post

Current Affairs

Hewan Bisa Tertular COVID-19, Tapi Jangan Telantarkan Peliharaanmu Karena Panik

Permata Adinda, 6 April 2020

Beberapa minggu lalu, seekor kucing di Belgia dikabarkan tertular COVID-19 dari pemiliknya yang telah sakit selama seminggu. Kucing pertama di dunia yang diketahui positif itu mengalami gejala-gejala COVID-19: diare, muntah-muntah, dan masalah pernapasan. Sampel muntah dan fesesnya dikirimkan ke laboratorium di Faculty of Veterinary Medicine of Liege, dan diketahui sampel tersebut mengandung SARS-CoV-2 dalam jumlah besar. Setelah 9 hari, kucing tersebut dikabarkan sembuh.

Walaupun tingkat penularan COVID-19 ke hewan belum diketahui secara pasti, kini berbagai berita mengabarkan bahwa hewan-hewan peliharaan mengidap COVID-19 setelah tertular oleh manusia. Selain kucing di Belgia, korbannya ialah dua anjing di Hong Kong. Salah satu di antara mereka meninggal dunia (sebab kematiannya tidak diketahui pasti karena sang pemilik tidak mengizinkan melakukan autopsi), sementara yang lainnya sakit tanpa menunjukkan gejala. Dua hari lalu, seekor harimau di New York, Amerika Serikat, juga dikabarkan positif COVID-19 setelah tertular oleh salah satu pegawai yang mengurusnya di kebun binatang.

Di sisi lain, belum ada penelitian atau bukti yang menunjukkan penularan dari hewan peliharaan ke manusia. Pada wabah SARS dahulu, sejumlah kecil kucing dan anjing juga diketahui tertular virus Corona dari manusia, tapi virus tak memberikan dampak berbahaya kepada hewan peliharaan dan tidak menular ke manusia—seperti dilaporkan oleh scmp.com.

Menurut The Society for the Prevention of Cruelty to Animals (SPCA), hewan yang tertular COVID-19 tak berarti jadi “infectious”. Hal yang sama juga disebutkan oleh virolog dan juru bicara virus Corona di Belgium, Van Gucht, kepada livescience.com. “Menurut kami kucing adalah korban dari epidemi ini, dan tak punya peran signifikan dalam penyebaran virus,” kata Van Gucht.

Sejumlah lembaga atau organisasi advokasi hewan khawatir terjadi penelantaran hewan-hewan peliharaan karena sang pemilik takut tertular. Hal ini telah terjadi, bahkan sebelum diketahui bahwa virus dapat menular ke kucing dan anjing. Kabar bahwa virus berasal dari hewan (kelelawar atau trenggiling) telah membuat banyak hewan peliharaan di Cina dibuang oleh pemilik mereka. Anjing-anjing liar pun ditangkap dan dibasmi.

Selain di Cina, penelantaran hewan peliharaan juga terjadi di Israel, Turki, dan India. Hewan-hewan tersebut ditinggalkan di tempat penampungan hewan hingga dibuang ke jalanan dan dibiarkan kelaparan. Ada pula pemilik hewan peliharaan yang terpisah dari hewannya karena kebijakan lockdown, atau kehilangan pendapatan dan tak mampu membeli makanan untuk mereka. “Sepertinya orang tidak ingin ada hewan di sekitar mereka. Keluarga saya baru saja menyelamatkan lima anak kucing yang ditemukan di dalam karung goni yang dibuang ke tempat sampah,” kata seorang aktivis hewan, dikutip dari qz.com.

Transmisi dari Kucing ke Kucing

Sebuah studi asal Cina menemukan bahwa kucing bisa jadi rentan tertular virus kemudian menularkannya ke kucing lain. Eksperimen yang dilakukan di Chinese Academy of Agricultural Sciences’ Harbin Veterinary Research Institute ini melibatkan 18 kucing, dengan 6 di antaranya telah diinfeksi virus Corona dan sisanya digunakan sebagai uji transmisi.

Virus tersebut diinjeksi ke kucing lewat hidung. Setelah tiga sampai lima hari, RNA virus terdeteksi di feses. Virus juga terdeteksi di organ mereka, termasuk di nasal turbinates (rongga hidung), soft palates (langit-langit mulut), amandel, dan trakea. Kucing-kucing yang diletakkan di kandang terpisah disebutkan ikut tertular, dan diindikasikan transmisi terjadi melalui tetesan cairan saluran pernapasan—bukan karena kontak langsung—seperti yang juga terjadi pada manusia.

Eksperimen ini juga dilakukan kepada hewan ternak (ayam, bebek, dan babi), anjing, dan musang. Hasilnya, musang ditemukan mudah tertular virus seperti kucing. Sementara itu, hewan-hewan ternak dan anjing lebih resistan. Walaupun anjing yang diinjeksi virus jadi positif mengandung RNA virus, tetapi organ-organnya bersih dari virus. Hal yang sama juga terjadi di hewan-hewan ternak.

Menurut Van Gucht, kucing punya protein ACE2 yang serupa dengan yang ada di tubuh manusia. Protein ini pula yang jadi tempat virus SARS-CoV-2 melekatkan diri. “Protein ACE2 kucing menyerupai ACE2 manusia, yang kemungkinan besar adalah reseptor bagi SARS-CoV-2,” kata Van Gucht.

Sementara itu, Idexx Laboratories melakukan eksperimen dengan sampel yang lebih banyak, yaitu 3.500 kucing dan anjing dari Korea Selatan dan Amerika Serikat. Berdasarkan hasil eksperimen, diketahui bahwa tak ada hewan yang positif COVID-19. Penelitian juga menekankan bahwa penularan utama COVID-19 terjadi antara manusia.

Virolog Jonathan Ball mengingatkan agar orang-orang tidak perlu panik mendengar penemuan ini. “Perlu diingat bahwa kucing bukanlah penyebar virus. Pemicu utamanya adalah transmisi antar manusia, jadi tak perlu panik mengkhawatirkan kucing dapat jadi sumber utama virus. Namun, jika kamu terinfeksi COVID-19 dan punya hewan peliharaan, kamu perlu membatasi interaksi dengan teman berbulumu hingga kondisimu membaik,” kata Ball dikutip dari The Guardian.

Alih-alih mencurigai hewan peliharaan, para ahli malah menyarankan tindakan-tindakan preventif bagi orang-orang yang sedang sakit agar tidak menulari hewan-hewan tersebut, antara lain:

  • Menutup mulut dan hidung ketika bersin, bisa denngan tissue atau sikumu,
  • Langsung membuang tissue ke tempat sampah,
  • Mencuci tangan setelah bersin, dan sering-sering membersihkan tangan dengan sabun atau sanitizer,
  • Jaga jarak dengan orang-orang yang batuk dan bersin, setidaknya satu meter.

WHO juga menyarankan agar orang-orang, “mencuci tangan dengan air dan sabun setelah berkontak dengan hewan peliharaan” untuk mencegah diri tertular dari “berbagai bakteri lain yang dapat menular antar hewan peliharaan dan manusia, seperti E.coli dan Salmonella.”