post

Current Affairs

Jangan Ada Lagi Komentar Cabul di Siaran Sepakbola Indonesia

Ramadhan, 11 Maret 2020

Siaran langsung pertandingan sepakbola Liga 1 Indonesia antara Persita Tangerang vs PSM Makassar di Stadion Sport Center Tangerang, Jumat (06/03/20), tercoreng ucapan seksis Rama Sugianto yang memandu tayangan tersebut. Ucapan Rama di televisi dinilai banyak orang menghina dan melecehkan perempuan.

"Sementara kita lihat, ini dia, saya melihat ada sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat, ada yang besar tapi bukan harapan, Bung Erwin. Apa itu, Bung Erwin?" kata Rama kepada Erwin Fitriansyah, komentator lainnya, soal para suporter perempuan Persita di tribun yang disorot kamera.

"Perempuan-perempuan ini yang menghiasi tribun,” kata Erwin menimpali Rama. Mendengar jawaban tersebut, Rama pun tertawa terbahak-bahak.

Tak butuh waktu lama, pernyataan itu akhirnya mewabah lewat sebuah video berdurasi 15 detik yang tersebar di media sosial pada Minggu (08/03/20), bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, di mana para perempuan sedunia berunjuk rasa di jalanan, termasuk di Jakarta, untuk menuntut kesetaraan.

Baca Juga: Kok Bisa Kena Catcall di Aksi Women's March?

O Channel TV, stasiun televisi yang menayangkan Liga 1, meminta maaf atas komentar Rama yang tak etis. Selain itu, O Channel mengklaim sudah memberikan peringatan tegas dan sanksi internal kepada sang komentator.

"Buat teman-teman semua, saya Rama Sugianto, saya ingin mengucapkan minta maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf saya, atas segala salah saya dan terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberi masukan, memberi kritikan yang membangun, dan insyaallah ini tidak akan terjadi di waktu yang akan datang," kata Rama di Instagram.

"Khususnya saya ingin meminta maaf kepada Bidadari Tribun dari Persita Tangerang," ujarnya.

Protes Keras Koalisi Masyarakat Sipil atas Komentar Seksis

Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) merespons pernyataan seksis Rama saat memandu siaran langsung Persita vs PSM di O Channel lewat pernyataan resmi. “Kami merasa perlu ada tindakan lebih lanjut dari kedua orang yang terlibat dalam pelecehan seksual verbal tersebut dengan mempertimbangkan beberapa hal,” tulis KOMPAKS  dalam rilis yang diterima Asumsi.co dari LBH Apik, Selasa (10/03).

Pertama, mempertimbangkan bahwa jumlah penonton acara tersebut jauh melampaui jumlah followers Instagram yang bersangkutan; kedua, yang bersangkutan menggunakan saluran serta frekuensi publik saat melakukan pelecehan seksual verbal.

Baca Juga: Body-positivity Seharusnya Radikal

Ketiga, pelecehan seksual verbal dilakukan melalui penyiaran Indosiar, TV swasta dengan jangkauan nasional; keempat, adanya masyarakat yang menyaksikan pelecehan seksual verbal melalui Indosiar yang tidak memiliki akun media sosial dan tidak menjadi followers yang bersangkutan;

Kelima, posisi yang bersangkutan sebagai figur publik yang berpotensi didengar dan ditiru perilakunya.

“Kami meminta yang bersangkutan untuk melakukan permintaan maaf secara terbuka menggunakan media dan frekuensi publik yang digunakan saat yang bersangkutan melakukan pelecehan seksual verbal secara terbuka pada Hari Jumat lalu, yakni melalui O Channel/Indosiar pada waktu menyiarkan Liga 1."

Suporter Merah Putih saat mendukung Timnas Indonesia berlaga melawan Vanuatu pada laga persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (15/06/2019). Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Saat dihubungi Asumsi.co, Rabu (11/03), Komisioner KPI Mimah Susanti mengatakan bahwa Komisioner Bidang Kelembagaan KPI Pusat, Hardly Stefano, sudah menjelaskan perihal ini. Misalnya terkait sang komentator yang telah diberikan sanksi oleh O Channel berupa pemberhentian sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Dalam pernyatannya, Hardly menyebut pemberhentian itu sebagai komitmen pihak penyiaran kepada KPI. Meski permintaan maaf tersebut diapresiasi, KPI menyebut bukan berarti sang komentator tak diberi sanksi.

