Media, Teori Konspirasi, dan Infodemi 

Salah satu hal yang menggelisahkan di masa pandemi COVID-19 ini adalah semakin banyak orang mempercayai teori konspirasi. 

Kegelisahan ini tentu bukan karena saya tak mau orang memandang dunia dengan cara yang berbeda dari saya atau orang kebanyakan. Namun, di masa seperti sekarang, teori konspirasi yang sepaket dengan misinformasi punya daya destruktif yang luar biasa. Penelusuran BBC menunjukkan beberapa kasus bahwa teori konspirasi bisa membahayakan nyawa. 

Pertanyaannya, mengapa banyak orang mudah percaya dengan teori konspirasi? 

Kita tidak bisa berasumsi bahwa teori konspirasi muncul dari ruang hampa di mana orang bisa tiba-tiba percaya dengan satu-dua teori yang menjelaskan sebuah peristiwa. Teori konspirasi bisa tumbuh karena ia berada di lahan subur yang membuatnya mudah berkembang. 

Dalam krisis, lahan subur teori konspirasi adalah ketidakpastian. Orang butuh informasi untuk menjawab rasa penasaran mereka tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia. Informasi ini kemudian digunakan untuk menentukan berbagai keputusan yang akan diambil. 

Masalahnya, krisis kepastian tidak hanya dirasakan oleh publik. Media arus utama, pemerintah, dan berbagai otoritas yang bertanggung jawab juga dilanda kebingungan. Pernyataan-pernyataan pejabat yang konyol dan meremehkan krisis hingga media arus utama yang justru memberikan panggung bagi teori konspirasi membuat banyak orang semakin kebingungan. 

Ruang kosong ini bisa dengan mudah diisi oleh para pengasong teori konspirasi. Dengan menyusun keping-keping fakta yang seolah logis tapi hanya otak-atik gatuk, mereka memanfaatkan sentimen dan emosi publik. Di era krisis, akan selalu lebih mudah untuk mendekat ke banyak orang dengan sentimen ketimbang fakta yang bisa bertolak belakang dengan keyakinan. 

Karena itulah kata-kata kunci yang digunakan oleh para pengasong teori konspirasi mudah dipetakan. Dalam konteks pandemi COVID-19, misalnya, salah satu konspirasi menyebut bahwa virus ini adalah bikinan Bill Gates dan World Health Organization (WHO) yang merupakan bagian “elite global”. 

Di Indonesia, kata kunci “elite global” mungkin tidak terlalu signifikan dampaknya bagi banyak orang. Namun, cobalah mengganti elite global dengan “aseng”, “PKI”, atau “Cina”, orang akan lebih mudah mengiyakan karena dalam kata kunci tersebut sudah ada pre-text yang tersimpan dalam sejarah sosial politik di Indonesia. 

Selain itu, ruang kosong ketidakpastian tadi juga muncul karena era internet membuka berbagai kanal yang memungkinkan kita mengakses informasi dari banyak sumber. Dari yang terpercaya sampai yang abal-abal. Banyaknya kanal informasi ini pada satu sisi memang sangat penting. Namun, di sisi lain ia justru bisa membanjiri ruang publik dengan lautan informasi yang sering kali tidak relevan dengan kebutuhan kita. 

Pada titik ini, kita sampai pada yang disebut WHO sebagai infodemi, kondisi di mana terdapat “banjir informasi, baik akurat maupun tidak, yang membuat orang kesulitan menemukan sumber dan panduan tepercaya saat mereka membutuhkannya.” 

Ini adalah kondisi yang ironis. Sebabnya, semakin banyak informasi yang bisa diakses, orang merasa semakin percaya diri dan merasa memiliki pengetahuan yang memadai. Kepakaran runtuh karena setiap orang merasa mengetahui segalanya berdasarkan akses atas berbagai sumber informasi dengan jauh lebih mudah. Padahal, informasi-informasi tersebut belum tentu benar. Internet mengumpulkan factoid, berbagai informasi palsu yang disajikan sebagai fakta atau berita yang sebenarnya. Kita tersesat di mesin pencari.  

