NASA Dituduh Bikin Zodiak Baru. Ini Penjelasan Mereka.

Hoaks tersebut mengudara sekian tahun sekali, tiap detailnya selalu menggelikan, dan selalu saja ada yang menelannya mentah-mentah. Namun, kali ini NASA turun gunung untuk menegaskan sekali lagi pada jutaan netizen di dunia: tidak, mereka tidak menciptakan zodiak baru.

Kami jelaskan duduk perkaranya dari awal. Pada 2011, astronom dari Minnesota Planetarium Society mendapati bahwa karena tarikan gravitasi bulan, posisi jajaran bintang-bintang di antariksa telah bergeser dari bumi. Sejak saat itu, mengemuka gagasan bahwa rentang waktu tiap zodiak telah berubah pula.

Sebuah legenda urban tercipta. Tak hanya ada 12 rasi bintang alias zodiak di muka bumi. Kata mereka, karena penemuan baru ini, NASA telah menambahkan zodiak ke-13: Ophiuchus, atau sang pemanggul ular. Otomatis, waktu lahir tiap zodiak berubah. Siapapun yang lahir antara 29 November sampai 17 Desember tak lagi dihitung sebagai Sagittarius, tapi dianggap berzodiak Ophiuchus.

Barangkali kamu pikir ini persoalan konyol. Bahwa di negara semaju AS, di masyarakat yang telah mengemban hasil ribuan tahun peradaban, topik sereceh ini semestinya jadi angin lalu saja. Tetapi tidak. Hoaks tersebut muncul musiman macam wabah flu, dan tiap kali netizen akan berbondong-bondong protes ke NASA karena telah memporak-porandakan horoskop mereka. 

Ya, NASA, yang kerjaannya mengirim pesawat ulang alik ke Mars itu tiba-tiba emporak-porandakan horoskop. Karena mereka… iseng?

Akhir pekan lalu (17/7), hoaks tersebut mengudara kembali. Saking rame dan seriusnya hujatan netizen, NASA menanggapinya secara langsung melalui akun Twitter mereka. “Enggak, kami tidak mengubah zodiak,” sanggah mereka. “Kami cuma melakukan perhitungan matematis.” 

Mereka lantas meninggalkan tautan artikel dari laman Tumblr resmi NASA (iya, NASA punya laman Tumblr resmi) yang menjelaskan persoalan tersebut secara menyeluruh. Konklusi mereka? Ini semua salah orang-orang Babilonia.

NASA memulai dengan menjelaskan bahwa astrologi dan astronomi adalah dua hal berbeda. Astronomi, jelas mereka, adalah “studi ilmiah terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan antariksa.” Sementara astrologi, menurut definisi mereka, “tidak dianggap sebagai bidang studi ilmiah”, namun banyak dinikmati orang “selayaknya novel-novel fantasi.”

NASA, sebagai lembaga antariksa AS, tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan dunia horoskop. Mereka cuma mengurusi rasi bintang dari pendekatan ilmiah, bukan hendak meramal masa depan manusia berdasarkan posisi jajaran bintang.

Secara teknis, zodiak ditentukan oleh rasi bintang mana saja yang sejajar dengan bumi dan matahari saat planet kita sedang mengorbit. Bila ditelaah secara ilmiah, saat mengorbit bumi sebetulnya sejajar dengan 13 rasi bintang. Selain 12 rasi zodiak yang sudah kamu ketahui, rasi tambahan itu adalah Ophiuchus. 

Dari sinilah hoaks bahwa NASA menambah satu zodiak bermula. NASA sekadar bicara dari sudut pandang ilmiah. Sementara, netizen mengira gara-gara keberadaan Ophiuchus, mereka sekarang berubah jadi Capricorn, dan siapa juga sih yang mau jadi Capricorn?

Ini pledoi NASA: sebenarnya, Ophiuchus bukan rasi bintang baru. Tiga ribu tahun lalu, peradaban Babilonia kuno telah mencatat keberadaan rasi bintang Ophiuchus dan memperhitungkannya dalam ilmu astrologi. Mereka tahu ada 13 rasi bintang yang dilewati bumi. 

Namun, mereka sudah punya kalender yang mencatat 12 bulan dalam setahun, dan mereka tidak mau mengubah kalendernya lagi. Maka, dari 13 rasi bintang yang dilewati bumi, mereka memilih 12 rasi bintang buat dicocok-cocokkan ke setiap bulan dan menyisihkan satu rasi bintang. Kebetulan saja, rasi bintang yang tak beruntung adalah Ophiuchus.

Bukan hanya itu perbuatan peradaban Babilonia kuno. Setiap rasi bintang memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda, sehingga waktu matahari sejajar dengan tiap rasi bintang berbeda-beda pula. Sederhananya, ada zodiak tertentu yang seharusnya lebih sedikit jumlah harinya ketimbang zodiak lain. 

Garis dari bumi ke matahari ke rasi bintang Virgo, misalnya, membentang selama 45 hari. Sementara, garis dari bumi ke matahari ke rasi bintang Scorpio hanya membentang selama 7 hari. Lagi-lagi Babilonia turun tangan. Supaya sederhana, setiap zodiak diberikan “rentang waktu” yang sama persis: yakni sebulan.

Selain menyisihkan satu rasi bintang dan mengotak-atik jatah waktu setiap zodiak, perhitungan astrologi bertambah runyam karena persoalan lain: Bumi sendiri sudah bergeser sejak era Babilonia kuno. Tiga ribu tahun setelah peradaban mereka, sumbu bumi di Kutub Utara tidak menghadap ke arah yang persis sama. Artinya, perhitungan tiap zodiak bakal bertambah kacau lagi.

Begitulah kesimpulannya. NASA sekadar mengacu pada perhitungan ilmiah--yakni posisi riil rasi bintang terhadap bumi dan matahari. Sementara, ilmu astrologi mengacu pada indikator yang lebih abstrak dan sukar dijangkau nalar. Pada akhirnya, semua terserah masing-masing orang: apakah mau percaya NASA, atau mau percaya pseudosains dari Babilonia kuno?

Saya pribadi memilih percaya pseudosains, sebab jika NASA benar, artinya saya Gemini. Iyuh.

Related Article