Mampukah Jokowi Goyang Suara Prabowo di Pulau Madura Jelang Pilpres 2019?

Beberapa hari terakhir ini video kampanye calon presiden Joko Widodo di Madura sempat viral di media sosial. Dalam video yang beredar, tampak sejumlah masyarakat Madura meneriakkan 'Jokowi Mole' atau 'Jokowi pulang' saat sedang berkampanye. Hal itu pun menarik perhatian terutama soal wilayah Madura yang katanya masih dikuasai Prabowo dalam hal suara di pemilu.

Dalam acara Dekarasi Akbar Ulama Madura di Gedung Serba Guna Rato Ebuh, Bangkalan, Madura, pada Rabu, 19 Desember 2018 itu, sebenarnya terdengar suara wanita yang diduga pemandu acara meminta agar massa meneriakkan yel yel “Jokowi pole, Jokowi pole” atau “Jokowi lagi, Jokowi lagi”. Namun, ajakan itu justru tak digubris massa.

Beberapa orang yang terdiri dari pria dan wanita pada acara itu malah meneriakkan “Jokowi mole, Jokowi mole” sambil memperlihatkan salam dua jari. Terkait peristiwa itu, Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin pun buka suara. Ia menduga ada orang-orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk melakukan kampanye negatif.

Menurut Ngabalin, aksi itu cenderung merupakan penghinaan kepada Presiden Jokowi. Di sisi lain, dirinya justru tak percaya jika aksi tak terpuji itu dilakukan oleh orang Madura sendiri. Ia yakin jika orang Madura merupakan masyarakat yang santun dan agamis.

"Saya pikir teman-teman bisa tahu kalau beliau seorang kepala negara kemudian ada orang yang menggunakan kunjungan beliau untuk kepentingan politik dengan perkataan mole-mole (pulang-pulang), itu kan bentuk penghinaan," kata Ngabalin, Jumat, 21 Desember 2018.

Baca Juga: 'Kekhawatiran' Jokowi dan Potensi Hasil Survei yang Bisa Saja Meleset

Ngabalin pun meyakini bahwa teriakan ‘Jokowi moleh’ itu berasal dari orang luar Madura yang ingin mengacaukan suasana. Ia menilai banyak orang yang begitu mencintai Jokowi. Sekali lagi, ia yakin jika masyarakat Madura merupakan masyarakat yang ramah.

"Saya kira orang Madura tidak punya karakter seperti itu pasti orang luar yang datang. Saya mau bilang seperti itu karena semua orang cinta dengan Presiden Jokowi luar biasa waktu dan kesempatan. Orang Madura merupakan masyarakat agamis, mereka mempunyai kultur yang tinggi punya akhlak punya agama yang tinggi saya tidak percaya itu dilakukan oleh orang-orang Madura," ujarnya.

Teriakan ‘Jokowi Mole’ Jadi Evaluasi Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf

Beredarnya video sejumlah pihak yang meneriakkan 'Jokowi mole' saat capres petahana Jokowi kampanye di Bangkalan, Madura, membuat Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf menaruh perhatian serius terhadap peristiwa itu. Jika ditarik lebih jauh, peristiwa itu tentu bakal berpengaruh pada perjuangan Jokowi di Madura dalam kontestasi politik Pilpres 2019. TKN Jokowi-Ma'ruf akan menerapkan strategi khusus dalam berkampanye di Madura.

"Ya itu menjadi catatan bagi TKN bahwa setiap acara harus benar-benar dihadiri pendukung dan simpatisan. Hal ini juga menjadi informasi bagi TKN bahwa perlu cara khusus yang berbeda dalam kontestasi di Madura," kata anggota TKN Jokowi-Ma'ruf, Achmad Baidowi alias Awiek, kepada awak media, Jumat, 21 Desember 2018. 

Menurut Awiek, peristiwa itu tetap jadi catatan penting bagi TKN Jokowi-Ma’ruf meski kabarnya hanya sebagian pihak yang meneriakkan 'Jokowi mole' tersebut. Hal itu tak lepas dari fakta bahwa wilayah Madura menjadi basis massa Prabowo terutama pada gelaran Pilpres 2014 lalu. Untuk itu, kubu Jokowi tentu ingin ‘menggoyang’ suara Prabowo di Madura.

"Meskipun hanya sebagian yang berulah tersebut, setidaknya itu menjadi perhatian TKN. Harus diakui bahwa 2014 Madura itu Prabowo menang di semua kabupaten dan pemilihnya konsisten, bahkan hingga saat ini. Perlu langkah-langkah yang strategis untuk bisa mengimbangi dukungan ke Prabowo," ujarnya.

Namun, Awiek tetap yakin jika jelang Pilpres 2019 nanti, kondisi politik di Madura akan mengalami perubahan. Ia mengambil contoh ketika Pilpres 2014 lalu, di mana waktu itu PPP mendukung Prabowo-Hatta Rajasa. Kini, situasi sudah berubah di mana PPP berada di kubu Jokowi sehingga hal itu lah yang membuat Awiek percaya diri.

