post

Pop Culture

Model Halima Aden Mundur dari Industri Fesyen Demi Hijab

Permata Adinda, 30 November 2020

Foto: IG Halima Aden

Model muslim Halima Aden (23) memutuskan untuk mundur dari dunia fesyen setelah merasa dirinya mesti sering mengorbankan keyakinannya demi pekerjaan.

Aden, model pertama yang mengenakan hijab di kontes kecantikan Miss Minnesota Amerika Serikat, menulis di Instagram-nya bahwa pandemi telah membuatnya memikirkan kembali perjalanannya mengenakan hijab.

“Melihat ke belakang, aku melakukan hal yang tidak mau aku lakukan, yaitu mengkompromikan diriku untuk dapat diterima,” tulis Aden di Instagram. “Ingatlah bahwa ini disebut ‘perjalanan hijab’ karena alasan. Tidak ada kata terlambat untuk menetapkan kembali batasanmu.”

Tentang Halima Aden

- Aden lahir di kamp pengungsian di Kenya. Ia adalah orang Somalia yang pindah ke Amerika Serikat di usia 6 tahun. Ketika sekolah di SMA Apollo, teman-teman kelasnya memilihnya sebagai ratu homecoming.

- Ia masuk ke semifinal Miss Minnesota USA di usia 18 tahun, dan menjadi model pertama yang memakai hijab dan burkini di Sports Illustrated Swimsuit Issue 2020.

- Foto-fotonya tampil di sampul majalah American Vogue, Vogue Arabia, Elle, dan Allure.

Pengorbanan Aden Menjadi Model

- Demi pekerjaannya sebagai model, tak jarang Aden mesti meninggalkan ibadah salatnya.

- Aden juga kerap diminta untuk menutup kepalanya dengan pakaian lain selain hijab, seperti jeans ataupun objek-objek hiasan lain.

- Komitmennya untuk tampil sederhana kerap gagal karena tuntutan memakai rias wajah tebal.

- Ia menangis di kamar hotelnya setelah sesi pemotretan, menyesal tidak menyuarakan apa yang ia anggap benar. Tekanan di industri fesyen itu pun sempat membuatnya membenci hijab.

- “Sejujurnya, aku merasa sangat tidak nyaman. Ini bukan diriku,” jelas Aden. “Aku hanya dapat menyalahkan diriku sendiri karena lebih memedulikan kesempatan daripada apa yang benar-benar penting.”

Diskriminasi atas Hijab

Meskipun representasi untuk perempuan berhijab mulai terbuka di industri fesyen, tetapi diskriminasi tetap ada—terutama di negara-negara Eropa.

- Di Amerika Serikat, perempuan Muslim menyuarakan pengalaman-pengalaman mereka didiskriminasi karena memakai hijab. Larangan negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim untuk datang ke Amerika Serikat, yang ditetapkan oleh Donald Trump, juga semakin memperkeruh suasana.

- Prancis melarang hijab dikenakan di sekolah negeri ataupun tempat kerja. Begitu pula dengan Kanselir Jerman Angela Merkel yang pernah mengatakan pada 2016 bahwa burka mesti dilarang.

Dukungan kepada Aden

Keputusan Aden mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari Rihanna, Gigi Hadid, dan Bella Hadid. Ada pula yang membagikan pengalaman serupa kepadanya.

- “Sangatlah penting, baik bagi seorang hijabi ataupun bukan, untuk merefleksikan diri dan kembali ke jalur yang kita rasa benar—itulah satu-satunya cara untuk dapat merasa penuh,” respons Gigi Hadid terhadap postingan Instagram Aden.

- “Keputusan untuk menganggap lebih serius hijab telah menginspirasiku untuk mempertahankan kepercayaanku dan tidak menyesali identitasku sebagai perempuan Muslim kulit hitam,” ujar Asmaa Ali yang juga pemakai hijab. “Aku rasa esensi dari apa yang Aden katakan bukanlah tentang cara yang benar atau salah dalam memakai hijab. Pesannya adalah untuk menjadi jujur dengan diri sendiri.”

- “Sejujurnya, cerita Halima Aden membuatku menangis. Aku melihat kembali foto-foto lamaku dan aku merindukan diriku yang dulu itu lebih dari apapun,” sebut model Ikram Abdi Omar.