Jangan Panik, Pasien Covid-19 di Seluruh Dunia Banyak yang Sembuh

Kepanikan muncul tak lama setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua orang di Indonesia positif terjangkit virus corona. Di Jakarta, masyarakat berbondong-bondong memenuhi pusat perbelanjaan untuk memborong bahan makanan, obat-obatan dan produk pembersih. Media sosial pun menunjukkan sejumlah orang yang menjual masker dengan harga mahal. Di sejumlah situs jual beli online, harga sekotak masker bisa mencapai Rp300.000. Biasanya, harga sekotak masker tidak melebihi Rp50.000. 

Rasa panik memang manusiawi. Apalagi, vaksin untuk covid-19 belum ditemukan. Namun, menurut dokter ahli paru Jaka Pradipta dari Rumah Sakit Dharmais, ada regimen yang direkomendasikan untuk pasien positif mengidap virus covid-19. Langkah tersebut membutuhkan kombinasi obat malaria (cloroquine) dan obat antriretroviral HIV (darunavir), atau oseltamivir (anti virus flu burung) dan atazanvir, yang juga merupakan obat antriretroviral HIV. Regimen ini memang belum dipatenkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), namun, menurut Jaka, ini telah menjadi langkah pertama dari sejumlah pusat kesehatan yang berhasil menangani pasien covid-19. 

Selain itu, tingkat kesembuhan pasien penderita virus covid-19 di seluruh dunia saat ini jauh lebih tinggi dari jumlah korban meninggal. Seperti dilansir Worldometer, Selasa (03/03), hingga pukul 15.00 WIB hari ini, total kasus infeksi di seluruh dunia sudah mencapai 91.307 kasus di 76 negara. Cina memiliki kasus terbanyak dengan total 80.152 kasus, 47.328 orang dinyatakan sembuh dan 2.945 korban jiwa. Korea Selatan menyusul dengan total 5.186 kasus, 28 orang meninggal dan 34 pasien sembuh. Sementara itu, Italia mencatat 2.036 kasus dengan 52 korban jiwa dan 149 orang sembuh.

Baca Juga: Dua Warga Positif Corona, Menkes Terawan Sebut Ada Sisi Positif

Secara keseluruhan, ada 3.120 orang dinyatakan meninggal dunia karena virus covid-19. Namun, ada juga 48.238 orang yang sudah dinyatakan sembuh. Tokoh pemerintahan di sejumlah negara mengingatkan, orang yang terinfeksi virus covid-19 tidak lantas berarti menjadi momok menakutkan. Termasuk Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto yang berkali-kali menegaskan bahwa pemerintah dalam kondisi siap siaga dan berjanji menangani serius kasus penyebaran virus covid-19 ini. 

Kementerian Kesehatan juga terus mengeluarkan himbauan agar masyarakat tetap menerapkan pola hidup sehat dan bersih, sering mencuci tangan menggunakan sabun di air yang mengalir. Siapapun yang mengeluh sakit demam yang disertai batuk kering, pilek, nyeri otot dan sejumlah gejala covid-19 juga diminta segera memeriksakan diri ke rumah sakit rujukan pemerintah. Kita tetap perlu waspada, namun merebaknya virus covid-19 bukan akhir dari segalanya. 

Vietnam Konfirmasi 16 Warganya Sembuh dari Corona

Salah satu negara Asia Tenggara, Vietnam, bahkan menunjukkan kemajuan cukup baik dalam penanganan covid-19. Pada Sabtu (29/2), Vietnam mengumumkan bahwa mereka telah mengizinkan seluruh pasien yang terinfeksi covid-19 di negaranya untuk meninggalkan rumah sakit. 16 orang yang positif mengidap covid-19, termasuk pasien tertua berusia 73 tahun, diperbolehkan keluar dari rumah sakit pada Rabu (26/02) lalu. Seperti dikutip dari Al Jazeera, hingga Jumat (28/02), pemerintah Vietnam tidak mendeteksi kasus infeksi baru dalam 15 hari terakhir. Kasus terakhir yang terdeteksi dilaporkan pada 13 Februari lalu.

"Jika bertarung melawan Covid-19 adalah perang, maka kami telah memenangkan ronde pertama tetapi bukan seluruh perang karena situasi dapat menjadi sangat tidak dapat diprediksi," kata pihak Kementerian Kesehatan mengutip Deputi Perdana Menteri Vu Duc Dam. 

Tingkat kesembuhan yang mencapai persentase 100 persen ini adalah kabar baik yang ditunggu semua negara. Lantas, bagaimana Vietnam mengatasi penyebaran virus covid-19?

Baca Juga: Nasib 48 Warga yang Sempat Kontak dengan Pasien Positif Corona

Pejabat WHO dan ahli kesehatan mengatakan, yang krusial dari masalah penanganan virus covid-19 adalah respon cepat di tahap awal. Menurut perwakilan WHO di Vietnam, Dr Kidong Park, pemerintah Vietnam sukses mengatasi covid-19 karena adanya sikap proakif dan konsistensi respons yang dilakukan. Wabah covid-19 tercatat memasuki Vietnam ketika dua warga negara Cina dikonfirmasi positif terinfeksi di Ho Chi Minh City pada 23 Januari lalu. Hari itu, segenap masyarakat tengah merayakan libur tahun baru Imlek. 

