Makna Tantangan Andi Arief Minta Satu Mata Jokowi untuk Novel Baswedan

Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief kembali jadi sorotan jelang debat pertama Pilpres 2019. Andi yang kerap memicu kontroversi itu kali ini menantang calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) untuk menyerahkan satu matanya ke Novel Baswedan. Apa maksud Andi?

Ternyata, tantangan tersebut dilemparkan Andi karena ia ingin mengkritik pihak-pihak yang masih mempersoalkan isu pelanggaran HAM seperti penculikan atau pembunuhan masa lalu jelang Pilpres 2019. Isu itu yang pasti kerap dituduhkan ke capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Menurut Andi, tak seharusnya orang-orang memainkan isu itu lagi.

Isu mengenai HAM sendiri akan menjadi tema dalam debat perdana Pilpres 2019. Debat tersebut akan digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, pada 17 Januari 2019 mendatang dan dipandu oleh moderator Imam Priyono dan Ira Koesno. Tema debat itu lah yang tengah jadi sorotan Andi.

Untuk itu, Andi pun meminta pihak-pihak yang selalu mencecar masalah pelanggaran HAM ke Prabowo, untuk bertanya langsung kepada Jokowi terkait keberhasilannya dalam menangani kasus pelanggaran HAM. Bagaimana penanganan hal tersebut di bawah kepemimpinannya sebagai presiden? Lebih jauh, ia akhirnya mengkritik Jokowi yang justru gagal menuntaskan kasus HAM yang melibatkan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Lewat akun Twitter pribadinya, Andi menggertak para pengkritik yang kerap melayangkan isu pelanggaran HAM kepada Prabowo jelang Pilpres 2019. "Kalau masih ada yang yang berkoar soal penculikan atau pembunuhan masa lalu, sebaiknya besok pagi lihat mata Novel Baswedan. Tanyakan pada sebelah matanya, Jokowi ngapain aja," kicau Andi, Minggu, 30 Desember 2018. 

Andi mengatakan bahwa isu pelanggaran HAM masa lalu bisa saja dimunculkan, tapi dengan catatan, Jokowi mau memberikan sebelah matanya untuk Novel Baswedan. Hal itu menurut Andi, akan jadi sia-sia dan percuma jika Jokowi memiliki sepasang mata tapi justru tak mampu menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

"Kalau Jokowi berkeinginan memberi sebelah matanya Pada Novel Baswedan, mari kita bicara soal penculikan dan pembunuhan masa lalu. Kenapa mata Pak Jokowi? Karena percuma punya mata tapi tau mau melihat persoalan yang mudah ini untuk diselesaikan," ujar Andi.

Kasus Novel Jadi Tanggung Jawab Jokowi

Andi pun menegaskan bahwa orang yang kejam adalah orang yang tahu dan punya kewenangan mengungkap masalah tetapi justru memilih diam. Tak selesainya kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel itu, lanjut Andi, merupakan tanggung jawab Jokowi. Menurut Andi, Jokowi seharusnya bisa menyelesaikan kasus itu dengan mudah. 

“Di mana kejamnya? Mementingkan jabatannya ketimbang keadilan,” kata Andi.

Perlu diketahui, kasus Novel Baswedan sendiri muncul pada bulan April 2017 lalu. Namun hingga kini, Jokowi masih belum mau membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) di kasus Novel seperti yang dituntut oleh pegawai KPK dan aktivis HAM Tanah Air.

Dua hari sebelumnya, Kapolda Metro Jata Irjen Pol Idham Azis mengungkapkan bahwa memang ada kesulitan tersendiri saat pihaknya mengungkap kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Dalam jumpa pers akhir tahun yang diadakan Polda Metro, Idham menuturkan bahwa pihaknya masih terus berupaya mengungkap dalang dari kasus itu.

"Kami terus berkoordinasi, ini merupakan utang yang harus kita kerjakan terus," ujar Idham dalam jumpa pers akhir tahun di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, 28 Desember 2018 lalu. 

Menurut Idham, Polda Metro Jaya juga sudah bekerja sama dengan tim yang dibentuk oleh KPK. Tak hanya itu saja, jajaran Polda Metro Jaya juga tetap mendengarkan masukan-masukan dari Komnas HAM, Ombudsman, dan Kompolnas. Hal itu dilakukan agar pihak kepolisian bisa mendapatkan informasi sebanyak mungkin.

"Kita sangat terbuka. Dan kita sampai sekarang masih membuka call center untuk masyarakat, kalau ada informasinya berikan kepada kami penyidik," kata Idham.  

Sementara itu Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto mengungkapkan bahwa penerapan hukum harus sesuai ketentuan, tak bisa dilakukan sembarangan.

"Ini adalah doktrin hukum pidana, jadi tidak bisa orang yang tidak melakukan diminta bertanggung jawab atas perbuatan pidana yang tidak dilakukan. Siapa yang berbuat dialah yang harus bertanggung jawab. Jadi tidak bisa sembarangan dalam penerapan hukum pidana," kata Arief kepada wartawan, Senin, 31 Desember 2018. 

Senada dengan Idham Azis, menurut Arief, Polri sampai saat ini masih bekerja untuk mengungkap kasus tersebut. Arief menekankan bahwa cepat atau lambat pengungkapan perkara,sangat tergantung pada modus operandi, kecukupan alat bukti, barang bukti, petunjuk di TKP dan saksi-saksi yang menentukan tingkat kesulitan pengungkapan.

"Dalam kejadian penyerangan yang 'hit & run' memang memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Sampai saat ini penyidik masih tetap bekerja untuk mengumpulkan bukti dan informasi. Pengungkapan perkara ini menjadi tanggung jawab penyidik selaku penegak hukum yang memang ditugaskan oleh negara dalam ranah penegakan hukum," ucap Arief. 

"Begitu juga dengan pertanggungjawaban hukum atas setiap tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang adalah menjadi tanggung jawab subjek hukum yang melakukan," ujarnya.

Novel Baswedan Tanggapi Pernyataan Andi Arief

Penyidik KPK Novel Baswedan akhirnya buka suara dan menanggapi pernyataan Andi Arief yang menantang Presiden Jokowi untuk memberikan satu matanya ke dirinya, yang jadi korban penyiraman air keras. Novel mengatakan permintaan sederhana bahwa Jokowi harusnya memang mengungkap pelaku yang menyerangnya dalam teror itu.

"Bagi saya, sederhana saja, Jokowi ungkap penyerang saya dan penyerang orang-orang di KPK yang menculik menteror dan lain sebagainya, itu realistis," ujar Novel Baswedan kepada wartawan, Senin, 31 Desember 2018.

Novel pun berharap Jokowi memiliki kemauan untuk mengungkap siapa pelakunya. Bahkan, penyidik senior KPK ini mendoakan agar Jokowi berani membongkar kasus tersebut. "Dan jelas harusnya Jokowi mau (ungkap pelaku), kita doakan beliau berani," ucap Novel.

Related Article