Perbedaan-Persamaan Kedua Capres di Debat Jilid 1 dan 2

Debat kedua pemilihan presiden (Pilpres) 2019 dengan tema infrastruktur, sumber daya alam (SDA), energi, pangan, dan lingkungan hidup dinilai lebih baik dibandingkan debat pertama. Namun, bagaimana perbedaan dan kesamaan kedua capres, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, pada debat pertama dan kedua?

Pengamat politik dari PARA Syndicate Ari Nurcahyo mengungkapkan, terdapat perbedaan penampilan dari kedua capres. Ari menjelaskan, pada debat pertama, kedua capres sama-sama memiliki beban. Untuk Jokowi, kinerja pemerintahanya bersama Jusuf Kalla dalam bidang hukum dan hak asasi manusia (HAM) tidak terlalu memiliki kesan positif di masyarakat.

"Capain pemerintah Pak Jokowi memang agak lemah, agak kurang di bidang hukum dan HAM. Banyak catatan masyarakat sipil terkait hal itu sehingga ada unsur tidak percaya diri," ujar Ari ketika dihubungi via telepon, Selasa (19/2). Namun demikian, lanjut Ari, Prabowo juga kurang percaya diri karena memiliki rekam jejak masa lalu terkait masalah HAM. "Jadi, masing-masing tersandra, Jokowi karena kinerja pemerintahanya, sedangkan Prabowo pada rekam jejak masa lalunya. Akibatnya, mereka tidak percaya diri, tidak tampil lepas, tidak tampil orisinil atau otentik," paparnya.

Sementara pada debat kedua, seperti diungkapkan Ari, Jokowi dan Prabowo tampil lebih percaya diri. Jokowi tampil dengan catatan prestasi soal infrastruktur, pangan, sumber daya alam (SDA), energi, dan lingkungan hidup. "Tampil percaya diri dengan program dan catatan prestasi serta klaim-klaim keberhasilan kebijakannya," paparnya.

Ia menambahkan, Prabowo juga tampil percaya diri dengan memiliki kesempatan atau celah mengkritisi kekurangan pemerintah yang selama ini kerap dimunculkan di media massa, seperti polemik hutang, impor, dan jalan tol. Namun, Ari menyayangkan Prabowo yang mangapresiasi kinerja Jokowi namun tanpa memberikan alternatif konkret jika dirinya memimpin.

"Yang disayangkan jangan hanya berhenti di apresiasi saja, harus ada _counter_ argumentasi dengan data dan strategi yang detail," pungkasnya.

Kekurangan Debat Kedua

Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai calon presiden petahana Jokowi  terlalu banyak menyebutkan data yang keliru dalam debat kedua Pilpres 2019. "Dalam debat capres kedua ini, Jokowi sebagai petahana sangat banyak menyebutkan data. Namun setelah debat usai, sejumlah media yang melakukan fact check, ditemukan banyak data yang keliru," ujar Ubedilah saat dihubungi via telepon, Selasa (19/2).

Ubedilah mencontohkan, Jokowi mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir ini tidak ada kebakaran hutan. Namun, berdasarkan sumber Direktorat PKHL Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (2018) menyebutkan bahwa pada tahun 2016 terdapat kebakaran hutan seluas 14.604,84 hektare. "Pada tahun 2017 terdapat kebakaran hutan seluas 11.127,49 hektar, dan pada tahun 2018 terdapat kebakaran hutan seluas 4.666,39 hektare," ucapnya.

Dalam pemaparan visi dan misi, Jokowi mengaku selama tiga tahun tidak pernah ada kebakaran hutan dan kebakaran gambut. "Kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi dan ini sudah bisa kita atasi. Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut dan itu adalah kerja keras kita semuanya," kata Jokowi.

"Dan kami ingin mengurangi sampah di sungai dan laut," ungkapnya.

Data keliru, seperti diungkapkan Ubedilah, juga ditemukan ketika Jokowi mengatakan bahwa tahun 2014 kita masih impor jagung sebesar 3,5 juta ton dan tahun 2018 hanya impor  180.000 ton. "Saya sampaikan terima kasih pada petani jagung. Pada 2014, kita impor 3,5 juta ton jagung. Pada, 2018 hanya impor 180.000 ton jagung, artinya ada produksi 3,3 juta ton," ucap Jokowi.

Padahal, tutur Ubedilah, faktanya berdasarkan sumber Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 disebutkan bahwa Indonesia mengimpor Jagung mencapai 737.220 ton jagung. Menurutnya, kekeliriuan data yang disampaikan Jokowi bisa menjadi "pukulan balik" dari Prabowo Subianto. Sebab, Prabowo menilai Jokowi telah menggunakan data yang bohong.

"Jika pukulan balik Prabowo ini dilakukan, bisa saja menggerus elektoral Jokowi," paparnya. Sementara itu, Prabowo juga memiliki kekurangan di debat kedua. Prabowo dinlai  hampir tidak memiliki ide baru jika dirinya terpilih.

Menurut Ubedilaj, Prabowo hanya memaparkan sedikit saja inovasi kebijakan jika ia memimpin. "Sedikit saja yang muncul dari Prabowo, yaitu menyelamatkan lingkungan hidup akan dipisah antara menteri kehutanan dan menteri lingkungan hidup," ujar Ubedilah.

Saat debat, Prabowo menilai dua bidang tersebut memiliki fungsi yang berbeda sehingga tidak dapat disatukan seperti sekarang. "Saya akan pisahkan. Menteri kehutanan kok dijadikan satu dengan lingkungan hidup?" ujar Prabowo. Menurut Prabowo, kementerian bidang lingkungan hidup seharusnya mengawasi kementerian kehutanan.

Dengan demikian, pengawasan terkait pelanggaran izin di bidang kehutanan dapat diawasi dengan ketat. Ide baru Prabowo lainnya, lanjut Ubedilah, adalah dirinya yang akan membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang khusus menangani perikanan dan kelautan.

Dia menjelaskan, ide-ide yang disampaikan Prabowo masih terlalu sedikit, padahal dalam debat tadi malam ia memiliki sisa waktu yang cukup untuk menyampaikan gagasanya.

"Prabowo nampak terlalu santai dan kurang memanfaatkan waktu dengan baik. Bahkan ada dua kali kesempatan untuk Prabowo yang tidak dimanfaatkan waktunya dengan baik tetapi mengatakan cukup," ungkapnya kemudian.

Di sisi lain, seperti diungkapkan Ubedilah, Prabowo juga memiliki kelemahan dalam debat kedua dengan tidak menghadirkan pertanyaan yang tajam terkait energi, pangan, sumber daya alam (SDA), infrastruktur, dan lingkungan hidup.

Related Article