Pada 1 Februari 2020, ketika jumlah kasus meningkat menjadi enam kasus, Vietnam secara resmi mengumumkan epidemi virus corona. Pemerintah Vietnam melakukan isolasi di Son Loi yang berpenduduk sekitar 10.600 jiwa selama 20 hari. Menurut Deputi Menteri Kesehatan, Nguyen Thanh Long, isolasi diperlukan sebagai langkah fundamental karena belum ditemukannya vaksin yang bisa segera menyembuhkan covid-19 (13/02). 

Pemerintah segera membuat protokol untuk pekerja kesehatan dalam menguji infeksi dan tingkat keparahannya. Keamanan para pelajar juga segera diutamakan. Kementerian pun menginstruksikan sekolah-sekolah untuk melakukan pembersihan ruang kelas sebelum murid-murid melanjutkan kelasnya. 

Vietnam, yang dikenal sebagai tempat perdagangan dan konsumsi hewan liar, mengambil langkah serius terkait perdagangan hewan liar. Hewan-hewan liar telah diidentifikasi sebagai sebuah penghubung yang memungkinkan penyakit mematikan berpindah ke manusia, serupa dengan apa yang terjadi saat wabah SARS terjadi pada tahun 2002 dan MERS pada tahun 2012. Pada 28 Januari lalu, Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc, memerintahkan pelarangan impor hewan liar ke Vietnam. Departemen Perlindungan Hutan juga memberlakukan pelarangan sementara pemindahan hewan liar keluar Vietnam hingga pemberitahuan lebih lanjut.

"Saat ini, tidak ada pelarangan langsung untuk konsumsi hewan liar, yang merupakan faktor pendorong dari dilakukannya perdagangan ilegal," kata Dr Ben Rawson dari World Wildlife Fund.

Selain itu, larangan bepergian juga segera diterapkan oleh pemerintah Vietnam. Sejak Korea Selatan menjadi pusat virus corona terbesar di luar daratan China, Perdana Menteri Vietnam telah memerintahkan larangan kunjungan dari negara tersebut. Pada Jumat (28/02), Vietnam mengumumkan penangguhan sementara visa bagi warga negara Korea Selatan. Di waktu yang sama, Vietnam juga mengumumkan bahwa wisatawan dari Iran dan Italia harus menjalani 14 hari karantina setelah kedatangan.

Baca Juga: Warga Panik dan Masker Mahal, Menkes Terawan: Impact Ekonomi

Meski tingkat kesembuhan pasien covid-19 sangat baik, pihak WHO di Vietnam memperingatkan bahwa pertarungan melawan virus di negara tersebut masih jauh dari selesai. Sebab, peningkatan penularan global akan terus terjadi.

"Kita sedang berada di titik kritis dari wabah. Negara-negara, termasuk Vietnam, harus menggunakan waktu ini untuk mempersiapkan kemungkinan dari penularan yang lebih luas," kata perwakilan WHO di Vietnam, Dr Kidong Park. 

Banyak Pasien Sembuh, Jokowi: Tetap Tenang dan Waspada

Sementara itu, Presiden Jokowi meminta seluruh masyarakat Indonesia tetap waspada sekaligus tenang dan beraktivitas seperti biasanya dalam menyikapi penyebaran virus corona di tanah air. 

"Saya juga berharap masyarakat tetap waspada, tetap tenang, beraktivitas seperti biasa. Gejala virus Covid-19 ini mirip flu. Faktanya sebagian pasien baik di RRT, Wuhan, kemudian di Jepang, Iran, dan Italia sudah hampir semuanya pasien dapat sembuh dan pulih,” kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (03/03). 

Memasuki hari kedua setelah virus covid-19 dikonfirmasi sudah berada di Indonesia, pemerintah menunjuk Sesditjen P2P Kemenkes, Achmad Yurianto, sebagai juru bicara resmi untuk penanganan corona. Dalam pertemuannya dengan rekan media, Achmad mengajak warga untuk tidak membeli barang-barang sembako dengan jumlah berlebihan. 

"Saat ini, pasien dalam pengawasan belum tentu terindikasi coronavirus. Sekarang, seusai data kemarin (02/03) per pukul enam sore, ada 155 spesimen data. Semua spesimen dilakukan pengecekan ulang secara berkala. Akhirnya kita didapatkan dua orang positif. Masih ada empat orang yang perlu dikonfirmasi ulang. Dari 67 kru Diamond Princess, 65 (orang) kita pastikan negatif, tapi ada yang harus diulang dengan metode berbeda. Karena, kita tidak bisa meralat kalau sudah memutuskan. Ini untuk memastikan keakuratan," ujar Achmad. 

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berencana membangun rumah sakit khusus pasien virus corona di sebuah pulau Galang, Riau, yang berjarak sekitar satu jam dari bandara Batam. Fasilitas tersebut akan dibangun oleh tentara Indonesia dan dioperasikan oleh Kementerian Kesehatan. Pulang Galang pernah menjadi kampung pengungsian badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang kemudian ditutup pada tahun 1996. 

Jokowi terus berusaha meyakinkan bahwa pemerintah melakukan upaya maksimal untuk mencegah agar jangan sampai titik awal penularan meluas menjadi sebuah wabah. “Kita sudah tahu siapa-siapa dan sudah dilakukan pengawasan terhadap yang telah berhubungan dengan kasus satu dan kasus dua," ucapnya.

"Dan saya mengajak marilah kita berdoa, saudara kita bisa pulih kembali.”

Related Article