Pemuda Pancasila Ubah Dukungan untuk Pemilu 2019

Siapa yang tak kenal dengan organisasi paramiliter, Pemuda Pancasila? Organisasi yang udah didirikan sejak 28 Oktober 1981 itu cukup kuat dalam menggalang massa sebab kiprahnya dalam mendukung tiap gerakan militer saat masa Orde Baru di era Presiden Soeharto.

Dengan jutaan anggota aktif yang tersebar di berbagai daerah, tentunya dukungan Pemuda Pancasila cukup berpengaruh dalam tiap Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia, begitu juga dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti.

Saat Pilpres 2014 lalu misalnya, Pemuda Pancasila secara terang-terangan memberikan dukungan kepada pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto dan wakilnya Hatta Rajasa.

“Kalo kita masih dalam satu kebersamaan, satu disiplin yang teguh, maka marilah kita pilih Pak Prabowo dan Bapak Hatta Rajasa sebagai calon presiden, dan presiden untuk, sekali lagi, untuk kita pilih,” kata Yapto Suryo Soemarno, Ketua Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila saat peringatan 69 tahun kelahiran Pancasila di Samarinda, Kalimantan Timur.

Peran mereka tak sekedar hanya mendeklarasikan diri, tapi benar-benar membantu menjadi benteng pertahanan kala ada masalah datang. Seperti misalnya, saat Senin, 23 Juni 2014, puluhan orang yang di antaranya menggunakan seragam Pemuda Pancasila mendatangi kantor Satpol PP Surabaya, untuk meminta pertanggungjawaban atas hilangnya lebih dari 1000 spanduk bergambar Prabowo-Hatta.

"Dari percakapan di radio komunikasi yang didengar anak buahnya, perintah itu datang dari Kepala Satpol PP Surabaya. Tidak hanya di Surabaya, laporan yang saya terima juga terjadi di Malang dan Blitar," ujar Ketua DPC Pemuda Pancasila Surabaya Haries Purwoko.

Setelah kedatangan para relawan pendukung Prabowo-Hatta itu, barulah Satpol PP mengklarifikasi bahwa pihaknya memang mencopot spanduk kedua pasangan calon presiden karena tertempel di pohon.

"Kami sudah koordinasi dengan semua relawan, dan bukan hanya alat peraga Prabowo-Hatta yang diturunkan, tapi juga yang bergambar Jokowi-JK," terang Kepala Satpol PP Surabaya, Irvan Widiyanto.

Dari sini kita bisa melihat, bagaimana anggota Pemuda Pancasila cukup ekspresif dalam menanggapi setiap kasus yang ada, khususnya bagi seseorang yang mereka bela. Meskipun saat Pilpres 2014 pasangan nomor urut satu Prabowo-Hatta harus menerima kekalahan karena hanya mendapatkan 62.576.444 suara (46,85 persen), sementara Jokowi-JK lebih unggul dengan perolehan 70.997.833 suara atau 53,15 persen.

Tapi, tentunya menjelang Pilpres 2019 yang sudah memasuki masa kampanye ini, barisan berseragam oranye hitam itu dipertanyakan kembali arah dukungannya.

Bertemu Presiden Jokowi Namun Nyatakan Sikap Netral

Pengurus Pusat Pemuda Pancasila pada Senin, 5 November 2018 kemarin baru saja datang ke Istana Merdeka, Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Kabarnya, pertemuan itu untuk membahas situasi politik kebangsaan.

"Menurut kami ini bisa jadi satu pelajaran yang buruk terhadap pengembangan bangsa. Karena Pilpres 2014 kita rasakan ada kubu-kubu. Jadi jangan kita ini, karena hoaks ribut. Kita punya banyak tantangan ke depan. Kalau ada tantangan ke depan, kita harus bersatu," kata Ketua Umum Pemuda Pancasila, Yapto S Soerjosoemarno yang menyoroti atmoster politik di Tanah Air memburuk jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pilpres 2019. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Pemuda Pancasila (@pemuda.pancasilaphotos) on

Namun begitu, saat ditanyai mengenai arah politik Pemuda Pancasila di Pilpres 2019, Yapto enggan banyak berkomentar. Katanya, seluruh anggota dan pengurus Pemuda Pancasila boleh menentukan sikapnya sendiri, apakah mendukung calon pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin atau nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno. 

"Anggota saya ada di Gerindra, Golkar yang dukung beliau (Jokowi), NasDem, bahkan caleg dari semua partai. Kalau kami menentukan, saya membuat PP pecah. Biarkan mereka memilih pilihannya," katanya.

Perlu diketahui, Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Kaderisasi Pemuda Pancasila Bambang Soesatyo sendiri secara pribadi sudah mendklarasikan diri mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. Bahkan, kabarnya Jokowi juga akan diundang dalam Musyawarah Besar (Mubes) Pemuda Pancasila.

"Kami undang beliau (Jokowi) tahun depan di Mubes, artiin aja sendiri," kata Bambang Soesatyo dalam kesempatan yang sama.

Selain mengenai politik kebangsaan, Pemuda Pancasila juga menawarkan program kerja kepada Jokowi. Mulai dari program kerja di sektor ekonomi, sosial, politik, sampai pertahanan keamanan negara. Yapto menjabarkan bahwa pihaknya mampu membantu pemerintah dalam mempercepat pembangunan bangsa.

“Kami tawarkan beberapa aspek yang mungkin beliau berkenan, bisa lewat salah satu departemennya untuk kerja sama dengan kita. Atau kalau kami diminta, kami bisa menyampaikan konsep dalam pelaksanaan," papar Yapto.

"Nanti urusan kita sama menteri yang berhubungan, itu nanti jadi program pemerintah kalau diterima‎, kalau enggak diterima ya bukan urusan kita," lanjutnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Pemuda Pancasila (@pemuda.pancasilaphotos) on

 

Related Article