Sanggupkah Indonesia Memenuhi Kebutuhan Rakyat dalam Karantina Wilayah?

Presiden Joko Widodo mengambil langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna menekan penyebaran pandemi COVID-19. Kebijakan itu di luar perkiraan orang kebanyakan, lantaran banyak desakan agar pemerintah menerapkan karantina wilayah atau lockdown.

Perbedaan terbesar PSBB dari karantina wilayah adalah ketiadaan kewajiban pemerintah pusat memenuhi kebutuhan rakyat. Maka, orang pun bertanya-tanya, apakah ini berarti negara tak sanggup?

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri, dalam gelar wicara online “Indonesia dan Dunia Setelah Corona” di kanal YouTube Asumsi.co, Selasa (31/03/20), mengatakan Indonesia sesungguhnya mampu membiayai lockdown. “Waktu krisis finansial global, kita mampu menghabiskan 650 triliun rupiah untuk bailout perbankan. Jika dibandingkan dengan PDB dan kurs kita sekarang, relatif bisa,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah tidak perlu bekerja sendiri. “Bayangkan jika satu orang kaya mampu merangkul 10 orang rentan di Indonesia, sisanya pemerintah. Saya rasa krisis ini akan tertangani. Tinggal mekanismenya seperti apa, logistik diperkuat, bulog bekerja secara efektif, pasar primer dibuka. Ini kan bukan lockdown seperti tahun '65, ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa."

Instrumen-instrumen yang sudah ada pun dapat dimanfaatkan secara lebih baik dan menyeluruh, misalnya Kartu Sembako. "Orang-orang yang miskin dan rentan otomatis diberikan alokasi setiap bulan untuk membeli sembako. Kedua, orang-orang yang tidak terjaring program ini. Tidak miskin, tapi rentan dan belum teridentifikasi, misalnya pedagang-pedagang kecil. Banyak dari mereka yang mencoba menyintas dengan tetap keluar rumah dan berdagang. 

“Mau tidak mau, masalah ekonominya lebih parah dari 2008 lalu. Tapi kalau sumber daya bisa dimanfaatkan secara maksimal, pasti bisa. Kasus di kita masih ribuan, belum ratusan ribu. Modal kita adalah buat kurvanya selandai mungkin, sehingga efek terhadap ekonominya itu maksimum paling lama satu bulan.” Setelah itu, lanjut Faisal, perekonomian Indonesia tentu bisa bangkit kembali.

Dalam pandemi ini, sejumlah sektor ekonomi lekas anjlok, misalnya yang terkait dengan perjalanan: transportasi, hotel, dan restoran. Nantinya, kalau krisis ini sudah berlalu, sektor itu pula yang bakal rebound paling cepat. Mobilitas orang akan meningkat setelah terpaksa menundanya selama berbulan-bulan.

“Kedua, kegiatan pasar saham. Generasi milenial yang punya time span yang baik, ini saat yang baik untuk membeli saham sebagai investasi jangka panjang. Dalam waktu satu tahun barangkali keuntungannya bisa sampai 50 persen, luar biasa. Jadi, tatkala semua orang jual, kita beli. Dan saat semua orang beli, kita jual.”

Sejak Kamis-Jumat (26-27/03) pekan lalu sampai Senin (30/03) kemarin, Faisal melihat justru yang membeli adalah pihak-pihak asing, dan yang menjual adalah pihak domestik. Jadi, orang-orang asing ini, lanjutnya, akan menikmati benefit yang besar kalau ekonomi rebound.

Related Article