Mengenal Incel & Kontroversi Film Joker

Sepanjang 2019, barangkali tak ada film yang lebih kontroversial ketimbang Joker. Film arahan sutradara Todd Philips itu tak hanya menjadi buah bibir karena penampilan apik Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck/Joker. Kisah film tersebut juga ramai dikritik akibat dianggap mengglorifikasi kekerasan dan tidak patut secara politik. Namun, apa muasal perdebatan heboh ini?

Yang paling jamak dipersoalkan adalah bagaimana film tersebut menampilkan perubahan karakter Arthur Fleck dari seorang pria merana menjadi maniak dengan riasan. Sepanjang film, Fleck digambarkan sebagai pria yang terus menerus dipencundangi. Ia menderita gangguan jiwa, tetapi layanan psikologis yang disediakan negara bubar karena kekurangan dana. Ia merawat Ibunya, tapi Ibu yang ia sayangi justru menyimpan rahasia kelam tentang masa lalunya. Penonton seolah diposisikan untuk bersimpati kepada Fleck, dan ikut merasakan katarsis ketika ia bertransformasi menjadi sosok Joker dan menyemai kekerasan.

Tanpa pemahaman tentang konteks sosial-politik Amerika Serikat saat ini, banjir kritik tersebut akan tampak seperti rengekan belaka. Beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat diguncang oleh berbagai perubahan sosial-politik yang ekstrem dan saling bertentangan. Joker dipermasalahkan sebab posisi moralnya yang ambigu di tengah pertarungan ini. Film tersebut dinilai tidak peka terhadap geliat zaman, bahkan dituding mengambil posisi yang tidak patut secara politik.

Peperangan Politik & Budaya

Di satu sisi, politik sosial progresif mengalami kemajuan. Keputusan monumental Love Wins yang melegalkan pernikahan sesama jenis, serta aksi #MeToo yang mengekspos kultur pelecehan seksual di berbagai bidang memberi momentum baru bagi gerakan feminis dan hak LGBTQ. Dalam ranah lain, Black Lives Matter memberi kritik tajam terhadap rasisme struktural yang menjangkiti aparat Amerika Serikat, dan meningkatkan kesadaran publik tentang persoalan kesetaraan ras.

Namun, di sisi lain, rangkaian gerakan progresif ini ditangkal oleh orang-orang yang merasa kuasanya sedang dipinggirkan. Seolah menanggapi Black Lives Matter dan optimisme politik liberal ala Buzzfeed, muncul gerakan masif alt right yang merayakan ultranasionalisme serta supremasi kulit putih. Peperangan mereka dimulai dari forum-forum dunia maya, kemudian merambah politik praktis. Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden, serta naiknya ikon-ikon alt right seperti Steve Bannon ke posisi berkuasa di pemerintahan, dinilai sebagai momen kunci bagi gerakan kanan ekstrem di Amerika Serikat.

Di ranah lain, kian tajamnya diskusi tentang feminisme dan hak minoritas seksual juga menemui musuhnya: para incel. Incel sendiri adalah singkatan dari "involuntary celibates", atau perjaka terpaksa. Subkultur daring ini disemarakkan oleh orang-orang yang tidak mampu mendapatkan pasangan romantik maupun seksual, dan resah karenanya. Sekilas, pengertian ini membuat mereka tak jauh beda dengan bocah-bocah jomblo yang meratapi nasib di tongkrongan. Namun, kegamangan tersebut digiring ke ranah yang beracun.

Bagi komunitas incel, mereka berhak atas seks, dan para perempuan bersalah karena tak memenuhinya. Mereka merasa menjadi korban tatanan dunia yang tak adil dan berujung pada kesendirian. Tak heran bila diskusi dalam forum-forum incel disesaki sentimen kebencian terhadap diri sendiri, depresi, maskulinitas toksik, amarah, rasisme, serta tentu saja seksisme.

Lambat laun, kemuakan maya ini terejawantahkan menjadi kekerasan di dunia nyata. Pada 23 Mei 2014, terjadi penembakan massal di Isla Vista, California, Amerika Serikat. Pelakunya adalah Elliot Rodger, seorang yang mengaku dirinya incel. Sebelum berangkat membunuh, ia meninggalkan manifesto sepanjang 137 halaman dan serangkaian video YouTube yang mengisahkan pengalamannya sebagai incel serta dendamnya akibat begitu sering ditolak perempuan. Enam orang meninggal dalam serangan tersebut, sebelum Rodger bunuh diri di tempat.

