Peta Pilpres 2019: Prabowo Mulai Bermain Kuda di Halaman Banteng

Pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan eks-ketua umum PDIP Puan Maharani menunjukkan tanda karat lama persaingan politik antara mantan Komandan Kopassus itu dengan Megawati perlahan terasah kembali. Ajakan bermain kuda oleh Prabowo kepada cucu Soekarno itu memunculkan kekawatiran partai barisan koalisi Jokowi. Mungkinkah sudah ada niatan atas terjadinya duet lama Prabowo dengan partai berlambang Banteng tersebut?

Golkar bisa dibilang partai yang paling was-was jika ajakan bermain kuda di Hambalang nanti ini melahirkan sikap politik. Partai koalisi Jokowi harus siap menghitung peta kekuatan jika Prabowo mampu menarik simpati Puan Maharani.

Pasalnya, berhembus kabar sejumlah kader PDIP yang menyarankan Menko PMK itu maju di bursa pencalonan untuk Pilpres 2019 nanti. Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDIP Sukur Nababan sudah pernah melempar bola panas yang menyebut bahwa Puan merupakan prioritas sebagai kader partai untuk masuk bursa calon wakil Presiden. Selain itu, perlu diingat juga bahwa PDIP merupakan partai terakhir yang mendeklarasikan Jokowi dari delapan partai koalisi.

Kubu koalisi Jokowi ibarat kotak yang selalu terbuka untuk siapapun masuk. Politikus Golkar Ace Hasan Syadzily berkata ini bisa merupakan suatu taktik dari Prabowo untuk bergabung dengan koalisi tergemuk saat ini. Prabowo menjajaki partai PAN dan PKS mencari siapa calonnya, walaupun belakangan diketahui kedua partai tersebut belum meyakinkan sang mantan komandan untuk berkoalisi.

Prabowo bisa dikatakan tengah melancarkan manuver tajam. Setelah sekian lama pimpinan Gerindra dan PDIP hampir “talak telu”, pertemuan kedua elit partai tersebut seakan menunjukkan adanya keinginan rujuk politik kembali, mengembalikan kemesraan di Pilpres 2009, ketika Prabowo dipinang PDIP mendampingi Megawati. Sekalipun publik masih meragukan itu terjadi, Puan telah menyebutkan bahwa ada obrolan soal “Pipres 2019” dalam pertemuan itu.

Efek "Ekor Jas" perlu diperhatikan serius, mengingat PDIP adalah partai pemilik kursi parlemen terbanyak saat ini. Satu sisi lain, pengaruh PDIP dalam koalisi pendukung Jokowi penting. Jika partai PDIP dalam injury time  menarik dukungan ke Jokowi dan memilih alternatif calon lain, maka jajaran partai koalisi kemungkinan akan pisah jalan. Jika Prabowo berhasil menggaet Puan sebagai pendampingnya, maka elektabitas dirinya akan naik.

Membuka komunikasi dengan pertemuan di tengah banjir isu dan wacana di kawah Pilpres 2019 tentu bukan pertemuan hanya say hello, baik Prabowo dan Puan pasti punya catatan tersendiri tentang pertemuan tersebut. Puan Maharani boleh saja meringkas bahasan pertemuan itu dalam tiga simpul kata pendek makanan, Asian Games, dan Pilpres. Tiga kata itu sudah cukup membantu publik menyusun skema dan menerka-nerka kesimpulan yang beragam.

Bagi Prabowo, ini langkah yang berani dan berhasil. Luka lama dua keluarga elit partai ini seakan sudah makin luruh. Puan mendapat restu Megawati langsung untuk melakukan pertemuan dengan Prabowo. Bagi partai koalisi Jokowi ,langkah prabowo ini bisa saja mengganggu langkah pemantapan pemenangan Jokowi untuk 2019 nanti.

Kabar pertemuan tersebut memberikan angin segar bagi parpol atau ormas pendukung Prabowo yang sedari awal tidak mau berjajar dengan partai koalisi. Kelompok Alumni 212 tentu akan melakukan taktik ulang meberikan suara dukungannya. Sejak Tuan Guru Bajang (TGB) mulai menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Alumni 212 menyatakan akan mengeluarkan TGB dari dukungannya. Memang belum terlihat apakah ini kemudian berlaku kepada Prabowo karena masih tahap membangun komunikasi.

Sedari awal Prabowo lebih fokus kepada strategi menumpuk kekuatan untuk meningkatkan elektabilitasnya, sehingga terkesan lengah dengan koalisi partai pendukung Jokowi yang mulai solid. Permasalahan lainnya, PKS belum menyatakan secara tegas akan mendukung Prabowo Subianto.

PKS bahkan masih menimbang-nimbang sosok demi sosok baik kadernya seperti Sohibul Iman dan Ahmad Heryawan (Aher) untuk masuk bursa wakil presiden. PKS terkesan mengulur tambang lebih panjang sehingga bisa mendapatkan kemungkinan lain.

Tak jauh beda dengan PKS, PAN mendukung penuh ketua umumnya Zulkifli Hasan untuk maju di bursa Pilpres 2019 nanti. Belum jelas apakah Zulkifli benar menjalani penjaringan kandidat. Atau bisa saja itu strategi meningkatkan daya tawar partai berlambang matahari tersebut. Namun, yang paling penting posisi ini akan membuat Prabowo mencari solusi lain.

Kita lihat perbandingan suara parlemen Prabowo dan Jokowi. Suara parlemen tiga parpol yang diprediksi mendukung Prabowo ada di angka 28,93%. Terpaut jauh jika mengukur dengan 6 parpol di belakang Jokowi yaitu 60,17%, sedangkan Partai Demokrat yang menguasai suara parlemen 10,90% tak kunjung melabuhkan hati kemana arah dukungan politiknya.

Partai Demokrat sedari awal memang tak masuk kutub polarisasi politik antara Jokowi dan Prabowo, namun masih percaya jika kuda troyanya Agus Harimurti Yudhoyono dapat menjadi calon presiden. Sayangnya Demokrat masih menunggu siapa calon wakil yang akan dipilih oleh sang incumbent, Jokowi.

Komunikasi politik dengan Puan merupakan langkah yang efisien. Komunikasi tersebut akan mengkomunikasikan pesan bahwa sirkulasi antara kutub politik lama tersebut sedikit cair. Pertemuan itu seoalah menolak asumsi “gengsi” kubu politik dan lebih mengutamakan adanya eskalasi hubungan lebih lanjut.

Publik akan menunggu apakah agenda naik kuda hanya berakhir dengan sekedar mengikat tali pelana. Atau ajang santai tersebut akan memberikan kejutan lain. Kita tunggu saja episode selanjutnya.

Related Article