post

Current Affairs

Ledakan Kasus Baru COVID-19 di Beijing, Dunia Harus Waspada

Ramadhan, 17 Juni 2020

Kabar mengenai kemunculan banyak kasus baru COVID-19 di Beijing, Cina, mulai menimbulkan kekhawatiran. Lonjakan lebih dari 106 kasus baru membuat pemerintah Beijing menutup semua sekolah dasar, sekolah menengah atas, hingga kampus-kampus, dan memberlakukan kembali pembelajaran online.

Kasus baru ini disebut bersumber dari sebuah pasar yang menjual seafood dan hasil produksi pertanian, yang akhirnya membuat para pekerja di sana terinfeksi. Dikutip dari Time, Selasa (16/06), lonjakan kasus baru di Pasar Xinfadi, Distrik Fengtai, barat daya Beijing mucul setelah 56 hari tanpa infeksi baru.

Pasar Xinfadi merupakan salah satu pasar terbesar di Asia, dengan luas lebih dari 112 hektar dan memasok 80 persen dari hasil pertanian Beijing, serta memasok bahan makanan ke provinsi utara berpenduduk padat lainnya. Potensi ribuan pedagang dan karyawan terpapar dan menularkan virus Corona mengkhawatirkan.

Beijing pun menyebut situasi ini sebagai ‘masa perang’, sehingga sekitar 100.000 pekerja pengendali epidemi dikerahkan, setidaknya 29 komplek pemukiman penduduk diisolasi, sekolah hingga fasilitas olahraga ditutup kembali. Kondisi ini juga membuat sekitar 90.000 orang di area pasar tersebut akan dites.

"Beijing menghadapi wabah yang eksplosif dan terkonsentrasi," kata Kepala Ahli Epidemiologi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina, Wu Zunyou, People’s Daily, media corong Partai Komunis Cina (CCP), Senin (15/06).

Otoritas lokal di sejumlah wilayah Cina sekarang telah memberlakukan persyaratan karantina pada pengunjung dari Beijing dan memperingatkan penduduk agar tidak melakukan perjalanan ke ibu kota.

Wabah baru COVID-19 muncul saat sejumlah negara mulai melonggarkan aturan pembatasan atau lockdown, bahkan oleh negara-negara yang bertindak cepat dan tegas dalam tahap pandemi paling awal. Misalnya Korea Selatan, yang ternyata tetap mengalami lonjakan kasus di sekitar klub malam Seoul pada Mei lalu, meski responsnya dalam mengatasi pandemi dipuji secara luas.

Kepala Epidemiologi dan Biostatistik Universitas Hong Kong, Profesor Ben Cowling memperkirakan akan lebih banyak wabah baru di kota-kota besar lainnya di Cina selama beberapa pekan atau bulan mendatang. "Sepertinya pemerintah Cina akan menjadi sangat agresif dalam menghentikan penyebaran, tetapi itu akan memiliki implikasi lain," kata Cowling.

"Itu akan sangat, sangat mengganggu untuk bisnis jika pabrik yang baru saja berdiri kembali harus tutup lagi.”

Gelombang Kedua di Beijing Muncul dari Ikan Salmon?

Berdasarkan penyelidikan awal, gelombang kedua yang melanda Beijing disebut berawal dari tempat pemotongan ikan salmon. Kompleks perumahan di dekat pusat perdagangan besar telah ditandai sebagai lokasi berisiko tinggi dan dikunci untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

Wu Zunyou menyebut masih belum bisa dipastikan apakah benar COVID-19 berasal dari ikan salmon. Sebab sangat tidak mungkin ikan menjadi sumber penularan COVID-19. "Kita tidak bisa menyimpulkan salmon adalah sumber infeksi hanya karena Corona terdeteksi pada talenan," kata Wu seperti dikutip dari CGTN.

Soal kabar ini, Mike Ryan, kepala penanggulangan penyakit emergensi WHO menjelaskan bahwa dugaan awal wabah disebabkan oleh salmon impor harus diteliti kebenarannya lebih lanjut dengan penelusuran epidemiologis.

"Saya rasa kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi pada kasus ini. Saya tidak percaya itu (penularan dari ikan salmon) adalah hipotesis utama. Perlu dieksplorasi," kata Ryan.

