Kematian Anak Akibat COVID-19 Tak Terelakkan

Anak perempuan berusia 11 tahun di Jawa Timur meninggal dunia karena COVID-19. Informasi ini dilaporkan oleh The Jakarta Post berdasarkan bocoran dokumen dari Kementerian Kesehatan. Sang anak meninggal pada 20 Maret, sementara hasil tes dari laboratorium Kementerian Kesehatan baru keluar sembilan hari kemudian. Sebelumnya, dokumen tersebut juga menyebutkan laki-laki berusia 17 tahun asal Jawa Barat meninggal dunia karena COVID-19.

Tingkat kematian anak akibat COVID-19 yang terbilang sangat rendah di seluruh dunia menjadikan dua kasus di Indonesia ini luar biasa. Menurut data yang dikumpulkan World O Meters, death rate pada anak berusia 0-9 tahun di seluruh dunia masih di angka 0%. Sementara tingkat kematian pada anak berusia 10-19 tahun adalah 0,2%. Angka ini berbeda jauh dari tingkat kematian pada orang berusia 70-79 tahun yang mencapai 8% dan orang di atas 80 tahun yang mencapai 14,8%. Hasil laporan terbaru Center for Disease Control and Prevention (CDC) berdasarkan kasus di Amerika Serikat pun menyebutkan bahwa fatality rate bagi orang berusia 0-19 tahun adalah 0%.

Namun, dengan meningkat pesatnya jumlah kasus di seluruh dunia, kematian pada anak pun tak terelakkan. Tak hanya di Indonesia, dalam kurun waktu yang tak terlalu jauh, kematian juga dilaporkan di Iran: seorang anak berusia 6 tahun meninggal dunia pada 24 Maret lalu. Sebelumnya, anak berusia 3 tahun yang menderita leukimia juga meninggal dunia, dan ahli kesehatan Iran memperingatkan bahwa COVID-19 berdampak fatal bagi anak-anak yang punya sistem imunitas lemah.

Selain di Iran, remaja perempuan 12 tahun di Belgia dan laki-laki berusia 13 tahun di United Kingdom juga meninggal dunia akibat COVID-19. Keduanya diketahui tidak punya masalah kesehatan lain yang dapat membuat risiko kematian lebih tinggi. Baru-baru ini, Amerika Serikat juga mengumumkan kasus kematian bayi akibat COVID-19.

Seberapa berbahayakah sebenarnya COVID-19 bagi anak-anak?

Sebuah studi asal Cina menemukan bahwa sekalipun kebanyakan kasus COVID-19 pada anak termasuk ringan hingga tanpa gejala, bayi termasuk yang paling rentan. Studi berjudul “Epidemiological Characteristics of 2143 Pediatric Patiets with 2019 Coronavirus Disease in China” ini mengobservasi lebih dari 2.000 anak-anak di Cina berusia 18 tahun. Studi menemukan bahwa sekitar 4% anak-anak yang positif COVID-19 tidak menunjukkan gejala atau asymptomatic, sekitar 50% mengalami gejala ringan seperti demam, pegal-pegal, pusing, dan batuk, sementara 39% mengalami gejala lebih parah, termasuk pneumonia atau infeksi paru-paru lain, tetapi tidak sesak napas.

Namun, terdapat 6% atau 125 anak-anak yang mengalami masalah pernapasan serius hingga dalam kondisi kritis. Salah satu anak berusia 14 tahun pun meninggal dunia. Lebih dari 60% anak yang berada dalam kondisi parah atau kritis tersebut berusia kurang dari 5 tahun—dengan 40 di antaranya adalah bayi. Menurut salah satu peneliti, Shilu Tong, bayi dan anak berusia kurang dari 5 tahun menjadi lebih rentan karena sistem pernapasan dan fungsi organ mereka yang sedang dalam masa perkembangan.

Ahli lain percaya dampak COVID-19 terhadap anak masih diremehkan. “Selama ini fokus tes ada pada orang dewasa. Ada kemungkinan kita masih meremehkan beban penyakit yang dialami anak-anak,” kata ahli kesehatan Andrea Cruz, dikutip dari The New York Times.

Related Article