Penulis Perempuan Indonesia yang Tak Ditulis Sejarah

Selama di sekolah, kita diperkenalkan kepada para pahlawan dan penulis yang itu-itu saja. Memang kita tahu RA Kartini yang menulis buku Habis Malam Terbitlah Terang  dan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Namun, kita lebih banyak tahu nama-nama penulis, pahlawan, dan figur penting laki-laki. Sebutlah Chairil Anwar, Jenderal Soedirman, dan lain-lain.

Dari 185 orang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional, hanya ada 15 perempuan. Salah satunya, yang ditahbiskan pada November 2019, ialah Roehana Koedoes.

Roehana lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 1884. Dialah jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Dia juga pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu perintis pers Indonesia.

Roehana aktif menulis di berbagai surat kabar. Seperti RA Kartini, sebagai perempuan, Roehana tidak dibolehkan menempuh pendidikan formal. Ia akhirnya banyak belajar secara otodidak dari ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda.

Pada 1908, ia menjadi penulis surat kabar perempuan pertama di Indonesia, Poetri Hindia. Surat kabar ini dibredel oleh pemerintah Belanda, dan Roehana pun berinisiatif mendirikan surat kabarnya sendiri, yaitu Sunting Melayu. Selain menulis dan menjadi jurnalis, Roehana juga membangun fasilitas pendidikan. Ia mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia pada 1911 dan sekolah Roehana School di Bukittinggi.

Roehana baru banyak dikenal publik berpuluh-puluh tahun setelah ia meninggal dunia. Mendengar namanya, kita pun jadi bertanya-tanya: apakah banyak figur perempuan penting lain di Indonesia yang namanya dilupakan sejarah?

Menghidupkan yang Telah Mati

Roehana sejatinya adalah satu dari sekian perempuan di Indonesia yang namanya tenggelam atau sengaja dilupakan oleh sejarah. Untuk memunculkan nama-nama mereka kembali, inisiatif atau gerakan pun mulai bermunculan. Salah satunya adalah Ruang Perempuan dan Tulisan, sebuah proyek yang diinisiasi oleh Dewi Noviami dan Dewi Kharisma Michellia.

Proyek ini digarap untuk meneliti kembali nama-nama penulis perempuan yang dilupakan dan tak dikenal lagi oleh publik. Beberapa di antaranya adalah adalah S Rukiah Kertapati, Suwarsih Djojopuspito, Omi Intan Naomi, Ratna Indraswari, Saadah Alim, Soegiarti Siswadi, Maria Ulfah, Hamidah, Dahlia, dan Salawati Daud.

“Ruang Perempuan dan Tulisan punya keinginan membaca karya-karya perempuan yang kami pikir nggak terlalu terdengar publik. Kami yakin ada lebih banyak penulis perempuan di Indonesia dibandingkan dengan yang namanya telah diketahui saat ini,” kata Dewi Kharisma Michellia kepada Asumsi.co.

Perempuan-perempuan ini punya latar belakang berbeda. S Rukiah Kertapati dan Soegiarti Siswadi adalah pemuka Lekra, Salawati Daud adalah politikus fraksi PKI, Dahlia ada penulis keturunan Melayu Tionghoa pada masa pra-kemerdekaan, Omi Intan Naomi mulai aktif menulis sejak tahun 90-an.

Omi Intan Naomi, misalnya, adalah seorang penyair. Perempuan kelahiran Denpasar tahun 1970 ini dikatakan sebagai salah satu penulis pertama di Indonesia yang memakai internet sebagai medium berkarya. Menurut adiknya, Bunga Jeruk, karya-karya Omi lebih sering dipublikasikan di komunitas daring daripada di media cetak. “Dia kan punya situs pribadi, jadi dia punya ide apa langsung ditulis dan di-upload di situsnya,” kata Bunga.

Omi jadi semakin rutin menulis sejak menemukan internet. Ia bisa duduk di depan komputer sepanjang hari. “Tulisan-tulisannya cerdik dan jenaka. Dia punya ketertarikan luas tentang banyak hal: tentang Indonesia, Jepang, seni rupa. Dia juga pernah menulis skripsi tentang surat kabar pada masa Orde Baru,” kata Michellia.

Omi meninggal pada 2006 ketika berusia 36 tahun. Tulisan-tulisannya masih terarsipkan di situs blog-nya: http://www.geocities.ws/rainforestwind/.

Selain Omi, ada Siti Rukiah Kertapati, penulis di era kemerdekaan Indonesia. Ia aktif menulis sejak usia 25 tahun. Ia menerbitkan karya berjudul Si Rawun dan Kawan-kawannya (1955), Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957), Taman Sandjak si Kecil (1959), dan lain-lain. Ia pun turut mengelola penerbitan sastra anak dan aktif berorganisasi di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Rukiah menjadi perempuan pertama yang karya sastranya memenangkan penghargaan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Sebagai perempuan, perspektifnya tentang kemerdekaan dan revolusi berbeda dengan perspektif laki-laki. Banyak narasi kecil tentang peristiwa politik yang ia bahas dalam cerpennya. Metode Lekra untuk turba (turun ke bawah) dalam meriset dan membuat karya juga datang dari Rukiah.