Tindakan nekat Rodger menjadikannya pahlawan komunitas incel. Ia pun menginspirasi serangkaian pembunuhan massal serupa yang dilakukan oleh incel yang mengelu-elukannya. Pada 23 April 2018, Alek Minassian menabrakkan mobil van-nya ke distrik bisnis Toronto, Kanada, dan membunuh sepuluh orang. Pada November 2018, Scott Beierle menembak mati dua orang perempuan di Tallahassee, Florida.

Keduanya menyampaikan kekaguman kepada Rodger, dan mengidentifikasi diri sebagai incel. Akibat rangkaian insiden penuh kekerasan sekaligus relasi erat incel dengan gerakan alt right, Southern Poverty Law Center menggambarkan incel sebagai “kelompok kebencian” dan bagian dari “ekosistem supremasi laki-laki” yang merajalela di dunia maya.

Karakter Arthur Fleck, seorang lelaki kulit putih penyendiri yang diludahi oleh dunia, dianggap mencerminkan sentimen toksik incel dan alt right. Tasha Robinson dari The Verge, misalnya, menyebut Joker sebagai “wish-fulfillment power trip”. Film tersebut dinilai sebagai kisah yang meladeni hasrat terselubung kita–terutama lelaki–untuk membalas ketidakadilan dunia dengan kekerasan. Kita diajak bersuka cita melihat Fleck mengambil kendali atas hidupnya dengan pembunuhan, sebagaimana para incel merayakan aksi kekerasan nekat Elliot Rodger.

Richard Lawson dari Vanity Fair berpendapat serupa dalam ulasannya. “Bisa jadi, Joker adalah film tak bertanggungjawab yang mengelu-elukan sosok yang seharusnya ia kutuk,” tulisnya. “Apakah film ini ngeri terhadap sosok Joker, atau justru merayakannya?” Pernyataan-pernyataan provokatif sutradara Todd Philips seolah mengamini kekhawatiran tersebut. Kepada Vanity Fair, Philips mengeluh bahwa “budaya woke dan politik progresif telah membunuh komedi” sebab tak ada komedian yang mau menyinggung siapa pun. Oleh karena itulah, ia memutuskan banting setir membesut Joker, sebuah film drama.

Menulis untuk Vox.com, Alex Abad-Santos menilai bahwa kontroversi Joker juga disebabkan oleh semakin maraknya insiden penembakan massal di Amerika Serikat. Sejak kasus Sandy Hook di 2012, telah terjadi 2,200 insiden penembakan massal di Amerika Serikat. Terkait Joker, pada 2012 pula sempat terjadi penembakan massal di sebuah bioskop di Aurora, Colorado, di tengah pemutaran film The Dark Knight Rises. Meski tidak menampilkan karakter Joker, film The Dark Knight Rises adalah bagian dari jagad sinematik Batman dan erat kaitannya dengan Joker.

Maraknya insiden kekerasan, trauma sejarah dari penembakan Aurora, hingga peperangan budaya yang toksik inilah yang kemudian membuat film Joker begitu kontroversial. Film tersebut dinilai dapat membangkitkan hantu-hantu yang selama ini merundung tidur pulas Amerika. Sandy Philips, ibunda salah seorang korban penembakan Aurora, mengaku pada The Hollywood Reporter bahwa ia “khawatir ada satu orang di luar sana yang sedang resah, yang ingin melakukan penembakan massal, dan ia akan merasa terinspirasi oleh film ini.”

Sebagai ungkapan solidaritas, bioskop tempat penembakan di Aurora menolak menayangkan film Joker.

Shitpost dan Ambiguitas

Tentu saja, ada absurditas tersendiri dalam upaya menuntut kepatutan politik dari sosok Joker. Bagi Abad-Santos, ini bukan kali pertama karakter Joker memantik kontroversi. “Sejak dulu, Joker memang digambarkan sebagai karakter ngeri yang tak segan bertindak keji,” tulisnya. “Eksistensi Joker di buku-buku komik selalu mengundang pertanyaan soal apakah penulis dan komikus kerap berlebihan menggambarkan kejahatan Joker, bahkan mengglorifikasi kekerasannya.”

Debat kusir tentang Joker pun dikritik balik karena dianggap berlebihan. Menulis untuk The Guardian, Christina Newland merasa karakter Joker tidak se-hitam putih itu. “Joker tidak berpaling pada kekerasan karena ia gagal secara romantik dan seksual,” tulis Newland. “Arthur Fleck pun tak pernah menyampaikan kebencian terhadap karakter Sophie, perempuan yang ia taksir tetapi tidak menaksirnya balik.”

Newland tak menyangkal bahwa film tersebut dapat dijadikan ikon oleh incel. Hanya, persoalannya lebih kompleks dari yang tampak di permukaan. “Arthur didorong oleh kebutuhannya untuk dicintai dan dianggap, dan dorongan itu memang selaras dengan karakteristik incel,” tulisnya. “Namun, dorongan itu ia kejar melalui ambisinya menjadi komedian. Ketika impian ini pupus, barulah ia berpaling pada kekerasan.”

