NJ Mania: Jakarta Bukan Milik Satu Klub

Barangkali, tak lama lagi kita akan melihat pemandangan berbeda di ibu kota saban Persija Jakarta bertanding. Jika biasanya jalanan dipenuhi Jakmania, pendukung setia Persija, kelak para Aparatur Sipil Negara (ASN/PNS) Pemprov DKI boleh jadi turut lebur dalam dalam kemeriahan itu, setidaknya dari segi pakaian.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana mewajibkan ASN DKI untuk mengenakan atribut Persija di lingkungan kerja saat klub sepak bola itu bertarung di lapangan hijau. Ide itu disampaikan Anies dalam halalbihalal dengan Persija dan The Jakmania di Rumah Dinas Gubernur DKI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (27/06) malam.

Anies mengatakan, seragam gaya Persija bakal dipakai dalam acara-acara formal seperti rapat hingga tingkat kementerian. "Saya akan terus dukung, kalau Persija bertanding, semua pegawai Pemprov DKI pakai baju Persija," kata Anies. Bagi sang gubernur, tampil serba oranye adalah cara menunjukkan dukungan kepada juara Liga 1 musim 2018 itu. "Sedang disiapkan karena desainnya berbeda," ujarnya.

Keseriusan Anies tampak dari rencana Pemprov DKI mengadakan sayembara desain pakaian tersebut. "Ingat ketika baju untuk Satpol PP disayembarakan, kemudian sayembara untuk pakaian guru, tiga atau empat bulan lalu," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (02/07)

Rancangan yang dimaksud tentu merujuk ketentuan dasar "pakaian kantoran", yaitu berkerah dan sebagainya. "Sebenarnya ini bisa dilakukan di semua wilayah, artinya di kota-kota lain pun bisa dilakukan. Nah, kita di Jakarta klubnya Persija," kata Anies.

Ketum NJ Mania: Pak Gubernur Tak Adil

Rencana Anies mengharuskan ASN tampil serba oranye itu dinilai tak adil sebab Persija bukanlah satu-satunya klub sepak bola Jakarta.

“Ya nggak adil, sepertinya nggak etislah Gubernur DKI bicara seperti itu. Contohnya kayak Persib Bandung di Jawa Barat, apakah gubernurnya bilang ke semua PNS untuk pakai jersey Persib? Kan nggak,” kata Ketua Umum North Jakarta Mania (NJ Mania)--pendukung Persitara Jakarta Utara--Farid saat dihubungi Asumsi.co, Rabu (03/07).

Persitara bermarkas di Stadion Tugu, Jakarta Utara. Tim berjuluk Laskar Si Pitung itu didirikan pada 1979, dan pada 1985 klub yang identik dengan warna biru ini resmi sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara. Berbeda dari Persija, sejak berdiri, Persitara tak mendapatkan kucuran dana yang sebanding dengan Persija. Persija mendapat kucuran dana APBD sekitar Rp22 miliar, sementara Persitara hanya mendapatkan jatah senilai Rp3 miliar. Kini pun Persitara jatuh-bangun di Liga 3, sementara Persija ajek berkompetisi di kasta tertinggi, dengan reputasi dan prestasi baik sehingga mulus jalannya untuk menjadi ikon ibu kota.

Pada 2009, di era Gubernur Sutiyoso, Persitara bahkan hanya dianggap sebagai tim pelengkap. Keterpinggiran Persitara makin tampak dalam "Jakarta Satu", yaitu rencana menggabungkan Persija dan Persitara. Kalau tak ditentang keras NJ Mania, barangkali klub itu sudah tak ada lagi. 

“Kalau memang gubernur cinta klubnya, ya dia pakai sendiri bajunya. Jangan mewacanakan seperti itu. Banyak klub di Jakarta ini, bukan cuma satu. Ada lima klub di lima wilayah. Misalnya PSJS sudah mulai tumbuh lagi, di wilayah Timur Jakarta sudah mulai lagi, wilayah Barat Jakarta juga mulai, apalagi kita yang di Utara Jakarta seperti Persitara ini,” ujar Farid.

