post

Current Affairs

Kenapa Publik AS Skeptis terhadap Data COVID-19?

MM Ridho, 23 Juli 2020

Keraguan masyarakat Amerika Serikat terhadap kebenaran data COVID-19 semakin melambung. Fakta tersebut terungkap dari hasil survei Axios-Ipsos yang diterbitkan pada Selasa (21/7). Skeptisisme tentang keakuratan angka yang dilaporkan secara publik untuk kematian akibat COVID-19 terus membesar. Padahal, AS merupakan salah satu negara dengan tingkat infeksi terparah.

Hasil survei tersebut menunjukkan 31 persen responden percaya bahwa jumlah orang Amerika yang meninggal akibat COVID-19 pada kenyataannya lebih kecil dari yang terdata secara resmi. Jumlah itu naik dari survei yang dilakukan pada bulan Mei, yakni sebanyak 23 persen responden.

Hasil survei tersebut menemukan adanya korelasi skeptisitas publik dengan kebiasaan mengkonsumsi media. Contohnya, 62 persen pemirsa Fox News menganggap data yang dilaporkan berlebihan, sementara responden tanpa sumber berita utama 48 persennya juga berpikiran sama. Sedangkan, hanya 7 persen dari pemirsa CNN dan MSNBC yang berpikir demikian.

Penyangkalan terhadap keberadaan virus ini makin menggila pada saat AS menghadapi keadaan darurat yang belum pernah terjadi, di mana jumlah kasus terus meningkat dan gelombang kedua diperkirakan akan menghantam pada musim gugur mendatang, September hingga Desember.

Para epidemiolog mengkhawatirkan hantaman gelombang kedua tidak akan terkendali.

Padahal, angka kematian yang terdata secara resmi justru lebih rendah daripada jumlah kematian karena COVID-19 yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh banyak sekali pasien COVID-19 dengan kondisi penyakit bawaan ataupun meninggal dengan gejala lainnya sehingga tidak terdata sebagai kematian akibat COVID-19 dalam sertifikat kematiannya.

Keraguan ini dinilai terjadi karena pemerintah, yang dipimpin Donald Trump, telah berulang kali meremehkan pandemi COVID-19 sebagai ancaman. Contohnya, belum lama ini, pada Minggu (19/7), Presiden AS itu mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan Fox News bahwa virus Corona akan hilang begitu saja.

Atmosfer yang diciptakan oleh para pemangku kekuasaan tersebut telah menghasilkan tanah subur bagi tumbuh kembangnya teori konspirasi yang disebarkan oleh orang-orang ternama, disinformasi, hingga rangkaian pernyataan problematis yang terlontar dari mulut Trump sendiri.

Survei yang sama menunjukkan simpatisan Partai Republik cenderung menganggap bahwa data yang dilaporkan sebagai fakta yang dilebih-lebihkan. Terbukti, sebanyak 58 persen responden yang merupakan simpatisan partai tersebut mengatakan jumlah kematian seharusnya lebih rendah daripada yang dilaporkan.

Di tengah karut-marutnya kondisi pandemi, Trump baru akan memulai kembali rapat penanggulangan COVID-19 setelah sempat terhenti pada bulan April. Akan tetapi, survei yang dilakukan oleh ABCnews mengatakan 64 persen rakyat AS sudah terlanjur tidak mempercayai kinerja Trump dalam menanggulangi COVID-19

Hingga saat ini, Amerika Serikat telah mengkonfirmasi 4.030.309 kasus COVID-19 dan 144.983 di antaranya meninggal dunia.