Perkembangan Dua Vaksin COVID-19: Berhasil Ciptakan Antibodi

Sejumlah negara di dunia terus berlomba mengembangkan vaksin untuk melawan COVID-19. Dua di antara kandidat vaksin yang dinilai paling canggih dan sudah masuk dalam uji klinis adalah mRNA-1273 dari Moderna dan Ad5-nCoV dari CanSino Biologicals. Sejauh apa perkembangannya?

Pada bulan Mei 2020 kemarin, perusahaan bioteknologi Amerika Serikat Moderna Inc menggambarkan hasil awal yang positif dari uji coba Fase 1 mRNA-1273. Bahkan, kandidat vaksin potensial untuk COVID-19 itu kemungkinan akan siap pada Januari 2021 nanti. 

Menariknya, beberapa hari kemudian, para peneliti dari CanSino Biological menerbitkan data tentang vaksin buatan mereka bernama Ad5-nCoV. Kandidat vaksin ini juga dinilai menunjukkan perkembangan bagus. Dua kabar mengenai perkembangan dua jenis vaksin ini tentu saja menggembirakan, namun bukan berarti bahwa vaksin yang efektif akan tersedia dalam waktu dekat. 

Sejauh Apa Perkembangan Vaksin Ad5-nCoV?

Dikutip dari Forbes, Kamis (11/06/20), Ad5-nCoV disebut telah berhasil memicu antibodi penawar pada puluhan pasien. Ad5-nCoV adalah vaksin virus Corona pertama yang masuk dalam uji klinis manusia di China. Uji cobanya melibatkan 108 peserta orang dewasa yang sehat dengan rentang usia antara 18-60 tahun.

Vaksin ini menggunakan adenovirus untuk mengirimkan materi genetik yang berisi kode protein SARS-CoV-2. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Lancet, Ad5-nCoV dinilai aman serta dapat ditoleransi dengan baik dan efektif oleh manusia.

"Hasil ini menjadi tolak ukur yang penting. Studi menunjukkan bahwa dosis tunggal dari vektor baru Ad5-nCoV menghasilkan vaksin antibodi khusus virus dan sel T dalam 14 hari, sehingga sangat potensial untuk diteliti lebih lanjut," kata Wei Chen, seorang profesor dari Institut Bioteknologi Beijing, seperti dikutip dari Medical Daily, Selasa (26/05).

Dalam ujicoba terhadap ratusan orang tersebut, tim membagi peserta menjadi beberapa kelompok, yakni kelompok yang menerima injeksi dosis rendah, dosis menengah, dan dosis tinggi. Hasil menunjukkan bahwa semua tingkat dosis yang diberikan pada masing-masing peserta telah memicu respons kekebalan tubuh dalam bentuk antibodi yang mengikat setelah dua minggu vaksinasi.

Setelah 28 hari, vaksin Ad5-nCoV tampak ditoleransi dengan baik pada semua dosis tanpa efek samping yang serius pada semua peserta. Hampir sebagian besar peserta menunjukkan adanya peningkatan sebanyak empat kali lipat pada perkembangan antibodi. 

Peningkatan ini terjadi setelah sebulan menerima vaksin Ad5-nCoV. Bahkan lebih dari setengahnya memiliki antibodi terhadap penyakit.

Berdasarkan penelitian, efek samping vaksin yang paling umum adalah demam, ringan, sakit kepala, nyeri ringan di daerah injeksi, kelelahan, dan nyeri otot. Para peneliti mengatakan gejala ini biasanya hanya berlangsung kurang dari dua hari.

Vaksin mRNA-1237 Juga Tunjukkan Perkembangan Baik

Sementara mRNA-1237 juga disebut berhasil menciptakan antibodi penangkal COVID-19. Beberapa waktu lalu, vaksin ini sudah diujikan pada 45 orang yang berusia 18-55 tahun dan menunjukkan terbentuknya antibodi. 

Berdasarkan penelitian perusahaan, antibodi dari delapan orang yang diujicobakan mampu menghasilkan antibodi COVID-19. Dalam ujicoba ini, antibodi tersebut sama dengan para survivor yang pernah tertular COVID-19.

