Sandiaga Uno Dikasih Gelar Ulama, Tepatkah?

Setelah terpilih jadi bakal calon wakil presiden di Pilpres 2019, Sandiaga Salahuddin Uno kerap kali ditempelkan status religius dari pendukungnya. Semula, Sandiaga dikenal sebagai pengusaha yang masuk ke arena politik lewat Partai Gerindra. Ia sempat menjabat sekitar 9 bulan jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, yang kemudian meninggalkan jabatannya untuk maju ke Pemilihan Presiden.

Sandiaga menjadi jawaban tentang sosok ulama yang awalnya diisukan akan  jadi pendamping bakal calon presiden Prabowo Subianto. Apalagi sempat diadakan forum Ijtimak Ulama oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama merekomendasi nama-nama yang cocok mendampingi Prabowo.

Setelah Sandi ditetapkan jadi cawapres, Presiden PKS Sohibul Iman bilang bahwa pasangan Prabowo-Sandi adalah perwakilan dari unsur nasionalis-Islam. Di mana Sandi dinilai sebagai santri pos-Islamisme.

"Mungkin beliau (Sandiaga) dalam kaca mata kita selama ini tidak terkategori sebagai santri. Saya kira beliau seseorang yang memang hidup di alam moderen, tetapi beliau mengalami proses spiritiualisasi dan Islamisasi, sehingga saya bisa mengatakan saudara Sandi adalah merupakan sosok santri di era pos-Islamisme. Dia benar-benar menjadi contoh pemimpin muslim yang kompatibel dengan perkembangan zaman,” kata Sohibul di deklarasi Prabowo-Sandi, Jumat, 10 Agustus 2018 lalu.

Tak cukup dengan label santri, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid menyebut bahwa Sandi juga adalah seorang ulama. Hidayat mengatakan bahwa ada tiga tahap untuk membuat Sandi jadi ulama, pertama identifikasi untuk mengetahui latar belakang seseorang, kualifikasi untuk penilaian pemehaman ilmu tertentu, serja uji kompotensi sebagai gong untuk membuktikannya.

"Menurut saya sih Pak Sandi itu ya ulama, dari kacamata tadi. Perilakunya, ya perilaku yang juga sangat ulama, beliau melaksanakan ajaran agama, beliau puasa Senin-Kamis, salat duha, salat malam, silaturahim, menghormati orang-orang yang tua, menghormati semuanya, berakhlak yang baik, berbisnis yang baik, itu juga satu pendekatan yang sangat ulama. Bahwa kemudian beliau tidak bertitel 'KH' karena memang beliau tidak belajar di komunitas tradisional keulamaan," ucap Hidayat.

Namun begitu, Sandi tak mau memberi tanggapan atas gelar yang diberikan para pendukungnya itu. Ia mengatakan bahwa yang perlu memberikan klarifikasi ada orang-orang yang memang puya referensi ilmu dalma bidang agama, sebab dirinya hanya fokus pada persoalan ekonomi.

"Ada Pak Hidayat di dalam. Tolong tanya beliau saja. Karena kan referensinya saya fokus di bidang ekonomi. Beliau memiliki referensi, serahkan pada ahli agama dan para ahli yang mengerti definisi itu (ulama) untuk berdiskursus," ujar Sandi di Jalan Kertanegara Nomor IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 19 September 2018 kemarin malam.

Yang Disebut Ulama dalam Kitab Suci Al Quran

Membahas soal syarat menjadi ulama memang ada beberapa pendapat yang berbeda. Seperti Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Tarjih dan Tabligh, Prof. Yunahar Ilyas yang mengatakan bahwa ada tiga syarat menjadi ulama yang tidak bisa ditawar, yaitu harus punya ilmu, dalam hal ini semua ilmu, terutama al-‘ulum asy-syar’iyyah (ilmu syar’iah). Kemudian ada Khasyatullah atau punya rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan perlu berada di tengah-tengah masyarakat.

Dalam kitab panduan hukum Islam (I’lamul Muwaqqi’in) yang ditulis Ibnu Qayyim Al Jauziyah juga menuturkan bahwa ulama ialah para ahli fikih Islam, yang ucapannya kerap dijadikan dasar fatwa dan beredar di tengah masyarakat, sehingga mampu menyimpulkan hukum-hukum seperti kaedah halal dan haram.

Kitab suci agama Islam yaitu Al Quran sendiri memiliki beberapa ayat mengenai pengertian ulama. Secara harfiah, ulama memang diambil dalam bahasa Arab yang diartikan sebagai orang-orang yang berilmu atau memiliki ilmu pengetahuan.

Di Surat Al-’Ankabut ayat 43, disebutkan bahwa orang-orang yang mengetahui perempuan-perempuan yang dibuat oleh Allah SWT adalah orang-orang yang berilmu. “Dan tidak ada yang mengetahuinya (perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah) melainkan orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43.

Surat As-Sajdah ayat 24 juga tertulis “Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.”

Bahkan dalam Quran Surat At Taubah ayat 122 menjelaskan bahwa tidak sepatutnya bagi umat Muslim untuk semuanya turun ke medan perang, tapi juga perlu adanya golongan dari orang-orang yang memperdalam agama.

Related Article