post

Current Affairs

Meski Dinilai Aman, Thailand Baru Akan Membuka Pariwisata Internasional pada 2021

MM Ridho, 18 Agustus 2020

Dilansir Malay Mail, Johann Jones selaku Kepala Keselamatan Tourlane, sebuah startup perjalanan yang berbasis di Berlin, meluncurkan daftar tujuan wisata teraman bagi wisatawan internasional saat pandemi COVID-19 pada Senin (10/8). Peringkat pertama diduduki oleh Thailand.

Kriteria penentu daftar negara tersebut meliputi banyaknya sinar matahari per hari untuk aktivitas luar ruangan, kepadatan penduduk di tiap negara, juga skor Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) yang mengevaluasi kemampuan negara dalam merespons risiko kesehatan masyarakat dan keadaan darurat yang menjadi perhatian nasional dan internasional

Hasilnya, Thailand menduduki puncak daftar negara pariwisata teraman dengan skor IHR 85 persen karena kepadatan populasi sedang, jumlah kasus COVID-19 yang sangat rendah, dan tidak ada kasus penularan domestik (local transmission) selama 84 hari.

Hingga Selasa (18/8), jumlah total kasus yang dikonfirmasi di Thailand mencapai 3.381 kasus positif dan 58 kematian. Hanya ada 125 pasien yang sedang dalam perawatan.

Adapun 9 negara yang menjadi tujuan wisata paling aman di dunia setelah Thailand ialah Yordania, Polinesia Prancis (France Polynesia), Yunani, Uruguay, Italia, Kamboja, Jepang, Irlandia, dan Botswana.

Meski begitu, otoritas Thailand tidak terburu-buru untuk menggelar kembali karpet pariwisata internasional dalam waktu dekat. Chattan Kunjara Na Ayudhya selaku Wakil Gubernur Otoritas Pariwisata (organisasi di bawah Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand) mengatakan bahwa tidak ada perbincangan tentang pembukaan kembali segera industri pariwisata Thailand, yang meraup 1,93 triliun baht (Rp913 triliun) tahun lalu.

"Saya tidak melihat sinyal dari pemerintah bahwa Thailand akan dibuka kembali tahun ini," katanya pada seminar virtual tentang kondisi pariwisata Sungai Mekong pada 5 Agustus.

"Periode Natal, biasanya musim yang ramai, sekarang dalam bahaya, dan saya bahkan melihat Tahun Baru Imlek di bulan Februari dengan ragu-ragu,” kata Chattan menambahkan.

Menurut Bangkok Post, Negeri Gajah Putih itu mencatat rekor 39,8 juta wisatawan asing pada 2019. Angka itu melebihi separuh jumlah penduduk Thailand. Selain itu, sektor pariwisata menyumbang sekitar 12 persen dari ekonomi negara.

Kendati risiko finansial penutupan Thailand dari kunjungan wisatawan internasional sangat tinggi, Chattan mengatakan penduduk setempat tetap menunjukkan keprihatinan tentang kemungkinan kasus infeksi baru yang diimpor ke negara tersebut.

Dengan tidak adanya wisatawan asing, Thailand telah mengalihkan perhatiannya untuk mempromosikan pariwisata domestik di negaranya dengan menggelontorkan tiga paket stimulus senilai 22,4 miliar baht (Rp10,5 triliun) pada bulan Juni. Paket pertama akan digunakan untuk mendanai perjalanan liburan bagi 1,2 juta petugas kesehatan serta menyuntikkan anggaran tersebut ke perusahaan tur lokal. Paket lain akan mensubsidi makanan, akomodasi dan layanan di tempat-tempat paling diminati wisatawan, serta tiket pesawat domestik dan perjalanan.

“Masih banyak kegugupan,” kata Chattan. “Kami mengambil pendekatan yang sangat, sangat hati-hati.”