Ibu dan Dua Anak Positif COVID-19, Diduga Terpapar Lewat Baju Ayah

Seorang ibu dan dua anaknya yang tinggal di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, dinyatakan positif terinfeksi COVID-19. Mereka diduga terpapar virus SARS-CoV-2 lewat baju sang ayah yang bekerja di Rumah Sakit (RS) Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. Hal ini kembali menegaskan pentingnya prosedur kebersihan diri di luar rumah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Dedi Syarif membenarkan informasi tersebut. Dugaan itu diketahuinya berdasarkan laporan dari salah satu rumah sakit umum daerah (RSUD) Kabupaten Bogor. Dua anak tersebut berusia empat dan delapan tahun.

"Kan virusnya kan nempel di badan, di baju, bisa saja nular. Ke rumah bawa baju. Harusnya kan bajunya langsung dicuci, direndam, langsung disemprot disinfektan, harusnya seperti itu kalau memang dia berisiko karena pekerjaannya di tempat yang seperti itu," ujarnya.

Baca Juga: Efektifkah Rapid Test COVID-19 di Indonesia?

Berapa Lama Virus Corona Bertahan di Pakaian?

Ahmad Rusjdan Utomo, Principal Investigator Stem Cell and Cancer Research Institute (SCI) Jakarta, menjelaskan bahwa ada kemungkinan seseorang terpapar virus SARS-CoV-2 dari permukaan pakaian. Meskipun risikonya lebih kecil dibandingkan penularan langsung, hal itu tetap perlu diwaspadai dengan memerhatikan perilaku hidup bersih.

“Kemungkinan sih bisa saja karena percikan ludah dari carrier yang mengandung virus bisa tertransfer dari pakaian. Risikonya relatif lebih kecil dibandingkan penularan langsung ketikan berhadapan atau kontak langsung dengan carrier,” kata Ahmad saat dihubungi Asumsi.co, Senin (27/04).

Soal berapa lama durasi virus bisa bertahan di permukaan pakaian, Ahmad tak bisa memberikan jawaban rinci. Yang jelas, menurutnya, agar tetap waspada, ia pun menyarankan masyarakat untuk segera menjauhkan pakaian yang dipakai selepas keluar rumah dari jangkauan keluarga di rumah.

Baca Juga: Pandemi Menghantam Generasi Z Lebih Keras daripada Generasi Lainnya

“Untuk kewaspadaan, ketika pulang ke rumah dari bepergian, segera lepas baju, cuci, mandi bersih, ganti baju bersih, baru berinteraksi dengan keluarga. Itu yang saya lakukan. Prinsipnya kehati-hatian mengingat transmisi sudah lokal dan komunal,” ucap Ahmad.

Berry Julian, Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda menyebut memang sudah ada penelitian yang menunjukkan bahwa virus Corona mampu bertahan di permukaan benda padat seperti pakaian dalam jangka waktu cukup lama, bahkan hingga hitungan hari. Namun, dalam sebuah penelitian itu tidak spesifik menyebut pakaian saja. 

“Tapi bisa juga bertahan di permukaan kayu, plastik, dan logam. Untuk hal ini perlu diteliti, tapi melihat kemungkinannya akan sama dengan permukaan padat lainnya seperti hasil penelitian di atas. Bisa jam bahkan hari tergantung kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban,” kata Berry saat dihubungi Asumsi.co, Senin (27/04).

Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa orang-orang bisa tertular virus Corona lewat droplets atau tetesan cairan saat orang batuk atau bersin. Lalu, ketika pakaian terkena tetesan itu, maka bisa berpotensi untuk memindahkan penyakit COVID-19 dari satu orang ke orang lainnya.

Hal ini juga senada dengan apa yang disampaikan Prajnya Paramitha, seorang dokter di RSCM Jakarta, kepada Asumsi.co, Jumat (27/03) lalu. Menurutnya, bicara soal penularan COVID-19, salah satunya melalui droplets infection atau percikan. Di mana air dari percikan itu harus dihindari karena bisa menginfeksi.

Carol Winner, seorang spesialis kesehatan masyarakat menjelaskan bahwa cairan tersebut memang bisa mengering dan seiring waktu bisa menonaktifkan virus. Namun, proses itu membutuhkan waktu yang lama, bahkan sampai saat ini para peneliti masih mempelajarinya.

Baca Juga: Akankah Pemakaian Masker Jadi "The New Normal" Pascapandemi?

"Kami tahu tetesan bisa mengering dalam beberapa kondisi, yang mungkin lebih cepat dengan serat alami. Meskipun panas dan kelembaban berpengaruh pada virus, di suhu Australia yang mencapai 26,6 derajat Celcius Tom Hanks masih terinfeksi," kata Winner kepada HuffPost.

Sementara Robert Amler, Dekan Fakultas Ilmu dan Praktik Kesehatan di New York Medical College dan mantan kepala medis CDC, menyebutkan bahwa paparan droplet juga dipengaruhi dari jenis kainnya karena ada sejumlah bahan yang justru lebih rentan, seperti spandex dan polyester.

Sementara itu, Dr. Janette Nesheiwat menyarankan agar pakaian dengan bahan polyester yang mirip spandex yang biasa dipakai untuk bahan legging, pakaian dalam, dan gaun harus dicuci dengan hati-hati, hal ini lantaran bahan spandex dapat menahan kuman lebih lama daripada kain berbahan dasar katun yang cenderung lebih bisa bernapas.

"Bahan spandex seperti polyester dapat menahan kuman lebih lama dari kain berbahan dasar kapas, tetapi semua jenis kain dapat terkontaminasi," kata Dr Janette Neisheiwat.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga jauh-jauh hari sudah menganjurkan untuk langsung melepas pakaian dan merendamnya dengan deterjen, sesaat setelah memasuki rumah usai bepergian keluar. Setelah selesai mencuci, sebaiknya mencuci tangan menggunakan sabun. Hal itu demi menghindari kemungkinan terpaparnya COVID-19 dari pakaian yang sudah dibawa berkeliling di ruang publik.

Begitu pula dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang juga menganjurkan agar masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan dengan cara rutin mencuci pakaian yang sudah dipakai. Kabarnya memang virus SARS-CoV-2 ini bisa bertahan selama berjam-jam lamanya pada permukaan pakaian berbahan kain dan sejenisnya.

Related Article