Selain Persija di Jakarta Pusat, sejak dulu para penggemar sepak bola ibu kota mengenal Persijatim di Jakarta Timur (sekarang berubah jadi Sriwijaya FC), PSJS Jakarta Selatan, Persijabar Jakarta Barat, dan Persitara di Jakarta Utara. Namun, yang bertahan sampai hari ini memang hanya Persija di Liga 1 serta Persitara, PSJS, dan Persijabar di Liga 3.

Sampai hari ini Persitara masih hidup, dan keberadaannya, kata Farid, seharusnya mendapat perhatian lebih. “Apalagi kami di Persitara ini punya basis suporter yang juga militan. Sekarang biar banyak orang tahu bahwa pengelolaan tim Persitara sudah dikembalikan lagi ke NJ Mania, artinya kembali lagi ke suporter yang mengelola, ini kan suatu hal yang luar biasa.”

NJ Mania Mengelola Persitara

Pengelolaan Persitara di tangan yang tak tepat membuat klub kebanggaan masyarakat Jakarta Utara ini harus berjuang keras mengarungi kompetisi dari kasta bawah. Pada kompetisi Divisi Utama 2014 lalu, Persitara bahkan tak bisa menyelesaikan liga dengan sisa tiga pertandingan, situasi itu diperburuk dengan persoalan gaji pemain yang tertahan dan utang kepada pengelola Stadion Tugu. Pada musim itu, Persitara dinyatakan gugur dan mendapatkan sanksi berupa denda. Nahasnya lagi, tak lama berselang, terjadi konflik PSSI yang mengakibatkan kompetisi nasional terhenti. Persitara semakin terombang-ambing.

Persitara diambil alih oleh NJ Mania pada kompetisi Liga 3 tahun 2017, selama satu musim saja. Namun, perubahan itu tak serta-merta menyelesaikan permasalahan klub lantaran banyaknya kepentingan dari para pemilik dan para calon pengelola Persitara. Bahkan, pada musim 2018, Persitara sempat dikelola oleh seorang caleg dengan hak pengelolaan selama satu tahun. Lagi-lagi, hal ini tak membuat Persitara bangkit karena disusupi kepentingan politik yang memanfaatkan Persitara dan pendukungnya sebagai pendulang suara.

Namun, hari-hari ini NJ Mania lebih optimistis soal masa depan klub. Farid yakin NJ Mania bisa memberi kontribusi pada kebangkitan klub. “Baru dua hari kemarin turun surat mandat pengelolaan langsung klub yang diserahkan ke NJ Mania dan saya selaku ketua umumnya.”

Artinya, NJ Mania masih menyimpan energi besar untuk membawa Persitara kembali bersaing di sepak bola nasional. Bahkan, Farid menyebut NJ Mania terus berkoordinasi dengan Pemkot Jakarta Utara. “Nanti hari Kamis saya akan bertemu Kapolres Jakarta Utara untuk membicarakan Persitara yang sekarang dikelola oleh suporter. Hari Jumat, kami bertemu dengan Pak Wakil Walikota.”

Pertemuan itu digelar dengan maksud meminta arahan dan segala macam dukungan teknis dari pemerintah kota dan kepolisian. “Kalau bicara suporter, kami punya apa sih? Kami cuma punya semangat, loyalitas, dan militansi. Kalau materi, ya, nggak punya, tapi kami punya basis massa yang bisa dimaksimalkan untuk mendorong stakeholder-stakeholder besar di Jakarta Utara agar turut membesarkan Persitara.”

“Jangan gunakan jabatan politik untuk memerintahkan orang lain memakai atribut klub tertentu, sedangkan klub di Jakarta ini ada banyak. Jakarta nggak cuma milik satu klub,” kata Farid.

Related Article