post

Current Affairs

Vaksin COVID-19 untuk Serikat Sinterklas

Raka Ibrahim, 27 Oktober 2020

Ratusan pemeran Sinterklas di AS kecewa setelah pemerintah batal menyediakan vaksin COVID-19 duluan untuk mereka. Mengapa ratusan Sinterklas didahulukan sebelum jutaan rakyat AS lainnya? Skandal apakah yang mendahului berita menggemparkan ini? Siapakah Ordo Persaudaraan Sinterklas Berjanggut Sungguhan? Apa-apaan yang sebenarnya sedang terjadi?

Saat ini juga, Kementerian Kesehatan dan Layanan Masyarakat AS sedang kebakaran jenggot. Mereka tak hanya kehilangan beberapa pejabat top di tengah pandemi terburuk selama seabad terakhir. Pejabat-pejabat tersebut pun lengser akibat serangkaian skandal yang mengocok perut. Salah satunya insiden Sinterklas.

Ceritanya begini. Asisten Sekretaris Kemenkes, Michael Caputo, punya pekerjaan rumah. Ia perlu membuat kampanye besar-besaran untuk mempromosikan protokol kesehatan dan pentingnya disuntik vaksin COVID-19. Tak tanggung-tanggung, Caputo menganggarkan dana 250 juta dollar AS untuk program sosialisasi ini.

Berhubung sebentar lagi liburan Thanksgiving dan hari raya Natal, Caputo mengajak asosiasi Sinterklas bekerjasama. Tak tanggung-tanggung, ia menelepon Ric Erwin, ketua dari Fraternal Order of Real Bearded Santas, alias Ordo Persaudaraan Sinterklas Berjanggut Sungguhan. Ordo tersebut menaungi 650 penampil Sinterklas yang tersebar di seluruh penjuru negeri, dan kalau mereka mau turut serta, program Caputo dijamin sukses.

Dari sinilah kontroversi bermula. Caputo menjanjikan pada Erwin bahwa para Sinterklas yang dinaunginya bakal mendapatkan jatah vaksin COVID-19 duluan. Caputo membocorkan bahwa pemerintah berencana memberi lampu hijau pada salah satu calon vaksin COVID-19 sekitar bulan November 2020 nanti. Sehingga, anak-anak Erwin bisa divaksinasi paling telat 26 November--bertepatan dengan libur Thanksgiving.

Kongkalikong pejabat tinggi Kemenkes dengan ketua serikat Sinterklas itu direkam diam-diam oleh Erwin, lantas dibocorkan ke Wall Street Journal. “Serius, kamu dan kolegamu bakal dapat duluan. Kalau kalian bukan pekerja esensial, entah siapa lagi yang esensial,” kelakar Caputo.

Balasan Erwin? “Ho ho ho…” ucapnya, sambil tertawa ala Sinterklas. “Aku sayang kamu, Caputo!” Setelah diberi kasih sayang virtual oleh Sinterklas, Caputo cengengesan. “Saya nggak sabar mau cerita ke Presiden Trump soal ini,” ucapnya. “Saya yakin dia bakal senang banget.”

Mulai dari sini, keadaan memburuk. Jadi gini: Caputo tidak cerita ke siapa-siapa kalau dia menjanjikan vaksin COVID-19 duluan ke serikat Sinterklas. Bahkan Menkes AS, Alex Azar, mengaku tidak tahu menahu soal janji ini. Kemenkes memang punya program ratusan juta dollar untuk sosialisasi vaksin, tapi rencananya pemerintah kerjasama dengan influencer, selebritis, dan bikin roadshow. Tidak ada obrolan soal menjanjikan vaksin di muka, apalagi dengan Ordro Persaudaraan Sinterklas Berjanggut Sungguhan.

Ketika Menkes Azar tahu soal janji ngawur ini, ia mencak-mencak. Seperti diwartakan The Guardian, Menkes langsung memerintahkan bawahannya melakukan ulasan strategis terhadap kampanye garapan Caputo. Sebab, Menkes harus tahu apakah kampanye tersebut “memiliki fungsi kesehatan masyarakat yang penting dan sepatutnya.”

Persoalan tidak berhenti di sana, sebab tiba-tiba Caputo mengambil cuti kesehatan selama 60 hari, sementara ajudan topnya mengundurkan diri. Penyebabnya sungguh menggetarkan sukma. Pertengahan September 2020 lalu, Caputo mendadak muncul dalam acara tak resmi yang disiarkan di Facebook Live. Dalam acara tersebut, ia menghimbau suporter Trump untuk bersiap-siap menghadapi “revolusi bersenjata” dan menuding ilmuwan di Kemenkes sendiri “berkonspirasi” menjatuhkan sang presiden.

Ia menuduh bahwa Center for Disease Control and Prevention (CDC), salah satu lembaga pengendalian penyakit terpenting di seantero dunia, menyembunyikan “unit pemberontakan” yang khusus bertujuan menjatuhkan presiden Trump. Menurutnya, ilmuwan di CDC berniat “melupakan sains” dan mulai menjadi “hewan-hewan politik” yang berkepentingan.

Caputo pun memprediksi bahwa Trump akan menang di Pilpres 2020, tetapi lawannya, Joe Biden, tidak akan rela sang petahana bertahan. “Ketika Donald Trump menolak mundur jelang pelantikan, tembak-tembakan akan dimulai,” ucap Caputo. “Semua yang sudah kamu lihat sejauh ini nggak ada apa-apanya. Kalau kamu punya senjata, beli amunisi sebanyak-banyaknya.”

Sementara itu, Paul Alexander, ajudannya, juga terjegal skandal. Ia sedang menghadapi investigasi internal karena berupaya mengendalikan informasi dan pesan yang dikeluarkan Kemenkes ke publik, termasuk mengubah-ubah isi laporan COVID-19 dari CDC. Alexander dan Caputo kongkalikong agar angka kasus COVID-19 terlihat tidak seburuk kenyataan, supaya klaim Trump bahwa pandemi telah terkendali terbukti nyata.

Kini, Alexander telah mengundurkan diri dan Caputo mengambil “cuti kesehatan”--cara halus untuk menyingkirkan diri. Sementara, Kemenkes AS garuk-garuk kepala berupaya memadamkan api keributan, dan Ordo Persaudaraan Sinterklas Berjanggut Sungguhan kecewa karena di-PHP pejabat sok ide.

AS masih jadi negara dengan jumlah kasus dan kematian akibat COVID-19 tertinggi di dunia. Per 27 Oktober 2020, lebih dari 8.6 juta orang telah terinfeksi di AS dan 225 ribu orang telah meninggal dunia. Akhir pekan lalu, jumlah kasus baru per hari naik ke angka tertinggi sejak pandemi bermula.