Baca Juga: Ma'ruf Amin Kembali Bersuara Setelah Dianggap Tak Pengaruhi Elektabilitas Jokowi

"PPP tahun 2014 tergabung dalam timnya Prabowo, jadi tahu betul kondisi di lapangan saat itu, bahkan saat ini pun kami sudah memetakannya. Apakah berhasil? Nanti baru bisa dilihat setelah pemilu," ucap Awiek.

Prabowo Ungguli Jokowi di Madura

Jokowi sendiri bukannya tanpa usaha dan pergerakan untuk merebut hati masyarakat Madura jelang Pilpres 2019. Berbagai upaya sudah dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut terutama sejak dua tahun terakhir. Misalnya saja usaha Jokowi melakukan perbaikan terhadap Bandara Trunojoyo di Sumenep hingga menggratiskan tarif melintas jembatan Suramadu. 

Di samping memang sudah jadi kewajibannya untuk memperbaiki, merawat, dan mempermudah masyarakat dalam memanfaatkan infrastruktur di setiap daerah, hal itu juga tentu jadi usahanya untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat di sana. Apalagi, Jokowi pernah kalah dari Prabowo di Madura pada Pilpres 2014 lalu.

Jika melihat persaingan di Pilpres 2014 tersebut, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Radjasa berhasil mendulang total 830. 968 suara dari pemilih di Pulau Madura. Sedangkan Jokowi dan Jusuf Kalla hanya meraih 692.631 suara. Hasil kontestasi politik empat tahun lalu itu tentu jadi bahan evaluasi kubu Jokowi. 

Keunggulan pasangan Prabowo-Sandi di Madura juga diperkuat dengan survei terbaru dari The Initiative Institute yang digelar pada 10-18 Oktober 2018 lalu kepada 5.500 responden yang menyebar di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Dalam survei tersebut, Prabowo-Sandi unggul di sejumlah daerah di Madura seperti di wilayah Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan, dengan angka 43 persen.

Sementara pasangan Jokowi-Ma'ruf hanya mendapatkan angka 20,5 persen dalam survei tersebut. Lalu, persentase swing voters mencapai 36,5 persen. Padahal jika dilihat, sebenarnya pada wilayah Jawa Timur secara keseluruhan, Jokowi-Ma'ruf berhasil unggul dengan angka 57,7 persen, dan pasangan Prabowo-Sandi meraih 19,7 persen. 

Selain keberadaan banyaknya swing voters, lemahnya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di Madura sepertinya juga karena tidak adanya fatwa ulama untuk menguatkan pilihan terhadap Jokowi-Ma'ruf. Maka dari itu, kubu Jokowi benar-benar harus memikirkan cara dan strategi agar bisa menggoyang suara Prabowo di Madura.

Strategi Apa yang Dibutuhkan Kubu Jokowi di Madura?

Situasi yang dihadapi kubu Jokowi yang berusaha mengimbangi suara Prabowo di Madura, sebetulnya hampir mirip dengan kondisi yang dialami kubu Prabowo yang juga ingin menggoyang suara Jokowi dan PDIP di Jawa Tengah. Dalam hal ini, kubu Jokowi juga perlu mengerahkan kekuatan terbaik demi mendulang suara di sana.

Baca Juga: Ambisi Kubu Prabowo-Sandi Pindah Markas ke Jateng, Bisa Dongkrak Elektabilitas?

Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Bakir Ihsan mengungkapkan bahwa Jokowi perlu lebih sering melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat, terutama tokoh agama di Madura. Hal itu jadi penting demi membangun citra dan mengenalkan program-program kerja jika nanti terpilih untuk kedua kalinya.

“Perlu pendekatan yang lebih intens kepada para tokoh agama (kiai) dan simpul-simpul masyarakat Madura secara lebih luas, sehingga masyarakat betul-betul paham dan tertarik untuk memilih Jokowi,” kata Bakir kepada Asumsi.co, Jumat, 21 Desember 2018.

Lebih dari itu, Bakir menganalisa jika kubu Jokowi tak hanya sekedar butuh pendekatan terhadap tokoh-tokoh agama saja, melainkan seluruh elemen masyarakat di berbagai wilayah Madura yang memiliki perbedaan karakter. Apalagi, masyarakat Madura tampaknya sudah terlanjur kecewa lantaran putra daerah mereka, Mahfud MD gagal menjadi pendamping Jokowi.

“Tidak cukup hanya mengumpulkan kiai untuk membuat kebulatan tekad mendukung Jokowi. Intinya perlu blusukan yang lebih intens sehingga bisa menyentuh hati masyarakat Madura yang mungkin sebagian kecewa karena gagal menjadikan putra Madura, Mahfud MD, sebagai cawapres di detik terakhir penentuan,” ujarnya.

“Walaupun satu pulau, masing-masing wilayah punya kekhasannya sendiri, sehingga perlu pendekatan berdasarkan wilayah. Misalnya antar Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sumenep punya kultur yang beda, begitu pun dengan kiai dan pesantrennya,” ucap Bakir.

Related Article