Kenali Lebih dalam Pasangan Capres-Cawapres Sebelum Debat: Jokowi-Ma'ruf Amin [Part 1]

Empat bulan menuju Pilpres 2019, Komisi Pemilhan Umum (KPU) akan menyelenggarakan lima kali debat hingga bulan Maret nanti. Pastinya debat-debat ini akan mempertemukan kedua pasang capres-cawapres, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Setiap debat pun akan memiliki topik-topik berbeda. Pada debat pertama yang akan diadakan 17 Januari mendatang, topik yang akan dibahas adalah mengenai "Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme".

Melalui debat ini, calon peserta pemilu diharap bisa mengenal program-program para capres-cawapres ini. Namun sebelum kita saksikan debat tersebut, kedua calon ini sebenarnya sudah menetapkan visi-misi mereka jika terpilih. Apa saja visi-misi mereka?

Baca Juga: Debat Capres-Cawapres Jadi Penentu Masa Depan Indonesia

Asumsi.co akan membahas visi-misi dari tiap capres-cawapres. Pada artikel ini, akan dipaparkan visi-misi dari pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin. Berikut adalah paparannya.

Melepaskan Misi Kemaritiman, Fokus Pada Pembangunan Infrastruktur dan SDM Indonesia

Sebagai petahana, capres nomor urut 01 Joko Widodo memilih untuk mengubah beberapa bagian dari visi misi yang pernah dibawanya tahun 2014 yang lalu. Dalam segi visi, sebenarnya tidak ada yang berubah antara yang dibawa Jokowi bersama Jusuf Kalla tahun 2014 yang lalu dengan yang sekarang. Visi kali ini tetap sama, yakni terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Namun, ada beberapa pembaharuan dalam misi yang dibawa oleh Jokowi bersama Ma’ruf kali ini.

Dalam misinya bersama Jusuf Kalla dulu, banyak penekanan pada aspek-aspek kemaritiman. Tercatat ada tiga poin terkait misi kemaritiman dalam tujuh poin misi yang dibawanya. Ketiga poin tersebut adalah pertama, mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan. Kedua, mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkua jati diri sebagai negara maritim. Ketiga, mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional.

Sedangkan dalam misinya bersama Ma’ruf Amin kali ini, tidak ada sama sekali poin-poin tentang maritim. Sembilan poin misi yang dibawa pasangan Jokowi-Ma’ruf lebih bernuansa pembangunan di Indonesia, terutama pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia. Sembilan poin tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, peningkatan kualitas manusia Indonesia. Kedua, struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing. Ketiga, pembangunan yang merata dan berkeadilan. Keempat, mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan. Kelima, kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa. Keenam, penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya. Ketujuh, perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga. Kedelapan, pengelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya. Terakhir, sinergi pemerintah daerah dalam kerangka negara kesatuan.

Visi Misi Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pemilu Serentak 2019. Foto: Hanan/Asumsi.co

Melanggengkan Nawacita

Meski ada yang berubah dari visi misinya, Jubir Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Irma Suryani Chaniago, menegaskan bahwa konsep Nawacita akan terus dibawa dalam periode kedua. Hal ini karena memang Nawacita dipersiapkan untuk jangka panjang. “Jadi beberapa program Nawacita yang belum terselesaikan akan diselesaikan pada periode kedua. Karena Nawacita program jangka panjang, maka Jokowi harus dua periode untuk menyelesaikan Nawacita kedua,” ungkap Irma, dalam diskusi bertema ‘Mengintip Visi Misi Capres dan Cawapres’ di Bumbu Desa Cikini, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Ungkapan Irma ini pun seolah menegaskan bahwa Nawacita yang belum tercapai selama ini bukanlah karena Jokowi dan Jusuf Kalla gagal mencapainya. Namun, memang dibutuhkan jangka lebih dari lima tahun untuk dapat menyelesaikan semua Nawacita. Irma pun menyatakan bahwa adanya batasan-batasan dalam proses perjalanan lima tahun ke belakang semakin mempersulit terwujudnya Nawacita secara menyeluruh. “Bukan enggak tepati janji, kita tersandera juga dengan APBN. Makanya Nawacita dibuat untuk dua periode. Contoh infrastruktur itu baru bisa dirasakan 10 tahun lagi, baru bisa kita lihat pertumbuhan ekonomi akan meningkat setelah semua jadi. Karena petani bisa sampai pasar lebih cepat. Ekspedisi bisa sampai ke tujuan lebih cepat,” tutur Irma.

Nah, buat kalian yang masih bingung, kesimpulannya sih sederhana. Berdasarkan visi-misinya, Jokowi-Ma’ruf menekankan pada pentingnya pembangunan di Indonesia, khususnya di sektor infrastruktur dan sumber daya manusia. Meski begitu, secara program, Nawacita yang sekarang digunakan masih menjadi acuan jika Jokowi terpilih kembali menjadi presiden untuk periode 2019-2024.

Lalu, bagaimana dengan pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno? Baca artikel selanjutnya!

Related Article