Kenapa Orang-Orang Peduli Amat dengan Drama Keluarga Krisdayanti?

Akhir pekan lalu hingga hari ini, nama Krisdayanti menjadi trending topic dan mondar-mandir di berbagai linimasa media sosial Indonesia. Rupanya, penyanyi itu berselisih paham dengan kedua anaknya, Aurel dan Azriel, dan mereka membawa drama keluarga tersebut ke media sosial.

Masalah komunikasi berujung sindir-menyindir itu sebenarnya biasa terjadi dalam keluarga tak utuh, seperti yang saya dan sobat broken home lainnya kerap alami. Namun, karena menimpa selebritas, publik menaruh perhatian dan membuat perkara ini tersiar luas di seluruh Indonesia.

Mengapa mereka mau repot-repot? Jawaban singkatnya, ketenaran adalah magnet kultural yang sangat kuat.

Sebagai spesies hypersocial, manusia memperoleh sebagian besar pengetahuan, ide, dan keterampilannya dengan cara meniru orang lain. Namun, alih-alih menirunya dari orang-orang biasa di sekitarnya, manusia lebih senang mematut diri dengan kelakuan dan kebiasaan orang-orang tenar. Misalnya, saya lebih mungkin menunjukkan foto Brad Pitt atau Keanu Reeves ketimbang tetangga saya, Turmudi atau Wahyono, kepada tukang pangkas rambut.

Tidak seperti spesies lain yang membedakan status individu dalam kawanannya dengan dominasi--yang biasanya didapat karena keunggulan kekuatan fisik, manusia membedakan status sosialnya dengan prestise. Dan berbeda dari dominasi, prestise diberikan secara sukarela. Prestise diberikan kepada individu sebagai pengakuan atas pencapaian mereka di bidang tertentu.

Dalam perspektif evolusi, hal tersebut merupakan adaptasi psikologis manusia untuk pembelajaran budaya. Itu memungkinkan para manusia terdahulu untuk mengenali dan menghargai individu dengan pengetahuan serta keterampilan yang unggul, dan belajar dari mereka.

Namun, ketenaran memiliki makna yang berbeda jika dibicarakan saat ini. Masyarakat terdahulu melekatkan prestise pada seorang pemburu ulung atau penemu alat bermanfaat. Tetapi dalam masyarakat saat ini, seiring dengan semakin kompleksnya sistem kemasyarakatan, orang tak jelas yang sering nongol di televisi kerap kali memiliki prestise berkali-kali lipat dibandingkan, misalnya, seorang ilmuwan yang berkontribusi besar bagi masyarakat.

Menurut Ruth Penfold-Mounce dalam Celebrity Culture and Crime: The Joy of Transgression (2009), budaya selebritas lahir karena menurunnya penghargaan pada kehebatan (greatness), sesuatu yang layak kita akui dan hormati. Kehebatan adalah elemen fundamental yang membuat orang tenar sebelum era media. Menurutnya, media modern telah mengubah dan mengurangi nilai dari kehebatan ini menjadi “asal terkenal” atau “dikenali orang”.

Jauh sebelum itu, sosiolog radikal Amerika Serikat C. Wright Mills dalam bukunya The Power Elites (1956) mengatakan ketenaran dan budaya selebritas dapat dipahami sebagai proses pemberian makna oleh berbagai individu. Oleh karena itu, ketenaran dan selebritas secara historis terkait erat dengan perluasan media komunikasi massa sebagai sarana utama pengekspresian gagasan masyarakat modern.

Aurel dan Azriel Hermansyah misalnya, memperoleh ketenaran bukan karena kehebatan mereka, melainkan karena dilahirkan oleh pasangan selebritas Anang Hermansyah dan Krisdayanti. Dan silsilah tersebut bisa diketahui secara luas oleh masyarakat karena media mengabarkannya.

Sejak dulu, disadari atau tidak, orang-orang tenar memiliki hubungan interpersonal dengan para audiens, yakni orang-orang yang mengenali, menghargai, dan menjadikan mereka sebagai panutan. Untuk menjadi tenar, seseorang perlu memiliki audiens. Di zaman ini seseorang bisa saja menjadi tenar tanpa penggemar, tapi tidak tanpa audiens. Seperti keluarga Kardashian, Anang-Krisdayanti-Raul Lemos pun mempunyai audiens.

Mathieu Deflem dalam bukunya Lady Gaga and the Sociology of Fame (2017) mengatakan perluasan ketersediaan perangkat digital telah membuka kemungkinan bagi para audiens untuk berpartisipasi dalam budaya selebritas. Hal ini melahirkan ilusi bagi para audiens untuk melarikan diri dari hidup masing-masing ke dunia ketenaran selebritas, setidaknya dengan berinteraksi dengan mereka yang bercokol di dunia tersebut.

Berkat media sosial, kemungkinan komunikasi dua arah lebih mungkin terwujud dari zaman sebelumnya. Walaupun belum tentu diberi tanggapan, setiap komentar yang dilontarkan audiens berpotensi untuk diketahui oleh sosok-sosok tenar yang terlibat dalam drama keluarga tersebut.

Sosiolog Robertus Robet mengatakan hal tersebut merupakan gejala yang berakar dari komunalisme masyarakat dan diperluas oleh kemunculan media sosial. Setiap individu ingin mengetahui tentang orang lain dan kesempatan untuk memata-matai orang lain adalah satu hal yang tidak dapat ditolak oleh banyak orang.

“Ini namanya ‘masyarakat kepo’ atau ‘masyarakat tukang intip’,” kata Robet.

Related Article