featured

Ilustrasi: Ibam/Asumsi.co

Luar Jawa

7 Apr 2021

Perang Ketupat: Tradisi Ratusan Tahun Penolak Bala di Pulau Bangka

Ramadhan

Perang ketupat dikenal secara luas sebagai tradisi atau ritual yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebagaimana namanya, acara adat ini berlangsung dalam kondisi para peserta saling melempar ketupat sebagai senjata dalam perang ketupat.

Tradisi Perang Ketupat masih hidup sampai saat ini dan sering disebut dengan istilah ruah Tempilang. Acara ini biasa digelar setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam) di Pantai Tempilang, Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.

Selain itu, acara ini juga digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.Tradisi Perang Ketupat juga biasa digelar pada bulah ruwah, atau bulan Sya'ban dalam kalender Hijriyah. Biasanya dimulai pada tanggal 15 Sya'ban atau minggu ketiga dibulan tersebut.

Bagaimana Awal Mula Tradisi Perang Ketupat Dimulai?

Perang Ketupat disebut telah berlangsung sejak dahulu secara turun temurun. Berdasarkan cerita tokoh masyarakat, tradisi Perang Ketupat ini sudah ada ketika Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883.

Upacara Perang Ketupat memakan waktu selama dua hari. Pada hari pertama, upacara dimulai pada malam hari dengan menampilkan beberapa tarian tradisional mengiringi sesaji untuk makhluk halus yang diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan yang dibuat dari kayu menangor.Para dukun kemudian memulai upacara.

Di dari kedua, sebelum dimulainya upacara Perang Ketupat, masyarakat Tempilang lebih dulu menyelenggarakan acara Nganggung di Masjid Jami' Tempilang.

Selanjutnya, upacara Perang Ketupat dilakukan di Pantai Pasir Kuning. Upacara diawali dengan menampilkan Tari Serimbang. Pelaksanaan upacara Perang Ketupat ini dilaksanakan menjelang bulan puasa (Ramadhan).

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Dato’ Akhmad Elvian menjelaskan bahwa upacara Perang Ketupat awalnya adalah satu upacara Taber kampung, yakni upacara Menaber (menolak, memurnikan dan mengobati) kampung agar penghuni kampung bersih dari berbagai gangguan penyakit, musibah dan bala yang dilakukan kampung-kampung di Pulau Bangka.

“Taber kampung biasanya dilakukan satu tahun satu kali dan masyarakat Tempilang adalah yang masih menyelenggarakan upacara Taber kampung itu. Akan tetapi pelaksanaannya diatur pada pertengahan bulan Sya’ban menjelang Ramadhan, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan Perang Ketupat,” kata Elvian saat dihubungi Asumsi.co melalui sambungan telepon, Rabu (7/4/21).

Lalu, Elvian menyebut, pada malam hari dukun darat atau dukun kampung dan dukun laut melaksanakan upacara Penimbongan. Upacara ini bertujuan memanggil makhluk-makhluk halus yang berperangai baik, yang berada di darat untuk melindungi kampung dan isinya, dari gangguan makhluk halus yang berperangai jahat.

Menurut Elvian, makhluk halus yang dianggap berperangai baik tersebut bermukim di Gunung Panden, yaitu Akek Sekerincing Besi, Akek Simpai, Akek Bejanggut Kawat, Datuk Segenter Alam, Putri Urai Emas, Putri Lepek Panden, dan makhluk halus yang bermukim di Gunung Mares atau Maras, yaitu Sumedang Jati Suara dan Akek Kebudin.

“Pemanggilan dilakukan dengan menyediakan aneka sesajian yang diletakkan di atas Penimbong atau rumah-rumahan yang terbuat dari kayu Mentangor. Pada saat upacara Penimbongan, biasanya digelar tari-tarian seperti tarian Campak, tarian Serimbang, tarian Kedidi, dan tarian Seramo,” ucap Elvian.

Elvian menjelaskan masing-masing tarian dan maknanya. Tarian Campak, kata Elvian, adalah tarian dengan iringan berbalas pantun, perlambang sebagai tarian pergaulan dan persahabatan.

Sementara tari Serimbang sebagai simbol atau perlambang selamat datang dan penyambutan, adapun tari Kedidi sebagai perlambang kekuatan dan perlindungan karena gerakannya penuh dengan unsur jurus-jurus silat dari ide garapan gerakan lincah burung Kedidi.

Lalu, tari Seramo merupakan tari yang menggambarkan pertempuran atau perlawanan antara kebenaran melawan kejahatan.

Ritual Memberi Makan Makhluk Halus Jelang Perang Ketupat

Elvian mengatakan, selesai acara Penimbongan, para dukun mengadakan upacara Ngancak, biasanya berlangsung pada tengah malam. Tujuannya adalah memberi makan kepada makhluk halus penunggu lautan. Ritual ini dilakukan malam hari atau sehari sebelum Perang Ketupat berlangsung.

“Sebagaimana ritual pada orang laut pribumi Bangka, Suku Sekak (upacara Buang Pathung atau Buang Jong), nama-nama makhluk halus pelindung laut tidak diucapkan dengan suara keras oleh dukun karena diyakini akan mendatangkan musibah,” ucapnya.

Hampir sama dengan sesajian yang diletakkan pada upacara Taber sungai dan Taber kampung, kata Elvian, sesajian yang disajikan kepada makhluk halus penguasa lautan terdiri atas nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang.

Selanjutnya, pada keesokan hari setelah acara Penimbongan, dilaksanakan acara mengusir atau menolak makhluk-makhluk halus berperangai buruk yang disimbolkan dalam acara Perang Ketupat.

Biasanya setelah tarian Serimbang, dukun darat dan dukun laut membaca mantra di hadapan tempat yang diletakkan 40 ketupat. “Pada saat membaca mantra, dukun darat atau dukun kampung tidak sadarkan diri dan terjatuh, kemudian disadarkan oleh dukun laut.”

Setelah sadar, lanjut Elvian, dukun darat atau dukun kampung menyampaikan beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan masyarakat selama tiga hari. Adapun pantangan itu seperti melaut, bertengkar, menjuntai kaki di sampan sampai menyentuh air laut, menjemur pakaian di pagar, hingga mencuci kelambu serta cincin di sungai atau di laut.

Lalu, setelah semua ritual selesai, dukun darat atau dukun kampung dan dukun laut menyusun ketupat di atas tikar dengan sepuluh ketupat menghadap ke sisi darat dan sepuluh ketupat lainnya menghadap ke sisi laut.

Nah, kemudian 20 orang saling berhadapan dalam dua kelompok, 10 orang menghadap ke laut dan 10 orang menghadap ke darat untuk melakukan aksi saling lempar ketupat sebagai simbol mengusir makhluk halus yang berperangai jahat yang ada di laut dan yang ada di darat atau di kampung untuk pergi dan tidak mengganggu kampung dan masyarakat.”

“Sayangnya, kondisi Perang Ketupat saat ini karena pandemi COVID-19 tidak dilaksanakan dan hanya ritual penimbongan, Taber kampung serta Nganggung yang masih dilaksanakan,” kata Elvian menutup obrolan.

Share: Perang Ketupat: Tradisi Ratusan Tahun Penolak Bala di Pulau Bangka