Konflik Ciptakan Diskriminasi dalam Bentuk Perbudakan Seksual

ISIS boleh jadi sudah terpukul mundur, namun derita orang-orang yang dipaksa menjadi budak seks ISIS bakal bertahan selamanya. Dicuci otak dan dihancurkan, anak-anak muda tersebut hingga kini masih berjuang untuk pulih dari trauma setelah bertahun-tahun di bawah tekanan pemberontak.

Banyak dari mereka yang sudah berhasil kembali ke pangkuan keluarga. Namun, tidak sedikit anak-anak Yazidi dan Turkmenistan yang sudah diselamatkan dalam beberapa bulan terakhir sebenarnya belum siap secara mental untuk dapat kembali ke masyarakat. Proses yang berkepanjangan, kurangnya sumber daya, dan tekanan yang dirasakan bertahun-tahun membuat pemulihan mental berjalan begitu lambat.

Diceritakan CNN Indonesia, Lama, seorang gadis Yazidi berumur 10 tahun, telah berkali-kali mengancam untuk melukai dirinya sendiri. Pulang ke Irak tidak serta merta membuat mentalnya pulih. Ibunya,  Nisrin, khawatir anaknya tidak akan pernah menjadi seperti anak-anak pada umumnya.

Sepintas, Lama sama seperti kebanyakan anak. Ia asyik bermain video game  di kamp pengungsian Khanke di barat laut Irak. Namun, pengalamannya menghabiskan setengah hidup di bawah kendali ISIS jelas telah membuat kondisi mentalnya terusik.

“Mereka dicuci otak. Ketika mereka bosan, mereka mulai berbicara tentang bagaimana mereka berharap bisa kembali dengan Daesh (ISIS),” tutur Nisrin.

Diskriminasi Perempuan Merupakan Bahaya Laten Konflik

Memahami konflik dari pihak-pihak yang berseteru adalah satu cara mengkaji konflik. Satu cara lain dalam memahami konflik adalah melihatnya dari bagaimana konflik hampir selalu menciptakan diskriminasi bagi kelompok-kelompok yang rentan seperti perempuan. Dalam konteks ISIS, anak-anak Yazidi dan Turkmenistan kerap dijadikan budak pemuas berahi para tentara yang mengaku berjuang atas nama agama.

Diskriminasi kepada perempuan dengan cara demikian terjadi berulang-ulang dalam konflik. Tak terkecuali pada era penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia. Mantan serdadu Belanda yang dikirim ke Indonesia, J.C. Princen, tidak membantah isu yang beredar tentang adanya tentara-tentara Belanda yang menggunakan perempuan Indonesia sebagai alat pemenuh kebutuhan biologis mereka. Ketika sedang tidak bertugas, tentara belanda akan keluyuran sampai pelosok dan gang-gang hanya untuk mencari perempuan. J.C. Princen paham bahwa sebenarnya kesatuan melarang hal tersebut.

“Kami melakukannya dengan cara masing-masing. Ada yang sedikit memaksa, suka sama suka, atau pergi ke para pelacur,” ujar Princen, dilansir dari Historia.id.

Gert Oostindie, dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950: Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah, menyatakan bahwa banyak serdadu Belanda yang memang jatuh cinta dan memacari perempuan Indonesia. Namun, ada juga sebagian dari mereka yang sebenarnya hanya mengeksploitasi perempuan tersebut. Mereka memacari babu-babu yang dipekerjakan di barak militer. Ketika hamil, banyak dari tentara tersebut yang kabur, alih-alih bertanggung jawab.

“Tetapi mungkin banyak juga hubungan yang lebih berlandaskan perhitungan dan egosime,” ujar Oostindie.

Peralihan penjajah dari Belanda ke Jepang tidak memperbaiki sedikit pun kondisi diskriminasi pada perempuan Indonesia. Datang ke Indonesia dan minta dipanggil cahaya asia, Jepang justru membuat perbudakan seks menjadi semakin galib. Jepang menggunakan istilah Jugun Ianfu (wanita penenang) untuk menyebut korbannya. Perempuan-perempuan ini dipilih menjadi Jugun Ianfu secara paksa di wilayah-wilayah koloni Jepang, termasuk Indonesia. Jika dijumlahkan, Jugun Ianfu pada Perang Dunia kedua berkisar antara 20 ribu hingga 30 ribu orang.

Di Indonesia, banyak Jugun Ianfu teperdaya iming-iming sekolah ke luar negeri atau menjadi pemain sandiwara. Setelah mereka sadar, semuanya sudah terlambat. Para Jugun Ianfu ini akan terus dipergunakan di rumah-rumah hiburan hingga dianggap sudah tidak lagi menarik atau mengalami sakit keras. Perempuan-perempuan ini tidak bisa menolak, karena penolakan akan berujung pada perlakuan bengis. Tidak sedikit dari mereka yang bunuh diri akibat perlakuan tentara Jepang yang begitu semena-mena.

Related Article