post

Current Affairs

Presiden Rodrigo Duterte, Berkacalah!

Permata Adinda, 16 Januari 2021

Foto: The Defiant

Kursi presiden tidak cocok untuk perempuan.

Itulah komentar Presiden Filipina Rodrigo Duterte atas spekulasi bahwa anak perempuannya, Sara Duterte-Carpio, akan maju sebagai calon presiden di pemilihan umum tahun depan.

“Kau tahu, kondisi emosional perempuan dan laki-laki sangat berbeda. Kau [Sara] hanya akan dibodohi di sini,” katanya.

Pernyataan Duterte bahwa anaknya tidak akan maju sebagai presiden, pada satu sisi, dapat dibaca sebagai kabar baik. Inday, sapaan akrab Sara Duterte-Caprio, pernah menjabat sebagai Walikota Davao City dan kini menjadi kandidat populer calon presiden berdasarkan hasil sebuah survei.

Jika Inday maju sebagai kandidat, Filipina berpotensi dipimpin keluarga Duterte selama dua periode berturut-turut—dengan satu periode kepresidenan sepanjang selama enam tahun. Dinasti politik pun tak terhindarkan.

Namun, alih-alih berargumen ke arah sana, Duterte malah melontarkan pernyataan seksis tentang anak perempuannya sendiri.

Ini bukan pertama kalinya Duterte menyampaikan komentar seksis dan misoginis—Vice punya artikel khusus yang memeringkat komentar-komentar terburuknya terhadap perempuan, termasuk lelucon perkosaan kepada korban perkosaan hingga seloroh dalam sebuah pidato bahwa ia pernah mencoba membuka celana dan memegang kemaluan perempuan yang sedang tidur.

Kepercayaan Duterte bahwa laki-laki lebih superior dan oleh karena itu lebih pantas memimpin juga tidak hanya sekali ini ia ungkapkan. Sebelumnya, Duterte pernah menyebut bahwa perempuan itu “gila” dan “jalang” pada--ya, ini ironis--sebuah acara penghargaan untuk perempuan.

Puta (perempuan jalang), kalian perempuan merampas kebebasan saya untuk berekspresi. Kalian mengkritik setiap kalimat dan kata yang saya ucapkan. Itu kebebasan saya untuk mengekspresikan diri,” katanya di depan audiens yang kebanyakan polisi dan tentara perempuan.

Jika perempuan baginya terlalu emosional untuk memimpin, bagaimana Duterte menjelaskan dirinya yang suka bersumpah serapah dan mengamuk di depan publik?

Duterte melontarkan umpatan kepada siapapun yang menurutnya menghalanginya, mulai dari Komnas HAM Filipina sampai Mantan Presiden Barack Obama. Semuanya ia semprot dengan sebutan “you fool”, “fuck you”, “son of a bitch”, hingga ia berikan jari tengah. Lagi-lagi, perilakunya ini dikompilasi oleh media—kali ini oleh Rappler yang membuat video kumpulan Duterte mencarut sepanjang tahun dengan judul: “The year in Duterter’s curses”.

Pada Mei 2016, ia menyebut Paus Fransiskus sebagai “son of a bitch” dan menolak  meminta maaf atas ucapannya. Selanjutnya, pada Juni, ia merespons kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) kepadanya dengan menyebut organisasi itu “bodoh”. Ia pun mengancam akan keluar dari keanggotaan dan memanggil mereka “bajingan”.

Duterte memandang umpatan-umpatannya sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Mungkin itu bisa dibenarkan jika, pertama, ia bukan kepala negara dan umpatannya tidak disampaikan kepada publik. Kedua, ia tidak menggunakannya untuk menyambar kritik-kritik tentangnya menyangkut pelanggaran HAM.

Pada September 2016, ia memperingatkan Obama untuk tidak bertanya kepadanya tentang kasus pembunuhan di luar hukum yang terjadi di Filipina. “Putang ina (haram jadah), saya akan menyumpahi Anda di forum,” kata Duterte lewat konferensi pers. “Anda mesti hormat. Jangan cuma melempar pertanyaan.”

Saat itu, kebijakan perang narkoba Duterte mendapatkan sorotan luas dari dunia internasional. Orang-orang yang diduga sebagai pengguna atau pengedar narkoba ditembak mati di jalanan.

Bukannya mendengarkan kritik dan membenahi pemerintahannya, perang melawan narkoba itu terus berlanjut dan memakan korban. Duterte malah terang-terangan mengancam kelompok pembela HAM di Filipina—katanya, dia bisa saja memerintahkan polisi untuk menembak mereka supaya mereka tahu rasa pelanggaran HAM yang sesungguhnya.

“Polisi, tembak mereka yang termasuk di dalamnya. Jika mereka menghalangi keadilan, tembak mereka,” kata Duterte pada Agustus 2017. Dia juga mengancam untuk menginvestigasi balik kelompok pembela HAM yang menyelidiki kasusnya.

Hingga kini, sikap defensif Duterte terus memakan nyawa. Kasus pembunuhan di luar hukum masih terjadi—bahkan mengalami peningkatan semasa pandemi. Laporan Human Rights Watch menunjukkan bahwa pembunuhan atas “perang melawan narkoba” meningkat lebih dari 50% di bulan-bulan awal selama pandemi.

Secara keseluruhan, sejak Duterte menjabat sebagai presiden, operasi “perang narkoba” telah membunuh 8.000 orang. Pembunuhan-pembunuhan ini secara timpang menyasar orang-orang kelas ekonomi menengah ke bawah yang tinggal di permukiman kumuh.

Polisi diketahui kerap memalsukan bukti untuk menjustifikasi pembunuhan gila-gilaan ini, dan kelompok-kelompok pembela HAM serta Komnas HAM di Filipina percaya jumlah asli korbannya tiga kali lipat lebih banyak.

Ini belum termasuk pembunuhan terhadap lebih dari 160 aktivis politik. Ada pula Undang-undang Antiteror yang baru disahkan semasa pandemi—yang isinya justru semakin menambah teror: kebebasan berekspresi berpotensi diberangus. Makna “terorisme” di dalam undang-undang begitu luas hingga bisa menyasar siapa pun yang dianggap mengkritik pemerintah.

Pengelolaan emosi seorang pemimpin akan berpengaruh, secara langsung maupun tidak, terhadap implementasi kebijakan. Dalam kasus Duterte, tabiatnya yang keras dan prasangkanya terhadap kelompok masyarakat menengah ke bawah mengakibatkan kematian banyak orang.

Presiden Rodrigo Duterte, yang sejak pidato kemenangan presidennya telah berapi-api menyatakan komitmennya untuk memburu orang yang menurutnya tidak berguna.

“Kalian-kalian penjual narkoba, begal, dan orang-orang tak berguna, kalian sebaiknya kabur karena saya akan membinasakan kalian,” katanya.

Jadi, sebelum dia makin jauh menyalahkan dan merendahkan perempuan dengan alasan tak becus mengelola emosi, siapa yang mau memberikan cermin kepada Duterte?