Akhirnya, kita terbenam dalam lautan informasi yang sebenarnya penuh dengan sampah. Informasi kemudian diperlakukan dengan sangat selektif: dipilih hanya yang mendukung keyakinan. Tom Nichols dalam buku Matinya Kepakaran (2018) menyebutnya sebagai bias konfirmasi, yaitu kecenderungan mencari informasi “yang hanya membenarkan apa yang kita percayai, menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai, dan menolak data yang menentang sesuatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran”. 

Pada tahap selanjutnya, bias konfirmasi ini yang dalam bahasa internet dan media sosial hari ini menciptakan bilik gema (echo chamber). Bilik ini tercipta secara otomatis, memerangkap orang-orang yang berpandangan sama. Mereka mengonsumsi informasi yang serupa dan hanya berbagi pendapat dengan orang-orang yang juga mengafirmasi pendapat mereka. 

Paradoks infodemi adalah Informasi tersedia dengan begitu melimpah, tapi kita semakin kebingungan informasi mana yang bisa dipercaya. Bukan karena kita kekurangan informasi (poorly informed) tetapi karena salah informasi (misinformed). Ia menyebabkan munculnya keengganan untuk memahami informasi yang berbeda dari apa yang kita yakini.  

Betapapun informasi itu bisa diuji dan diverifikasi, karena tidak konsisten dengan narasi yang diyakini, informasi tersebut akan diabaikan. Nichols menyebutnya sebagai backfire effect. Fenomena ini menjelaskan mengapa teori konspirasi dan berita palsu bisa mewabah dengan mudah di era media sosial seperti saat ini.  

Dalam situasi semacam ini, banyak pakar menyebut pentingnya literasi digital yang menekankan sikap kritis dalam mengakses kanal-kanal informasi yang ada. Saya setuju dengan pendapat tersebut dan menambahkan bahwa kita perlu menumbuhkan lagi kepercayaan kepada media-media arus utama. Sebabnya, kita membutuhkan informasi yang tepercaya dan salah satu institusi yang bisa menyediakan itu adalah media yang didukung dengan berbagai perangkat jurnalistik yang memadai. 

Tapi ada catatannya. Satu dekade belakangan, kita bisa merasakan bahwa ketidakpercayaan terhadap media-media arus utama semakin membesar, khususnya karena media-media yang semakin partisan secara politik. Dan jika berlangsung terlalu lama, kepercayaan yang anjlok bisa menggerus industri media itu sendiri. Industri yang berbasis pada informasi akan mudah dideligitimasi jika tidak mendapatkan kepercayaan dari publik. 

Perlu diingat, kepercayaan bukanlah sesuatu yang tumbuh satu arah. Kita tidak bisa berharap publik akan begitu saja percaya pada berita-berita media arus utama jika pemberitaannya sering bias, tidak berimbang, dan menjadi megafon bagi narasi resmi penguasa begitu saja. Media-media arus utama juga perlu untuk melihat ke dalam dan mau mendengarkan kritik publik. 

Kritik semacam ini tidak hanya penting bagi media tetapi juga bagi publik karena ia mengajak pembaca untuk berpikir kritis. Pertukaran kritik bisa menjadi salah satu bentuk literasi media. Selain itu, percaya juga bukan berarti tidak membaca berita-berita di media dengan kritis. Kajian komunikasi sudah menyediakan perangkat yang memadai untuk membaca media dengan kritis, dari upaya membaca narasi besar ekonomi politik media sampai perangkat analisis teks. 

Pembacaan kritis, termasuk di antaranya dengan melakukan kritik terhadap media, adalah upaya untuk merawat ekosistem media yang sehat. Ekosistem media yang sehat bisa menjadi kunci penting untuk menekan penyebaran teori konspirasi.

 

Wisnu Prasetya Utomo. Dosen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM, banyak menulis, menyunting, dan menerjemahkan tulisan-tulisan mengenai media dan jurnalisme. Ia menulis buku Suara Pers, Suara Siapa? (2016) dan menerjemahkan Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital karya Ross Tapsell (2018)

Related Article