Penelusuran Tess Owen dari Vice pun mengindikasikan bahwa kepanikan moral tentang Joker bisa jadi dipantik oleh kesalahpahaman. “Dalam pantauan kami, anggota sebuah forum incel yang populer memulai thread tentang Joker di bulan April, hampir bersamaan dengan rilisnya trailer pertama Joker,” tulis Owen. “Namun, mereka tidak mengklaim Arthur sebagai seorang incel. Mereka justru geram dengan orang-orang di media sosial yang membandingkan Joker dengan incel.”

Menurut Owen, komunitas incel justru sempat jengkel kepada Joker. Pasalnya, karakter Fleck dianggap mirip dengan stereotipe publik tentang seorang incel. “Analisis macam ini pasti ditulis oleh seorang yang amat dungu,” tulis seorang anggota forum incel, seperti dikutip Owen. “Cowok buruk rupa mana pun yang hidupnya sengsara dan menentang norma sosial bakal dicap incel. Mereka tidak melihat derita kita, mereka cuma bisa jijik.”

Pada awal September, seorang anggota forum incel bertanya apakah “film tersebut akan menginspirasi orang untuk go ER”, atau meniru Eliott Rodger. Gayung bersambut, anggota forum lainnya mulai mendiskusikan kemungkinan terjadinya insiden penembakan serupa Aurora di penayangan Joker. Dari situlah kepanikan melanda. Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang telah lama memantau komunitas incel, menganggap diskusi ini sebagai ancaman dan mendorong pengamanan aparat di pemutaran-pemutaran film Joker.

Persoalannya, Owen memandang interaksi para incel terkait “going ER” adalah bentuk shitposting belaka. Semisal Anda seorang normie, patut dipahami bahwa shitposting adalah upaya seorang pengguna forum untuk mengunggah konten acak, absurd, atau tolol berulang kali dalam sebuah forum guna merusak alur percakapan dalam forum tersebut. Shitpost juga istilah untuk unggahan yang ganjil, tak penting, dan asal-asalan. Sederhananya, shitpost adalah omongan asal yang semestinya tidak dianggap serius.

Hanya saja, shitposting adalah hobi tersendiri bagi komunitas incel, alt right, hingga pengguna forum-forum secara keseluruhan. Apabila mereka asal bicara tentang rencana penembakan di pemutaran film Joker, lantas aparat dan publik ketar-ketir panik, besar kemungkinan para pengguna forum tersebut malah akan semakin buas melakukan shitposting demi menghibur diri sendiri. Masalahnya, tentu saja, adalah kita tidak pernah tahu siapa yang sekadar shitposting, dan siapa yang bersungguh-sungguh.

Perdebatan terkait film tersebut memang penuh dengan subteks dan konteks yang rumit. Incel, misalnya, dicemooh sebagai wujud maskulinitas beracun. Namun, istilah incel dan komunitas incel justru diprakarsai oleh seorang perempuan. Pada 1993, seorang mahasiswi dan pengguna internet bernama Alana (ia memilih anonimus) menciptakan situs bernama “Alana’s Involuntary Celibacy Project” untuk mendiskusikan kesendiriannya. Kala itu, ia berniat mendirikan komunitas inklusif bagi pengguna internet lintas gender yang gagal secara seksual karena ansietas sosial, status mereka yang termarjinalkan, atau penyakit mental. Tentu, niatan tersebut jauh panggang dari api dengan wujud komunitas incel sekarang.

Joker memang film yang licin dan penuh kontradiksi. Ia memaksa kita untuk mendorong jauh-jauh posisi moral yang hitam putih, tetapi sosok yang berkuasa di Gotham City digambarkan bersifat jahat tidak berkesudahan. Arthur Fleck bertambah gila setelah layanan kesehatan mental yang ia dapatkan ditarik oleh pemerintah, tapi pada saat bersamaan film tersebut dikritik sebab dianggap mengaitkan penyakit mental dengan kekerasan. Film tersebut berupaya untuk politis, dan jelas tidak se-“kanan” The Dark Knight Rises dalam penggambarannya tentang kerusuhan massa dan civil disobedience. Namun di sisi lain, Joker juga dangkal. Melihat lautan poster “Kill the Rich” di film tersebut hampir sama cringe-nya dengan menyaksikan adegan demo serum amoral di Gundala.

Joker mengundang kita untuk mengasihani sosok Fleck, bersuka cita menyaksikannya membunuh, lantas merasa jijik pada diri kita sendiri setelah film usai. Bisa jadi, justru itulah yang diinginkan sang Badut.

Related Article