Pemilu Pertama, Bingung Berlipat Ganda

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 akan menjadi pemilu saya yang pertama kalinya. Pastinya bukan hanya saya yang berpartisipasi menyumbangkan suara secara perdana. Bagi saya yang baru berusia 18 tahun ini, pemilu ini membawa pengetahuan dan pengalaman baru. Gimana tidak, sebelumnya saya tidak memerdulikan pemilu yang diselenggarakan. Bahkan bisa dibilang saya tidak tahu atau mengerti apa-apa.

Yang saya ingat, pemilu bisa menambah hari libur dalam satu tahun dan kesempatan untuk bangun siang juga bertambah. Tapi saya juga suka merasa gembira dan semangat untuk menemani anggota keluarga lain yang punya hak pilih ke Tempat Pemilihan Umum (TPU) dekat rumah dan iseng-iseng mencelupkan jari kelingking saya pada tempat tinta ungu. Setelah itu, hari berjalan biasa saja dan saya masih tidak sadar bahwa yang anggota keluarga saya lakukan bisa bawa perubahan pada negara dalam 5 tahun ke depan.

Menjelang pemilu, biasanya obrolan keluarga juga dipenuhi topik-topik seputar hal ini. “Harus pilih siapa nih?”, “Kalian dukung partai mana?” atau “Gue sih bakal pilih kandidat ini” jadi salah satu opsi kalimat yang sering dilontarkan. Karena belum punya hak pilih dan merasa topik itu terlalu ‘berat’, saya jadi malas memperhatikan obrolan itu. Memang mungkin belum umurnya. Mungkin juga perasaan ini bukan hanya saya yang mengalami. Banyak teman saya yang juga merasa malas mendengarkan pembicaraan-pembicaraan politik menjelang pemilu dulu.

Beda Dulu, Beda Sekarang

Nah, karena sekarang saya dan teman-teman saya punya hak pilih, obrolan politik itu malah jadi topik kami saat ngumpul. Apalagi ini kali pertama kami milih, jadi enggak sabar juga untuk berkontribusi. Kami pun berpikir untuk enggak salah pilih.

Merasa antusias untuk memilih dan mencelupkan jari pada tinta ungu secara sah, iya. Merasa bingung, enggak usah ditanya! Jujur aja, saya dan teman-teman masih enggak tau harus memilih siapa; baik itu calon anggota legislatif maupun calon presiden-wakil presiden.  Khawatir salah pilih pun jadi salah satu ketakutan kami.

Untuk mengurangi resiko salah pilih, ngobrol-ngobrol dengan mereka yang punya pengalaman memilih jadi salah satu solusi yang dicoba. Orangtua, kakak, dan orang-orang lain yang lebih tua dan saya kenal akhirnya saya coba ajak ngobrol dengan harapan dapat pengetahuan harus memilih siapa dan kenapa harus milih orang itu. Berbagai berita pun saya tonton dan baca demi mendapat informasi dan penerangan. Bukannya mendapat jawaban, kadang malah suka tambah kebingungan dan kekhawatiran. Kalau lingkungan sekitar terlalu sibuk ngomongin politik dan punya pandangan yang beda-beda, malah juga bikin makin bingung dan khawatir.

Di tengah kebingungan dan kekhawatiran ini, banyak dari kami yang mungkin ingin menyerah atau cenderung untuk tidak peduli untuk memilih. Sering kita dengar teman-teman kita berkata “Ah udah lah, golput aja, yuk,”, “Bodo amat, yang penting pilih lah” atau “Terserah sih, gue mah ikut keluarga aja”. Percakapan yang seperti ini lah yang membuat kami cenderung mengikuti arus dan jadi malas untuk mengikuti berita politik. “Kalau teman-teman sendiri gak ngerti dan gak peduli, kenapa gue harus?” pasti gitu pemikirannya.

Media juga sama aja. Kebanyakan sebarin berita politik, malah makin nambah kegalauan untuk mutusin milih siapa. Ditambah lagi, berita yang tersebar susah dicek kebenarannya. Entah itu hoaks atau bukan, susah banget dibuktiin. Belum lagi media-media yang dengan terang-terangan menunjukkan keberpihakannya pada satu kubu. Bikin makin males ngikutin berita politik, termasuk malas cari tau lebih banyak informasi untuk memantapkan pilihan pemilu tahun depan.

Padahal katanya, kaum milienial, termasuk saya, lagi jadi “sasaran utama” pemilu ini. Berbagai cara dilakukan untuk mendekati kami. Sayangnya, saya belum merasa kalau saya sudah dijangkau mereka. Saya belum merasa kalau mereka sudah meyakini hati saya supaya saya memilih calon-calon tertentu pada bulan April mendatang. Lupakan dulu deh program-program yang ditujukan bagi kami, para milenial dan pemilih awam ini! Kami saja tidak diajarkan cara berpolitik secara sederhana dan menjadi peserta di negara demokrasi ini.

Untungnya, saya mulai belajar tentang prosesi pemilu yang sedang terjadi ini karena saya sadar bahwa suara saya itu penting. Semua demi memilih wakil rakyat yang tepat untuk negara ini. Caranya, saya memilih untuk mengikuti isu politik di pemberitaan media. Saya juga suka buka-buka situs partai-partai peserta pemilu supaya tau visi-misi dan program mereka. Terakhir, saya kembali belajar ilmu politik dasar sebagai modal saya menetapkan pilihan. Bagi saya, tentunya ini bukan hal muda karena saya masih baru banget dalam berpolitik.

Balik lagi, karena saya sadar bahwa suara saya itu penting, saya juga mulai aktif ngobrol-ngobrol dengan keluarga dan teman-teman lain. Keikutsertaan pertama ini juga bikin sayasadar bahwa lari dari tanggung jawab memilih juga bukan suatu solusi. Makanya saya terus cari tau dan berusaha menetapkan pilihan.

Beda dari saya yang masih kebingungan dengan pilihan sendiri, teman-teman saya juga sudah ada yang  menetapkan pilihan mereka. Ada yang karena memang tertarik dengan politik dan cari tau tentang segala seluk-beluk mengenai pemilihan umum ini. Ada juga yang mengikuti pilihan suara mayoritas keluarga.

Di sisa waktu ini, saya belum nyerah untuk cari tau lebih banyak informasi sampai saya punya pilihan sendiri. Kalau kamu sendiri, ini pemilu pertamamu bukan? Kalau iya, sudah tau mau pilih siapa nanti?

Aeriel Darriana adalah mahasiswi jurusan Media Communications and International Relations di Monash University, Australia.

Related Article