Megawati Kasihan dengan Prabowo, Perhatian Atau Sindiran?

Megawati Soekarnoputri, sang Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mempunyai pengaruh besar dalam penetapan Presiden Republik Indonesia. Pengalamannya sebagai mantan orang nomor satu di Tanah Air membuat Megawati menyimpan banyak kekuatan. Tak ayal, saat ini Joko Widodo yang merupakan calon presiden dari PDIP akan ikut pada pertarungan Pilpres 2019 nanti.

Hampir sama dengan Megawati, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto juga punya kekuasaan terhadap partainya. Berkat tangan dingin Prabowo, para kadernya berhasil menjadi orang yang dipilih untuk memimpin Ibu Kota. Bahkan Sandiaga Uno yang masuk ke Partai Gerindra pada 2015 lalu kini dipercaya menjadi calon wakil presiden nomor urut 02 mendampingi Prabowo.

Dengan melihat pilihan politik yang berbeda itu, beberapa orang mungkin berpikiran bahwa Megawati dan Prabowo saling meyimpan masalah. Namun, baru-baru ini Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa dirinya tidak punya konflik apapun dengan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Hal ini disampaikan Megawati saat memberikan pembekalan kepada caleg PDI-P, di Kantor DPP PDI-P, Jakarta Pusat.

“Ndak pernah saya menghujat orang. Boleh cari di mana, ngomongin siapa-siapa, ndak. Sampai Pak Prabowo pun dengan saya hormat karena saya tidak pernah mengatakan hal-hal yang jelek. Pak Prabowo juga tidak pernah menjelekkan saya. Ndak pernah," kata Megawati di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis, 15 November 2018.

Meski mengaku saling menghormati, namun Megawati sendiri merasa terganggu dengan orang-orang yang ada di sekeliling Prabowo. Menurut putri dari pendiri bangsa itu, orang-orang di sekeliling Prabowo kerap mengkritik pemerintahan Joko Widodo dengan cara yang tidak pantas.

"Kan kasihan ya. Kalau saya bilang, kasihan Beliau (Prabowo). Kenapa orang di lingkungannya seperti begitu? Seakan-akan itu adalah orang di lingkungannya yang selalu menjalankan hal-hal yang buruk, yang mengkritisi pemerintah dengan cara yang menurut saya bukan kritikan positif," ujar Megawati berempati.

Di sela-sela pidatonya itu kemudian tiba-tiba Wakil Sekjen PDI-P Eriko Sotarduga menghampiri Megawati dan seakan memberitahukan sesuatu. Tak terdengar apa yang dibicarakan, namun sepertinya sedang mengingatkan sang Ketum bahwa acara itu dihadiri oleh para awak media. Sebab, setelah itu Megawati kembali menekankan tentang ucapannya.

"Saya sengaja buka ke media. Ini adalah hal yang perlu saya katakan," sebutnya.

Ibu dari tiga anak ini juga memiliki harapan, bahwa pernyataannya yang lugas itu tidak dipelintir oleh sekelompok orang untuk membuat suasana menjadi keruh. Mega menjamin, jika ada yang salah paham dengan ucapannya ia akan menghubungi Prabowo secara langsung.

"Kalau saya sebut Pak Prabowo di-bully, saya telpon Pak prabowo. Aneh kan. Kasihan kan. Kenapa sih Republik ini dibuat seperti ini? Sebuah negara yang dibangun dan bangsa yang dibangun dengan susah payah, sepertinya sekarang mau dipisah-pisahkan, diadu domba dengan segala cara. Ya tentu saya tidak bisa menerima," ungkap Mega.

Pasangan Mega-Prabowo yang Pernah Bersatu di Pilpres 

Megawati dalam satu kesempatan itu memang sepertinya hanya ingin menyindir para pendukungnya Prabowo saja, namun tidak bermaksud untuk memberikan penilaian yang buruk terhadap orang yang pernah mendampinginya di Pilpres 2009 silam.

Perlu diketahui, saat 9 tahun lalu tepatnya 16 Mei 2009 ada tiga pasangan capres dan cawapres yang mendeklarasikan diri menjadi peserta Pilpres. Tiga pasangan itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Jusuf Kalla-Wiranto, dan Megawati Soekarnoputri- Prabowo Subianto.

Proses koalisi  PDI Perjuangan dan Gerindra sendiri berlangsung cukup panjang dan alot, sehingga keputusan final baru bisa ditentukan saat menjelang tengah malam.

"Saya telah mendapat kehormatan yang besar diajak Ibu Megawati untuk mendampingi Beliau dalam rangka meraih mandat dari rakyat Indonesia sebagai wakil presiden beliau untuk memimpin perubahan, memimpin perbaikan kehidupan bangsa, dan perbaikan ekonomi bangsa," kata Prabowo, saat deklarasi di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 16 Mei 2009.

Namun di Pemilu 2014, PDI Perjuangan dan Gerindra pecah kongsi sebab lebih memilih mengusung pasangannya masing-masing. PDI-P mengusung kadernya yaitu Joko Widodo yang dipasangkan dengan Jusuf Kalla. Sedangkan Partai Gerindra membiarkan Ketua Umumnya Prabowo maju sebagai capres bersama Hatta Rajasa. Sejak itulah kader-kader Gerindra cukup vokal dalam mengkritisi kerja-kerja pemerintahan Jokowi-JK.

Related Article