post

Current Affairs

Kabar Baik: RS Darurat COVID-19 di Pulau Galang Hampir Siap

Raka Ibrahim, 1 April 2020

Hari ini (1/4), Presiden Joko Widodo lepas landas ke provinsi Kepulauan Riau untuk meninjau kesiapan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 yang sedang dibangun di pulau Galang. Setelah berkeliling fasilitas tersebut seharian, Presiden menghadapi pers membawa kabar gembira: RS Darurat sebentar lagi siap tempur.

“Maksimal, Senin (6 April 2020) sudah bisa dioperasikan,” ucap Jokowi dalam jumpa pers, siang tadi.

Seperti dilansir situs resmi Sekretariat Presiden, pulau Galang memang diplot sebagai tuan rumah fasilitas khusus penyakit menular, termasuk virus COVID-19. Setelah rampung, rumah sakit tersebut akan memiliki kapasitas tampung 1.000 tempat tidur. Pada Tahap I, 340 tempat tidur akan disiapkan--240 untuk Orang Dalam Pengawasan (ODP), dan 100 untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Adapun 640 tempat tidur lain menyusul dalam Tahap II.

Selain itu, pulau Galang juga akan memiliki bangunan sterilisasi, farmasi, serta bangunan gizi. Pemerintah pusat juga berencana membangun ruangan penunjang, lab satelit, kamar jenazah, insinerator untuk mengolah sampah medis, bahkan tiga helipad untuk memudahkan transportasi pasien.

Pada mulanya, fasilitas di pulau Galang dicanangkan rampung pada 28 Maret 2020. Namun, pembangunan sempat macet karena material bangunan tak bisa masuk Galang akibat cuaca buruk. Per 1 April 2020, fasilitas pulau Galang dikabarkan sudah 95 persen jadi.

Jokowi menyampaikan harapannya bahwa fasilitas karantina di Galang tidak perlu dipakai. "Semua ini memang kita rencanakan dan siapkan.” Katanya. “Kita berharap tidak terjadi, tapi paling tidak kita siap.” Apabila tidak digunakan untuk menangani pasien positif COVID-19, rencananya fasilitas di pulau Galang akan dikembangkan untuk jadi rumah sakit penyakit menular dan riset penyakit.

Menariknya, fasilitas tersebut tak dibangun dari nol. Gedung observasi dalam fasilitas Galang dibangun dengan merenovasi gedung rumah sakit di areal bekas Kamp Vietnam yang pernah terletak di Kelurahan Sei Jantung, Kecamatan Galang.

Pulau Galang memang punya sejarah yang panjang dan berliku. Mulai tahun 1979 sampai 1996, ia menampung ribuan pengungsi dari Vietnam Selatan yang ramai-ramai kabur dari rezim militer Komunis Vietnam Utara. Para pengungsi ini lari lewat jalur laut, dan mendapat julukan Manusia Perahu.

Seperti dilansir Historia, Manusia Perahu pertama terdampar di perairan Indonesia pada 25 Mei 1975, tak lama setelah jatuhnya Saigon, ibukota Vietnam Selatan, kepada pasukan Vietnam Utara. Mulanya, para pengungsi kesasar ke Pulau Laut di wilayah Natuna. Kemudian, 4.000 pengungsi lain terdampar di Pulau Anambas, Pulau Bintan, serta Pulau Pengibu.

Menanggapi krisis kemanusiaan ini, negara-negara ASEAN sepakat bekerjasama menampung para Manusia Perahu. Komitmen mereka termaktub dalam Pernyataan Bangkok, yang diteken pada 21 Februari 1979. Dengan bantuan Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), pemerintah Indonesia membangun kamp penampungan pengungsi di pulau Galang seluas 80 hektar.

Pada masa jayanya, Tempo mencatat bahwa kamp di pulau Galang menampung 145 ribu pengungsi di tahun 1993. Lambat laun, keadaan ini bikin rezim Orde Baru gerah. Para pengungsi bisa bercokol di Galang sampai dua dekade lamanya. Negara lain seperti Malaysia ogah membangun kamp serupa untuk menampung Manusia Perahu, sementara pemerintah Indonesia ingin membangun kawasan industri khusus di sana.

Kemudian, diputuskan bahwa pulau Galang mesti dikosongkan paling telat tahun 1995. Namun, sejarawan Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto mencatat bahwa hingga Juni 1996, masih ada sedikitnya 4 ribu pengungsi di Galang. Fasilitas tersebut baru lengang sepenuhnya pada September 1996.

Bertahun-tahun ditinggal, fasilitas kamp pengungsian yang tersisa entah terbengkalai atau dialihfungsikan jadi obyek wisata. Awal bulan lalu (4/3), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sempat melawat ke Galang dengan niatan memugar bangunan-bangunan tua di sana.

Namun, pandemi COVID-19 agak menggeser rencana mereka. Alih-alih sekadar dipugar sebagai pengingat, fasilitas di pulau Galang mesti dihidupkan kembali. Lagi-lagi untuk menanggulangi bencana kemanusiaan.