Presiden Jokowi Minta Vaksin Tersedia dalam Tiga Bulan, Koordinator Uji Klinis: Tidak Bisa

Indonesia akan melakukan uji klinis tahap III vaksin COVID-19, bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi asal Cina, Sinovac Biotech.

Dalam rapat terbatas di istana negara bersama Menteri BUMN, Menteri Kesehatan, BPOM, PT Bio Farma, dan tim riset dari Universitas Padjajaran, Presiden Jokowi meminta agar uji vaksin ini sudah selesai dan dapat diedarkan di Indonesia dalam waktu cepat.

“Arahan khusus dari Pak Presiden, usahakan vaksin ini cepat ada. Kalau bisa tiga bulan,” ujar Koordinator Uji Klinis Vaksin COVID-19 Universitas Padjajaran, Kusnandi Rusmil, setelah konferensi pers (21/7).

Kusnandi yang sudah berpengalaman melakukan penelitian vaksin selama lebih dari 20 tahun dan mengerjakan uji klinis sebanyak 32 kali menyatakan tak bisa memenuhi permintaan tersebut. Tim risetnya mesti bekerja secara hati-hati untuk dapat memastikan bahwa vaksin aman untuk digunakan.

“Kita bilang tidak bisa 3 bulan, karena kita harus melakukan dengan hati-hati dan dengan benar. Karena kalau untuk uji klinis medis, itu ada tata cara yang udah diatur oleh WHO. Harus begini. Nggak boleh dicepetin atau gimana. Nanti hasilnya tidak baik dan malah vaksin ini tidak terpantau efek sampingnya dan manfaatnya.”

Timnya kini sedang mengumpulkan sekitar 1.620 relawan di Indonesia berusia 18-59 tahun untuk uji klinis vaksin. Targetnya, vaksin dapat selesai pada Januari mendatang. “Saya harus melakukan pengujian bahwa vaksin ini betul-betul efektif dan aman,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa Presiden Joko Widodo sangat mendukung pelaksanaan uji klinis ini.

Sinovac Biotech merupakan satu dari tiga perusahaan di dunia yang telah berhasil masuk ke tahap III uji klinis dalam pengembangan vaksin COVID-19. Untuk dapat mengambil lebih banyak sampel, perusahaan ini bekerja sama dengan PT Bio Farma untuk melakukan uji klinis di Indonesia. Kolaborasi ini juga melibatkan Balitbangkes Kementerian Kesehatan dan Universitas Padjajaran. Selain di Indonesia, Sinovac juga bekerja sama dengan Brasil untuk melakukan uji klinis ke 9.000 warganya dan Bangladesh sebanyak 4.200 relawan.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengatakan pihaknya berencana untuk mendistribusikan 40 juta vaksin per tahunnya setelah uji klinis selesai dan vaksin mendapatkan izin edar. “Kami bertanggung jawab nanti untuk produksi dan distribusi vaksinnya. Dari vaksin yang sudah sampai hari Minggu kemarin dari Cina, sekarang kami lagi simpan sesuai dengan standar-standar internasional. Pada saat uji klinis dimulai, kami akan berikan ke tim uji klinis untuk segera diberikan vaksinasi kepada sampel yang sejumlah 1.620 orang,” ujar Honesti dalam konferensi pers.

“Kami dari Bio Farma mendapat tugas untuk memastikan produksi vaksin ini bisa dikelola dengan baik,” tambahnya.

Related Article