang semestinya menyerukan lantunan suci itu dipakai sebagai alat provokasi untuk memanggil orang-orang yang kemudian dengan sadis menghabisi nyawa korban.

Perasaan buruk sangka terhadap orang-orang yang dianggap berbeda baik rupa maupun keyakinan, ketakutan-ketakutan terhadap hal-hal yang dikhayal-khayalkan sebagai kekuatan yang akan menggerus iman, dan juga arogansi akibat merasa sebagai bagian dari mayoritas (baik agama maupun etnis), adalah resep manjur intoleransi dan alasan-alasan utama mengapa kelompok mayoritas Islam Indonesia kerap mencoreng nama baiknya sendiri.

Rasanya sungguh ironis jika melihat agama justru menghadirkan masalah-masalah kemanusiaan. Memang, kasus-kasus intoleransi tidak bisa dijadikan bahan generalisasi bahwa semua orang Indonesia seperti itu. Namun kita semua harus mengakui bahwa Indonesia tengah sakit. Indonesia itu seperti manusia. Jika dari luar perawakannya terlihat segar bugar dan prima, namun jika paru-parunya bermasalah, tetap saja ia dianggap sedang sakit. Intoleransi inilah bakteri yang tengah menyerang paru-paru Indonesia.

Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur, dalam cuitannya yang merespon kasus pemotongan salib di Kotagede. Menurutnya, nilai-nilai intoleransi kini tidak lagi hanya menjadi kasus-kasus terpisah semata, tetapi sudah menjadi norma dalam masyarakat. Bertindak semena-mena terhadap orang-orang yang berbeda ras, agama, bahkan pandangan politik, atas nama mayoritarianisme seakan-akan sudah menjadi hal yang wajar.

Apakah ini hanya bentuk sebuah keluguan yang mengerikan? Jelasnya, tahun politik yang kian panas sekarang ini memperlihatkan bahwa gerakan dengan dalih embel-embel mayoritas yang kental merupakan tunggangan jitu bagi para politisi untuk mewujudkan ambisi mereka. Alhasil, politik identitas pun kian subur di Indonesia. Kata ‘umat’ dicatut sedemikian rupa apabila ada kejadian-kejadian yang mereka anggap, secara serampangan, meresahkan.

Lihat saja, pasti kasus pemotongan salib tersebut akan berakhir dalam kesunyian, tanpa pengerahan massa dan pembelaan-pembelaan terhadap soal-soal penistaan agama. Masalah pembunuhan di masjid tersebut juga rasanya akan sama saja, sebagaimana diamnya mereka kala mengetahui seorang bupati Cianjur melakukan transaksi korupsi di masjid.

Masalah intoleransi ini bukan hanya masalah di tatanan akar rumput. Terkadang ia mendapatkan persetujuan dari aparatur pemerintah, yang entah memang sedari awal mendukung nilai-nilai intoleransi di daerahnya atau terlalu takut untuk melawan kehendak massa. Negara harusnya hadir sebagai penegak hukum yang handal, khususnya dalam melindungi hak-hak kaum minoritas Indonesia; setidaknya di masa-masa sekarang ini kala euforia mayoritarianisme tengah bergema keras.

Dahulu, Sukarno berkali-kali berpesan kepada rakyatnya bahwa Pancasila adalah hasil kompromi yang tak dapat diganggu gugat, khususnya dalam merespon masalah-masalah intoleransi. Baginya, orang-orang Kristen tidak ingin Indonesia merdeka hanya untuk sekadar menjadi minoritas dalam hal kedudukannya sebagai warga negara Republik Indonesia. Kewarganegaraan jauh lebih penting daripada sekedar identitas keagamaan. Pandangan ini kemudian dipraktikkan secara ekstrem oleh Orde Baru yang secara berlebihan menundukkan kelompok-kelompok agama. Seharusnya,di  masa reformasi ini sudah ada kebijakan yang lebih baik dari dua era tersebut.

Menyelesaikan masalah intoleransi adalah pekerjaan rumah yang rumit, dan tidak akan selesai dalam satu atau dua malam. Pun andaikan saat ini telah ditemukan formula pendidikan yang tepat untuk itu, hasilnya pastilah baru akan terlihat jauh kemudian, bahkan mungkin di generasi mendatang. Jika orang-orang dewasa sudah terlalu bebal untuk belajar bertoleransi, karena mungkin mereka dibesarkan oleh orang tua dan lingkungan yang memang intoleran, maka tinggal kepada generasi mendatanglah harapan itu ditautkan.

Toleransi bukan berarti menempatkan mayoritas atau minoritas dalam kedudukan yang mengungguli satu sama lain. Toleransi adalah keseimbangan dan kesejajaran. Yang banyak tidak selalu menjadi yang menang. Karena itulah, kerja sama dan saling pengertian sebagai sesama orang Indonesia menjadi kunci bagi kita semua untuk menatap tantangan-tantangan yang lebih besar lagi, bukan hanya sekedar bertengkar di antara kita sendiri.

Rahadian Rundjan adalah penulis yang menggemari sejarah, sains, dan budaya populer. Dapat dihubungi di @rahadianrundjan.

Related Article