Lebih lanjut, supaya insiden tersebut tak kembali terulang, KPI pun mengimbau kepada seluruh stasiun televisi untuk menerapkan pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran (P3SPS) kepada seluruh karyawannya, termasuk komentator. "Khususnya agar lebih sensitif terhadap isu gender. Agar tidak ada yang sifatnya melecehkan perempuan atau orang lain," kata Hardly.

Sementara itu, aktivis perempuan Tunggal Pawestri menyayangkan komentar seksis tersebut karena dinilai menjadikan tubuh perempuan sebagai objek. Terlebih komentar seksis itu terjadi di televisi yang notabene disaksikan masyarakat luas. “Ini harus jadi pembelajaran buat stasiun TV untuk mencari komentator yang enggak seenaknya berkomentar cabul, enggak berkomentar berbau pelecehan seksual seperti itu ya. Komentatornya mesti disanksi, kalau tidak, ya TV juga berarti ikut melanggengkan pelecehan verbal itu,” kata Tunggal saat dihubungi Asumsi.co, Rabu (11/03).

Baca Juga: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Enggan Melaporkan Kasusnya?

Menurut Tunggal, stasiun TV harus berhati-hati dan KPI juga harus bersikap tegas terkait insiden tersebut. Selain juga harus selektif terkait tayangan-tayangan yang masih menggunakan komentator-komentator dengan komentar vulgar seperti itu.

“Ini kan guyon atau becandaan yang enggak lucu sama sekali ya. Sering sekali akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan orang ramai. Padahal membuat banyak orang juga, baik laki-laki maupun perempuan, jadi tidak nyaman.”

Perang terhadap Seksisme di Piala Dunia Rusia 2018

Seksisme di dunia sepakbola bukanlah hal baru. Bahkan, seksisme diklaim sebagai masalah yang jauh lebih besar ketimbang rasisme. Di gelaran Piala Dunia 2018 Rusia lalu, sebuah kelompok anti-diskriminasi bernama Fare Network yang bekerjasama dengan Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) untuk mengawal isu ini, bahkan mengatakan seksisme menjadi masalah serius.

FIFA bahkan sudah memberikan teguran kepada para broadcaster dan juru kamera agar tidak menyorot suporter perempuan di tribun stadion pada hajatan empat tahunan tersebut. Langkah itu diambil FIFA untuk memerangi aksi seksisme dan objektifikasi terhadap perempuan di sepakbola.

Sayangnya, peringatan itu tak diindahkan. Setidaknya Fare Network sudah mendokumentasikan lebih dari 30 kasus seksisme yang terjadi selama gelaran Piala Dunia Rusia 2018.

Aksi nakal para broadcaster dan juru kamera di Piala Dunia Rusia 2018 itu pun berbuntut panjang. Di masa-masa gelaran pesta sepakbola terbesar di dunia itu, banyak bermunculan akun-akun di media sosial yang sengaja mengumpulkan foto-foto penonton perempuan di tribun dan mengomentarinya dengan kalimat-kalimat kurang ajar.

Saat itu, FIFA Head of Sustainability & Diversity Federico Addiechi mengatakan sudah berbicara dengan lembaga penyiaran nasional dan tim produksi televisi terkait siarang langsung. Federico menyebut FIFA bergerak untuk membantu mengatasi seksisme di Piala Dunia Rusia 2018.

“Kami sudah melakukannya (memperingatkan juru kamera untuk tidak fokus ke penonton perempuan di tribun) dengan masing-masing penyiar. Kami sudah melakukannya dengan layanan penyiaran tuan rumah,” kata Federico seperti dimuat BBC, Rabu (11/07/18).

Kebijakan pembatasan sorotan kamera kepada penonton perempuan di tribun itu diharapkan bisa jadi kebijakan resmi FIFA. “Ini adalah salah satu kegiatan yang pasti akan kita miliki di masa depan, ini adalah evolusi normal.”

Direktur Eksekutif Fare Network Piara Powar mengatakan seksisme jadi isu utama yang mereka sorot. Powar justru yakin jumlah insiden seksis di Piala Dunia Rusia 2018 lalu, angkanya kemungkinan lebih dari 10 kali lipat. Bahkan, Powar menambahkan, ada beberapa kasus jurnalis perempuan yang diusik, dilecehkan, bahkan dipeluk dan dicium saat sedang siaran langsung.

