post

Current Affairs

Saking Stresnya, Dokter dari AS Rame-Rame Hijrah ke Selandia Baru

Raka Ibrahim, 17 Oktober 2020

Di tengah hantaman pandemi COVID-19, sebuah fenomena baru yang ganjil tengah terjadi di AS. Muak dengan penanganan pandemi yang asal-asalan di negaranya, dokter dan pekerja medis dari negara Paman Sam mulai bedol desa ke negara lain. Tujuan mereka? Selandia Baru.

Tren teranyar ini dilaporkan oleh Global Medical Staffing, sebuah kelompok perekrutan yang khusus menyalurkan jasa dokter dan pekerja medis ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan di seluruh penjuru dunia. Sejak awal pandemi, mereka melaporkan bahwa jumlah pekerja medis yang menanyakan tentang persyaratan kerja di Selandia Baru “meningkat tajam”, dan pekerja medis asal AS yang sudah keburu menetap di Selandia Baru bersikeras meminta kontrak kerja mereka diperpanjang, meski bayarannya lebih sedikit.

“Sebagian dokter dan pekerja medis menanyakan lowongan kerja di Selandia Baru karena mereka kehilangan pekerjaannya di AS akibat pandemi,” ucap Chad Saley, juru bicara Global Medical Staffing. “Namun, banyak yang tertarik pindah ke Selandia Baru karena terkesan dengan respon positif negara tersebut pada pandemi COVID-19.”

Poin terakhir inilah yang sedang jadi bahan perbincangan. Dengan jumlah kasus aktif sebanyak 7,7 juta orang dan lebih dari 213 ribu kematian, AS adalah negara yang paling parah dihantam pandemi COVID-19. Pemerintah pusat cenderung lepas tangan, dan presiden Donald Trump berulangkali menyepelekan saran pakar kesehatan, berkelahi dengan pakar penyakit menular Dr. Anthony Fauci, serta tak mengindahkan protokol kesehatan.

Beberapa pekan lalu, sang presiden dan 37 orang di jajaran staf Gedung Putih divonis positif COVID-19, memantik kepanikan di pemerintahan. Trump keluar dari RS meski belum ada diagnosa negatif COVID-19, tampil di acara publik tanpa mengenakan masker, dan bersikeras melanjutkan kampanye jelang Pilpres 2020. Dalam acara publik pertamanya sejak kena COVID-19, Trump bahkan berkelakar bahwa ia sempat ingin muncul memakai kaos bertuliskan logo Superman.

Bandingkan dengan Selandia Baru. Per 16 Oktober 2020, negara itu “hanya” mencatat 1,880 kasus COVID-19 aktif, dan “hanya” 25 kematian. Perdana Menteri Jacinda Ardern dan kabinetnya banyak dipuji karena respons mereka yang cepat tanggap dan tegas untuk menghentikan penyebaran virus. Selandia Baru memberlakukan lockdown ketat selama lima minggu, menutup perbatasan, memperluas kapasitas penanganan fasilitas medis mereka, dan meningkatkan kapasitas tes COVID-19. Hasilnya, COVID-19 hampir sepenuhnya ditaklukkan di negara tersebut.

Selandia Baru pun tidak pandang bulu memberlakukan protokol kesehatannya. Saat PSBB di sana dilonggarkan dan restoran serta kafe boleh beroperasi dengan kapasitas pengunjung terbatas, Perdana Menteri Ardern dan pasangannya dilarang masuk sebuah kafe karena jumlah pengunjung kafe itu sudah melebihi batas di aturan. Menkes mereka bahkan mundur karena malu ketahuan melancong ke pantai bersama keluarganya tanpa menggunakan masker.

Dalilah Restrepo, dokter asal New York yang diwawancarai The Guardian, mengaku bahwa ia pun pindah ke Selandia Baru karena muak dengan kultur “sistem kesehatan di AS yang amat toksik.” Menurutnya, ia dan rekan sejawatnya tak sekali-dua kali melihat pasien yang belum sepenuhnya sembuh gagal mendapat penanganan medis karena tak mampu membayar tagihan. Sebaliknya, Selandia Baru menyediakan layanan kesehatan gratis untuk semua penduduknya, sehingga pekerjaan sebagai dokter lebih berorientasi pengabdian sosial, bukan “upaya mencari uang.”

Pemerintah Selandia Baru sendiri mengakui bahwa “jumlah orang yang menunjukkan ketertarikan” untuk pindah ke sana dari AS bertambah secara signifikan sepanjang pandemi. Pencarian dengan kata kunci “cara pindah ke Selandia Baru” pun naik drastis di Google setelah debat capres antara Donald Trump dan Joe Biden.

Sementara itu, situs Selandia Baru beradaptasi dengan menggunakan copywriting jenaka seperti: “Ingin tempat yang berbeda? Tempat yang lebih santai, di negara yang damai, di antara rakyat yang saling membantu satu sama lain, dan di negara yang pemerintahnya memberikan layanan seperti layanan kesehatan tersubsidi?”

Namun, Selandia Baru belum bisa memberikan angka pasti jumlah pekerja medis yang pindah ke negaranya. Saat ini, warga luar negeri pun belum bisa melancong atau pindah ke Selandia Baru karena negara itu masih menutup perbatasannya. Hanya warga negara Selandia Baru dan keluarganya yang boleh bepergian keluar masuk, itupun dengan syarat yang ketat.

Pengecualiannya adalah dokter dan tenaga medis dari bidang yang banyak dibutuhkan--seperti pakar penyakit menular dan epidemi. Pemerintah Selandia Baru memprediksi bahwa angka tenaga ahli yang bedol desa ke negaranya baru bisa dibeberkan sekitar 2021, tetapi mereka sudah mulai merasakan manfaatnya. Selagi AS gonjang-ganjing menghadapi pandemi, Selandia Baru dapat keuntungan: datangnya tenaga ahli medis yang bakal bikin sistem kesehatannya lebih tokcer di masa depan.

Jadi, kapan kita pindah ke Selandia Baru saja?