Jangan Bunuh Bakat dan Mimpi Anak

Sering kali bakat dan minat anak harus terhenti sebelum mereka merasakan hidup sebagai orang dewasa. Kreativitas yang meledak-ledak kerap kali harus kandas di tangan orang-orang terdekatnya sendiri, yaitu orang tua. Anak bahkan harus dihantam kenyataan pahit oleh pemaksaan kehendak orang tuanya.

Beberapa hari terakhir, media sosial Twitter diramaikan dengan pembicaraan tentang anak laki-laki yang merajut benang dan pita. Awalnya, ia sering melihat aktivitas bibinya hingga akhirnya penasaran dan keasyikan belajar merajut dari siang hingga tengah malam. Ketekunan membuatnya mahir.

Namun, apa hendak dikata, ternyata ibunya tak suka dengan bakat merajutnya. Sering kali rajutannya tak selesai karena ibunya marah atau membuang benang dan pita yang ia punya. Tak banyak yang bisa ia lakukan, menangis adalah pilihan yang paling mungkin.

Mirisnya lagi, sang ibu marah sembari meminta agar anaknya tak main benang dan pita lagi, karena ibunya menganggap benang dan pita tersebut sebagai mainan anak-anak perempuan. Menurut ibunya, mestinya sang anak bermain sepak bola dan layangan seperti anak laki-laki lain sebayanya.

Menurut bibinya, keponakannya itu memang merupakan sosok anak laki-laki yang lembut. Memilih merajut benang dan pita, bukan berarti ia tak suka sepak bola atau pencak silat. Bibinya menyebut ia hanya tak suka permainan yang melibatkan fisik, sehingga sering kali ia tertinggal dalam pelajaran olahraga di sekolah.

Baca Juga: Kesempatan Lebih bagi yang Tertinggal dalam Pendidikan

Namun, meminta sang anak untuk berubah agar seragam dengan teman-temannya yang lain dalam permainan tentu saja salah. Apalagi memaksanya berhenti menjalani bakat, minat, hobi, dan kreativitasnya dalam merajut, hanya karena sang anak tak semaskulin teman-temannya, jelas bukan pilihan tepat. 

Hindari Pengasuhan Otoriter pada Anak

Kita sepertinya memang kurang beruntung karena berada di lingkungan yang kurang begitu memperhatikan tumbuh kembang psikologis anak. Tengok saja, sedari kecil, kita tak pernah sedikit pun lepas dari bayang-bayang dunia dan pola pengasuhan yang penuh larangan dan batasan. 

Bukankah setiap anak memiliki keunikan dan kreativitasnya masing-masing? Entah itu dalam hal belajar maupun bermain. Misalnya ada anak yang lebih suka belajar dengan cara mendengar dan membaca buku (auditori), ada pula yang lebih mudah belajar melalui gambar (visual), dan bahkan ada anak yang lebih suka terlibat langsung dalam suatu aktivitas (kinestetis).

Sayangnya, masih banyak orang tua yang tak paham betul tiga jenis gaya belajar anaknya. Yang kebanyakan orang tua tahu, bahwa sang anak hanya perlu bisa menulis, berhitung, dan membaca. Jarang yang mengarahkan sang anak pada bakat dan minat tertentu, terlepas apa jenis kelaminnya.

Peneliti Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia (PUSKAPA UI), Ryan Febrianto dan Windy Liem, mengingatkan pentingnya mempertimbangkan bahwa banyak faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana seseorang menilai identitas sosial, termasuk gender.

Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah agama, nilai-nilai yang dianut, dan latar belakang sosial dan budaya. Menurut Ryan dan Windy, justru di sini menjadi kesempatan yang baik dalam memulai dialog tentang bagaimana identitas sosial akan berdampak pada kemampuan dan potensi anak ke depannya.

Baca Juga: COVID-19: Awas, Eksploitasi Pekerja Anak

“Apakah selama ini pelayanan dasar membeda-bedakan anak berdasarkan identitas sosialnya? Apakah faktor agama, budaya dan nilai yang dianut juga mempengaruhi cara orang tua mendidik anaknya?” kata Ryan dan Windy saat dihubungi Asumsi.co, Rabu (01/07).