Dalam pernyataan persnya, Senin (18/05), Moderna mengumumkan perihal data klinis dari studi Fase 1 yang dipimpin oleh Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID), bagian dari Institut Kesehatan Nasional (NIH) AS. 

Berdasarkan uji coba pada pasien yang berusia usia rentang 18-55 tahun dengan tingkat dosis antara 25, 100, dan 250 mikrogram, menunjukkan hasil positif dan tidak ada efek samping berarti. mRNA-1273 pada umumnya dinilai aman dan ditoleransi dengan baik, dengan profil keamanan yang konsisten dengan yang terlihat dalam studi klinis vaksin penyakit infeksi Moderna sebelumnya. 

Sampai saat ini, efek samping yang paling menonjol terlihat pada tingkat dosis 250 mikrogram, terdiri dari tiga peserta dengan gejala sistemik grade 3, hanya setelah dosis kedua. Semua kejadian buruk bersifat sementara dan sembuh sendiri. 

Tidak ada efek samping grade 4 atau efek samping serius yang dilaporkan. Berdasarkan pada data Fase 1 sementara, studi Fase 2 yang dipimpin Moderna akan dievaluasi untuk mempelajari dua tingkat dosis lainnya, 50 mikrogram dan 100 mikrogram, dengan tujuan memilih dosis untuk studi penting. 

Moderna mengantisipasi dosis untuk studi Fase 3 antara 25 dan 100 mikrogram serta mengharapkan inisiasi uji coba Tahap 3 pada bulan Juli, tergantung pada finalisasi protokol uji klinis.

Saat dikombinasikan dengan keberhasilan dalam mencegah replikasi virus di paru-paru dari model tantangan pra-klinis pada dosis yang menimbulkan tingkat antibodi penetral yang serupa, data ini memperkuat keyakinan bahwa mRNA-1273 berpotensi untuk mencegah penyakit COVID-19. 

Terkait hal ini, CEO Moderna Stephane Bancel menyatakan timnya akan bergerak secepat mungkin untuk memulai studi Fase 3 pada bulan Juli ini. Kalau saja berhasil, the biologics license application (BLA) diajukan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Aplikasi lisensi biologis adalah permintaan izin untuk memperkenalkan, atau mengirimkan untuk pengenalan, produk biologis ke dalam perdagangan antarnegara. 

"Kami berinvestasi untuk meningkatkan produksi sehingga kami dapat memaksimalkan jumlah dosis yang dapat kami hasilkan untuk membantu melindungi sebanyak mungkin orang dari SARS-CoV-2,” kata Stéphane Bancel, dikutip dari The Guardian, Senin (18/05).

“Data ini memperkuat keyakinan kami bahwa mRNA-1273 memiliki potensi untuk mencegah penyakit COVID-19 dan memajukan kemampuan kami untuk memilih dosis untuk uji coba.”

Setelah uji klinis tahap satu dan dua disebut berhasil, kini Moderna akan melakukan pengujian vaksin COVID-19 tahap 3 dengan 30 ribu sukarelawan yang akan dimulai pada Juli 2020 mendatang.

Moderna disebut memiliki kemampuan untuk memproduksi 500 juta hingga satu miliar dosis vaksin COVID-19 per tahun. Perusahaan ini menerima dana dari pemerintah AS untuk mengembangkan vaksin, melakukan tes dan meningkatkan produksi dengan tujuan memvaksinasi 300 juta orang di awal tahun depan.

"Data sementara Fase 1 ini, sementara awal, menunjukkan bahwa vaksinasi dengan mRNA-1273 memunculkan respons kekebalan sebesar yang disebabkan oleh infeksi alami dimulai," kata Tal Zaks, MD, Ph.D., Kepala Petugas Medis di Moderna, seperti dikutip dari BBC News, Senin (18/05).

"Data ini memperkuat keyakinan kami bahwa mRNA-1273 memiliki potensi untuk mencegah penyakit COVID-19 dan mendorong kapasitas kami untuk memilih dosis penting dalam uji coba,” ujarnya. 
 

Related Article