Jeruji Tidak Akan Pernah Mati

Jeruji ditinggalkan Themfuck pada 2015. Tiga tahun kemudian, giliran Ginan yang pergi. Entah bala apa yang meliputi grup hardcore tersebut sehingga kehilangan dua vokalis ikonik dalam tempo begitu singkat. Atau, barangkali, itu justru membuktikan bahwa mereka adalah salah satu band paling keras kepala dalam kancah musik lokal.

Mengentak panggung sejak 1996, Jeruji merupakan salah satu band yang menguasai GOR Saparua, venue bersejarah yang melahirkan Burgerkill, Turtles Jr, dan Puppen. Bersama Themfuck, yang di kemudian hari hijrah dan menjadi tukang bakso, mereka merilis empat album dan perlahan berevolusi dari grup punk pemuja Bad Brains menjadi kugiran hardcore nomor wahid.

Ginan Koesmayadi adalah kawan lama dan vokal cemprengnya sekilas tak cocok untuk bebunyian gagah Jeruji. Namun ketika Ginan bergabung pada 2015, ia mempererat ikatan Jeruji dengan Rumah Cemara, panti rehabilitasi yang dikelolanya. Grup tersebut perlahan berevolusi. Aktivisme mereka semakin militan dan lirik mereka kian terang menampakkan keberpihakan. Mereka berhasil beradaptasi dan menemukan audiens baru. Namun, pada suatu malam di bulan Juni 2018, Ginan meninggal dunia.

Kita dapat mendengar bakat Ginan sebagai aktivis di album satu-satunya bersama Jeruji, Stay True. Album tersebut terdengar seperti lagu perang, ajakan untuk merapatkan barisan dan bersiap menerjang. Tiap lagu disuntik dengan riff-riff yang mengobarkan gairah. Lirik yang diteriakkan Ginan pun mudah ditangkap telinga awam, paling tidak untuk ukuran hardcore.

Stay True adalah pesta rakyat, dan kita semua diundang.

Album berikutnya, Satu Barisan, terdengar berbeda. Sang vokalis baru, Rangga, punya karakter suara yang lebih dalam--seperti perpaduan Themfuck dan Ginan. Pada Stay True, Ginan mengibarkan bendera dan mengajak semua orang bergabung satu barikade dengannya. Namun pada Satu Barisan, amarah yang menguar terasa lebih personal. Jeruji menyodorkan album yang lebih agresif, kelam, dan sulit ditembus. Mereka tidak sedang mengundang orang datang, apalagi berkampanye. Ada emosi pribadi yang mesti diurai dan dituntaskan. Pada Satu Barisan, Jeruji sedang mengejar katarsis.

Jejak Ginan hadir pada setiap lagu di album ini. Juga dalam booklet CD-nya, yang terasa seperti obituari. Mungkin Herry "Ucok" Sutresna dari Grimloc Records benar--semua pembicaraan riuh tentang warisan almarhum Ginan justru memberi ruang bagi Jeruji untuk bereksplorasi. Mereka perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan Rangga dan mengulik suara baru. Ginan memberikan album ini modal narasi tematik yang kuat, selagi departemen musikal mereka sibuk bongkar pasang. Walhasil, meski tak ada lompatan artistik yang spektakuler, transisi itu berhasil mereka lalui dengan rapi.

Mustahil untuk tidak membicarakan masa lalu dengan para personel Jeruji. Sani (drum) dan Pengex (bass) telah bergabung sejak belasan tahun lalu. Mereka hafal betapa keras kepalanya Themfuck, kemampuan Ginan menggalang massa, hingga proses pencarian jati diri Rangga. Andre (gitar) memulai sebagai teknisi panggung sebelum diundang jadi personel penuh pada awal 2000-an. Ia dapat mengisahkan transisi musikal Jeruji seperti ensiklopedia. Rangga dan Ichad (gitar) punya segudang memori menonton Jeruji membakar panggung-panggung Bandung sejak keduanya masih berseragam putih biru. Suka atau tidak, membicarakan Jeruji adalah membahas sejarah panjang musik independen Bandung.

Lewat Satu Barisan, Jeruji telah menuntaskan serangkaian utang kepada masa silamnya. Sejarah yang berliku itu kini telah menjadi landasan untuk langkah mereka ke depan. Ketika saya menemui para personel Jeruji beberapa pekan lalu, ada euforia yang tersisa setelah tur Eropa kedua. Tiap orang dalam grup tersebut tampak lelah sekaligus lega. 

Suatu sore di kantor Grimloc, saya dan Rand Slam memasang Otoboke Beaver di speaker dan Ichad kontan menghampiri kami untuk menanyakan apa yang kami mainkan. Rangga sibuk menonton rekaman live band-band favoritnya di YouTube, mempelajari gerak-gerik frontman dan sesekali mencatat. Andre menuang berbotol-botol Jägermeister untuk ulang tahunnya dan berkelakar tentang gitar baru yang sedang ia incar. Berdamai dengan masa lalu, bersiap menerjang masa depan yang terbentang luas.

Saya sulit percaya pada surga dan neraka. Merana betul bila kehidupan bertahun-tahun dengan segala lika-likunya berakhir pada pilihan biner: antara kebahagiaan atau kesengsaraan abadi. Saya lebih suka mempercayai bahwa kita semua akan terlahir kembali, dan semua yang kita kerjakan sekarang adalah bekal untuk kehidupan berikutnya.

Bila demikian, saya yakin, di mana pun ia berada, Ginan Koesmayadi bakal terlahir kembali sebagai pemberani. Kita tengah menikmati apa yang telah ia semai sejak lama, bersama kawan-kawannya di Bandung. Keberanian itulah yang mendorong para personel Jeruji mencerna duka dan berkumpul lagi setelah sekian lama. Keberanian itulah yang hadir dalam perlawanan warga di Tamansari dan Dago Elos. Keberanian itulah yang dirawat kawan-kawan Rumah Cemara yang bertahan dengan segala keterbatasan. 

Keberanian untuk berbahagia menjadi diri sendiri, apa adanya, dan sisanya: persetan!

Related Article