Aksi-aksi Seksis di Dunia Sepakbola

Lain lagi dengan cerita mantan bek tim perempuan Arsenal, Alex Scott, yang memilih menjadi seorang pundit yang bekerja untuk BBC. Keputusan itu ia ambil selepas memutuskan pensiun sebagai pemain sepakbola pada 2018. Sayangnya, Scott justru sering menerima pelecehan seksual saat tampil sebagai pundit di stasiun televisi.

Nyaris setiap hari, di akun Twitter pribadinya, Scott mendapat komentar-komentar seksis terkait penampilannya saat mengomentari pertandingan di depan televisi. "Sekarang, saya mendapatkan pelecehan setiap hari di Twitter," kata Scott seperti dikutip dari Independent, Jumat (10/05/19).

Baca Juga: Bagaimana Cara Menangani Kekerasan Seksual di Kampus?

Bahkan, Scott pernah berpikir untuk menutup akun Twitter pribadinya lantaran banyaknya komentar yang dianggap melecehkan tersebut. Meski begitu, perempuan yang memperkuat Arsenal selama tiga musim itu tetap memilih untuk tidak mempedulikan komentar seksis terhadapnya itu.

"Saat Natal, semuanya sangat sulit. Saya berpikir untuk meninggalkan Twitter. Namun saya berpikir, kehadiran saya di media sosial bisa mempererat hubungan dengan fans. Kalau saya tutup akunnya, saya membiarkan mereka menang," kata Scott yang mencatatkan 140 penampilan bersama Timnas Putri Inggris itu.

Aksi seksis di dunia sepakbola memang sulit dihentikan. Aksinya pun beragam, mulai dari pelecehan verbal dari komentator terhadap suporter perempuan, suporter atau presenter terhadap pesepakbola perempuan, penggemar terhadap pundit perempuan, hingga suporter terhadap jurnalis perempuan.

Contoh lain dari perlakuan menyedihkan terhadap pesepakbola perempuan juga terjadi pada ajang penghargaan pesepakbola terbaik dunia Ballon d’Or 2018 lalu. Pembawa acara Martin Solveig dinilai melecehkan pesepakbola perempuan asal Norwegia, Ada Hegerberg, yang saat itu menerima penghargaan Ballon d'Or di Paris.

Ketika itu, Herberg yang merupakan pemain klub Olympique Lyonnais itu diminta untuk melakukan Twerk (tarian yang menggerakkan pantat naik turun secara cepat/tarian sensual) sebagai bentuk selebrasi. Kalimat yang diucapkan Solveig adalah “Est-ce-que tu sait twerker?”.

Hegerberg, yang merupakan perempuan pertama peraih penghargaan bergengsi itu, langsung memasang wajah tidak senang dan mengucapkan “Non” yang berarti menolak. Kontroversi itu sendiri memaksa Solveig memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf. Mirisnya, para pemenang penghargaan pria tidak pernah mendapat pertanyaan yang tak ada kaitannya dengan sepakbola seperti yang dialami Hegerberg.

Aksi-aksi seksis itu tentu saja tak lepas dari anggapan selama ini yang menilai sepakbola adalah olahraganya kaum pria dan punya sisi maskulinitas yang tinggi. Misalnya saja hal itu terbaca jelas dari adagium yang lumayan populer di Inggris: “Rugby is a thug’s game played by gentlemen and football is a gentleman’s game played by thugs.”

Puput Putri dalam tulisannya di Colombo Studies yang berjudul “Sepakbola, Seksisme dan Pembedaan Identitas Suporter Wanita," membeberkan salah satu bentuk seksisme dalam sepakbola di tanah air yakni eksploitasi terhadap suporter perempuan.

Nyaris sebagian besar masyarakat Indonesia lebih senang melabeli suporter perempuan yang hadir di tribun penonton. Misalnya saja kita sering mendengar pelabelan untuk suporter perempuan dari berbagai klub macam bidadari tribun, selebriti tribun, WAGs, ladies, woman, girls, nona, angels, dan lain-lain.

Namun, hal serupa justru tak dialami suporter laki-laki yang bisa menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion dengan aman dan nyaman. Suporter laki-laki ya suporter saja.

Rasa-rasanya kampanye stadion ramah perempuan bakal sia-sia jika orang-orang yang terlibat di dalamnya masih saja melanggengkan kebiasaan-kebiasaan seksis.

Kick sexism out of football!