Namun, keterlibatannya dengan Lekra membuat karya-karyanya dilarang beredar dan dirinya ditangkap. Ia menjadi tahanan di kompleks Corps Polisi Militer (CPM) Purwakarta dan rutan di Bandung. Setelah dipulangkan ke rumahnya, ia juga masih diawasi secara ketat oleh aparat. Saking traumanya, ia memilih untuk tak menulis lagi dan berakhir sebagai penjual gorengan.

Menurut Michellia, setiap tokoh punya tingkat kesulitan tersendiri untuk ditelusuri. Ada beberapa nama telah pernah diriset oleh peneliti dalam maupun luar negeri, sehingga relatif lebih mudah untuk mencari informasi tentang mereka. Sementara, beberapa nama lain tak diketahui di mana rimbanya.

Sugiarti Siswadi, misalnya, telah menghasilkan 17 cerita pendek, 5 puisi, dan 2 buku kumpulan cerpen pada era 1950-1960an. Tulisan Sugiarti banyak berbicara tentang peranan perempuan dan perjuangan kaum buruh. Ia juga punya perhatian khusus tentang sastra anak. Namun, pada masa Orde Baru, keterlibatan Sugiarti dengan Lekra membuat karya-karyanya dilarang. Catatan hidupnya pun sulit ditelusuri.

“Kita bahkan nggak tahu Sugiarti meninggal di mana,” kata Michellia. “Satu-satunya foto yang bisa didapat tentang Sugiarti adalah ketika ia berfoto di Vietnam bersama Hersri Setiawan—penulis yang juga berafiliasi dengan Lekra dan pernah diasingkan di Pulau Buru,” lanjut Michellia.

Alasan nama-nama mereka terkubur pun bervariasi. Selain afiliasi politik, ada pula penulis yang kena sensor pemerintah Hindia Belanda. Sebagai keturunan Melayu Tionghoa, Dahlia, yang karyanya terbit pada era pra-kemerdekaan, diberangus karena identitasnya. “Saat itu, Hindia Belanda punya komisi bacaan yang tugasnya menyaring karya apa saja yang boleh beredar. Dari 700-an nama penulis yang diberangus, 300-400 adalah penulis perempuan Melayu Tionghoa,” kata Michellia.

Nasib Dahlia bisa dibilang masih beruntung dibandingkan penulis-penulis Melayu Tionghoa lain. Karya-karya mereka hampir tak bisa ditemukan. Kalau pun ada, arsipnya tercecer di tempat-tempat berbeda. “Untuk meneliti satu penulis, kan mesti ketemu korpus karyanya. Kalau kita mau meneliti Chairil Anwar, misalnya, kan kita mesti baca semua karya Chairil. Sementara itu, sulit sekali menemukan kepenulisan penulis Melayu Tionghoa,” cerita Michellia.

Gelombang Pemikiran Perempuan yang Hilang

“Sastra itu kan mewakili zamannya. Kalau yang mewakili cuma laki-laki, apa kabar perempuan di masa itu?” Michellia bertanya retoris. Menurutnya, setiap gender punya pengalaman hidup dan perspektif yang berbeda atas sebuah persoalan. Sementara itu, hingga kini, perspektif perempuan belum jadi arus utama.  

Dengan hilangnya nama-nama penulis perempuan, Indonesia kehilangan perspektif tentang kondisi politik, budaya, sosial, dan ekonomi dari perspektif yang lebih beragam.

“Di Barat itu feminisme bisa ada gelombang satu, dua, tiga, itu kan karena korpus-korpus pemikiran perempuan ini ada. Kalau di Indonesia ada teksnya, ada yg mengkaji itu, kita bisa tahu gimana gelombang feminisme di Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Anindya Restuviani, co-director Hollaback! Jakarta dan pembina Feminist Festival Indonesia, penghilangan nama perempuan dari sejarah bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga jadi masalah global. “Budaya patriarki selalu mengesampingkan peran perempuan. Sehingga, pada akhirnya, sejarah perempuan tak tercatat. Dalam skala global, banyak sekali perempuan yang berperan besar dalam pembangunan dunia, tapi namanya tersembunyi,” kata Anindya.

Akhirnya, kontribusi perempuan di masyarakat dipandang tak sebesar laki-laki. Masih banyak orang yang mempersepsikan peran perempuan hanya sebatas dapur, sumur, dan kasur. Menurut Michellia, ini pula topik yang paling banyak diangkat penulis-penulis perempuan masa Orde Baru. “Contohnya Marga T atau Mira W yang kebanyakan membicarakan seksualitas. Bukan hal yang keliru, tapi jadi cuma itu yang diterima Orde Baru--seolah perempuan hanya bisa menulis soal itu,” kata Michellia.

Jika nama-nama mereka tetap terkuburkan, menurut Michellia dan Anindya, dampaknya akan terus terasa hingga masa mendatang. Peran-peran perempuan semakin tak terlihat. “Representasi perempuan jadi hilang,” kata Anindya. Penulis-penulis perempuan pun kini kurang referensi. “Kalau kita dapat tulisan melulu dari penulis laki-laki, takutnya kita jadi ikut menulis dari perspektif laki-laki,” tandas Michellia.

Related Article