Sementara itu, terkait ikan salmon, Kepala Epidemiologi dan Biostatistik Universitas Hong Kong, Profesor Ben Cowling menduga kemungkinan besar itu adalah jenis "herring merah". Meskipun virus itu ditemukan di papan pemotong di pasar, pasokan ikan itu sendiri dites negatif.

Seperti halnya bahan makanan lainnya di pasar, sehingga muncul dugaan bahwa seorang pekerja lah yang lebih mungkin menjadi sumber kontaminasi. Selain itu, tidak ada wabah COVID-19 yang dilaporkan di peternakan salmon di Eropa.

Berdasarkan laporan berita setempat, Cina mengimpor sekitar 80.000 ton salmon dingin dan beku setiap tahun dari Chili, Norwegia, Kepulauan Faroe, Australia, dan Kanada.

Selain itu, para ahli juga berpendapat ikan tidak mungkin membawa penyakit. Keterkaitan salmon dalam hal ini bisa jadi dari hasil kontaminasi silang. Disebutkan pula ikan secara alami tidak bisa membawa COVID-19 di dalam tubuhnya sehingga bisa saja ikan terkontaminasi orang yang terinfeksi.

Penelitian yang dilakukan oleh University College London juga menunjukkan bahwa virus Corona baru dapat menginfeksi berbagai mamalia, tapi tidak pada ikan, burung, atau reptil.

Pemerintah Cina Naikkan Level Waspada COVID-19

Dalam laporan The New York Times, Selasa (16/06), Beijing kini telah menaikkan tingkat kewaspadaan darurat Beijing dari 'level tiga' ke 'level dua', menandakan keseriusan munculnya wabah baru ini. Level dua merupakan tertinggi kedua dari empat tingkat tanggap darurat Covid-19. Dengan berlakunya status itu, maka sejumlah fasilitas publik di Ibu Kota China itu akan ditutup.

Pemerintah kini mengklasifikasikan peristiwa tersebut sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang 'parah' dan langkah ini akan memberlakukan pembatasan lebih lanjut pada perjalanan warga di keseharian.

Kini, muncul kembali desakan kepada orang-orang untuk bekerja dari rumah, di saat pemerintah Cina fokus untuk memutus mata rantai lonjakan kasus yang mengancam ibu kota ini. Mereka yang tinggal di dekat pasar Xinfadi atau yang telah berada di sana dalam 14 hari terakhir dilarang meninggalkan Beijing.

Sisanya, hanya orang-orang dengan hasil tes COVID-19 negatif dalam tujuh hari terakhir yang akan diizinkan untuk bepergian ke luar kota. Semua pasar, restoran, kantin, dan kantor telah diinstruksikan untuk melakukan pembersihan dan disinfeksi mendalam.

Fasilitas umum lainnya, seperti museum, galeri, dan taman, hanya dapat beroperasi pada 30 persen dari kapasitas maksimumnya.

"Tren epidemi di Beijing sangat suram," kata Chen Bei, Wakil Sekretaris Jenderal Pemerintah Beijing, pada konferensi pers yang mengumumkan peningkatan level tanggap darurat. Bei menyebut langkah baru untuk menghentikan infeksi COVID-19 ini tidak dimaksudkan untuk mencekik kehidupan ekonomi rakyat.

"Respons atau naiknya level ke tingkat dua tidak memerlukan penghentian produksi dan kerja. Ini malah mendorong pekerjaan dari jarak jauh dan fleksibel.”

Penduduk yang tinggal di wilayah berisiko sedang dilarang meninggalkan kota. Sedangkan permukiman yang dianggap berisiko tinggi akan dikunci total atau lockdown. Warga tidak boleh keluar rumah sama sekali.

Perlu diketahui, penguncian itu merupakan pertama kali diterapkan di wilayah Beijing. Bahkan pada puncak pandemi pada awal tahun ini, Beijing tak pernah di-lockdown layaknya Wuhan dan beberapa kota lain di Provinsi Hubei.

Sekadar informasi, hingga Rabu (17/06), berdasarkan data real time laman Worldometers, virus SARS-CoV-2 telah menginfeksi 83.265 orang di China. Dari jumlah itu, 4.634 orang meninggal dunia dan 78.379 orang dinyatakan sembuh.