Membuka diskusi seperti ini, menurut Ryan dan Windy, bisa dimulai dari kita sendiri dan lingkungan terdekat, baik antara guru dan siswa, orang tua/pengasuh dan anak, atau bahkan kerabat dan teman. 

Ryan dan Windy mengatakan bahwa tindakan melarang ada kaitannya dengan pola asuh. Diana Baumrind (1971), seorang peneliti psikologi klinis dari Amerika mengelompokkan pola asuh ke dalam tiga tipe yang sering digunakan dalam penelitian yakni otoritatif (authoritative), otoriter (authoritarian), dan permisif (permissive). 

Lalu, pengelompokan ini dibagi berdasarkan dua dimensi, yakni demandingness dan responsiveness. Dua tipe, yang menurut Ryan dan Windy, seringkali dibandingkan adalah otoritatif dan otoriter. 

“Pengasuhan otoritatif merupakan gabungan dari high demandingness dan high responsiveness, sedangkan pengasuhan otoriter merupakan gabungan dari high demandingness, namun low responsiveness. Artinya, keduanya sama-sama menuntut anak untuk patuh pada orang tua.” 

Bedanya, orang tua yang otoritatif memberikan ruang bagi anak untuk berargumen dan berdiskusi atas keputusan orang tua, dengan kata lain lebih demokratis. Sementara orang tua yang otoriter mengganggap argumen anak sebagai membangkang bahkan kurang ajar. Pola otoritatif kerap dikaitkan dengan budaya barat, sedangkan otoriter dengan budaya di luar barat. 

Menurut Ryan dan Windy, cukup banyak studi yang menyimpulkan bahwa pengasuhan dengan pola otoritatif adalah yang terbaik bagi perkembangan anak. Namun, ketika dievaluasi dengan mempertimbangkan dampak kultur, hasilnya ternyata beragam. 

“Penelitian menemukan dampak buruk pengasuhan otoriter pada anak dengan kultur barat yang cenderung individualis dan mengedepankan kemandirian dan pencapaian personal. Namun, ada pula penelitian yang menemukan bahwa pada konteks sosial yang lebih kolektivis serta mengedepankan kepatuhan dan keselarasan dengan norma sosial, dampak pengasuhan yang otoriter pada anak berbeda.”

Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa anak menganggap kontrol dari orang tua sebagai bentuk perhatian.

Baca Juga: Kenapa Orang-Orang Peduli Amat dengan Drama Keluarga Krisdayanti?

“Kesimpulannya, orang tua memiliki pandangan yang berbeda dalam hal mengasuh anak, yang juga dipengaruhi nilai yang dianut dan akses orang tua terhadap informasi mengenai perkembangan anak. Dampak dari pola pengasuhan pada konteks tertentu juga belum tentu sama ketika diterapkan di konteks lain.” 

Beberapa studi (Roubinov & Boyce, 2017; Emmen et al., 2013) juga menemukan bahwa orang tua dengan status sosial ekonomi rendah memiliki tingkat stres dalam pengasuhan yang lebih tinggi, karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki dan akses pada informasi mengenai pengasuhan. 

“Namun, satu hal yang kami yakini adalah orang tua membutuhkan dukungan dan akses pada informasi untuk mengasuh anak, bukan penghakiman. Sehingga keputusan yang mereka ambil dalam pengasuhan didasari oleh pengetahuan dan pilihan, bukan keterpaksaan karena tekanan ekonomi dan keterbatasan pengetahuan.”

Kuatnya Budaya Patriarki Juga Kerap Membatasi Ruang Gerak Anak

Anak sering diminta orang tuanya untuk bermain dan memilih hobi sesuai gendernya. Hobi dan minat yang menggunakan fisik tentu saja identik dengan anak laki-laki, sementara anak perempuan harus menjalani hobi sebaliknya. 

Memang pencapaian dalam hal kesetaraan gender masih menjadi tantangan di dunia maupun di Indonesia, seperti yang dilihat dari data Global Gender Gap Report 2020 dari World Economic Forum (WEF). Indonesia masih berada di posisi ke-85 dari 153 negara, dengan posisi yang lebih rendah dari Uganda, Thailand dan Rusia. Hal ini termasuk bagaimana perhatian diberikan kepada membangun generasi yang adil gender, dimulai dari pengasuhan.

Kondisi ini juga terkait dengan bagaimana pengasuh dan masyarakat mengadopsi nilai-nilai gender dalam pengasuhan, termasuk ekspektasi terhadap peran dan ekspresi gender yang ditanamkan kepada anak sejak kecil. Meski masih terbatas, berbagai penelitian yang ada membuktikan bahwa ekspektasi terhadap maskulinitas laki-laki seperti laki-laki harus tangguh, tidak menunjukkan perasaan, justru bisa berdampak negatif pada tumbuh kembang anak laki-laki di masa depan.

Hal ini mencakup kemungkinan kualitas kesehatan mental yang menurun seperti kecenderungan depresi, keterlibatan mereka dalam kekerasan dan perilaku berisiko lainnya yang memiliki dampak signifikan terhadap tumbuh kembang mereka di kemudian hari, juga melanggengkan lingkaran kekerasan lintas generasi.

“Kita perlu menginvestigasi lebih dalam terkait maksud orang tua yang melarang anaknya merajut benang dan pita tersebut, termasuk adanya ekspektasi peran dan ekspresi gender tertentu terkait ide menjadi anak laki-laki yang dicoba tanamkan di sini.”

Adapun rekomendasi PUSKAPA kepada pengasuh adalah menerapkan nilai dan cara pengasuhan yang mengajarkan anak-anak, terlepas apapun gendernya, untuk berani terbuka terhadap perasaan mereka. Lalu, membangun relasi yang setara seperti bersikap saling menghargai, tanpa kekerasan, menghargai suara dan peran anak dalam memutuskan yang terbaik untuk dirinya. 

Sejumlah penelitian di negara lain membuktikan bahwa dukungan orang tua berpengaruh pada self-esteem dan psychological well-being anak di usia yang lebih tua. Di sisi lain, salah satu penelitian terkait kaum muda di Indonesia juga menemukan bagaimana norma gender yang merugikan telah membatasi pencapaian cita-cita kaum muda, yang di mana pengambilan keputusan dan perencanaan dari orang tua dan anak juga berperan aktif. 

“Sistem pendidikan yang inklusif dapat berperan banyak untuk hal ini, dengan memberikan anak kesempatan untuk berpendapat dan mengeksplorasi diri melalui program after school atau informal bagi anak usia sekolah yang hampir tidak ada di Indonesia,” kata Ryan dan Windy.

Menurut Ryan dan Windy, pemerintah juga perlu memperhatikan nilai-nilai dalam kebijakan mengenai keluarga yang juga tidak bias gender sehingga keluarga dapat menjadi salah satu institusi sosial yang akan mematahkan norma-norma sosial yang selama ini membatasi anak untuk untuk mengambil keputusan mengenai pengembangan minat mereka. 

Sementara itu, psikolog Anak Jane Cindy Linardi mengatakan bahwa seharusnya orang tua tidak pernah melarang anak untuk menekuni hobi atau minatnya. Menurutnya, akan lebih baik orang tua, mencari tahu minat dan bakat anak, berikan anak dukungan dan fasilitasi supaya anak dapat mendalaminya. Lalu, jangan lupa beri apresiasi atas kemauan dan usaha anak untuk mendalami hobi dan minatnya.

“Orang tua juga dapat membuka perspesktif secara lebih luas. Bahwa satu aktivitas tidak harus dikaitkan pada satu gender tertentu. Contoh, kalau masak dikaitkan dengan perempuan. Padahal, faktanya banyak sekali chef laki-laki. Demikian pula dengan aktivitas mendesain, baik laki-laki maupun perempuan banyak yang menekuni bidang tersebut,” kata Jane kepada Asumsi.co, Rabu (01/07).

Jane melihat sejauh ini memang masih banyak orang tua yang belum memiliki wawasan terkait pentingnya mendukung dan menstimulasi minat dan bakat anak. Kemungkinan, lanjutnya, hal itu terjadi lantaran orang tua ingin anak menekuni minat yang dulu ingin dicapai orang tua, namun tidak terjadi. Atau bisa jadi juga karena terkait perspektif gender yang disebutkan sebelumnya.

Related Article