post

Politik

Franz Magnis-Suseno dan Penolakan Kerasnya Terhadap Golput

Ramadhan, 14 Maret 2019

Rohaniwan sekaligus mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz Magnis-Suseno dikenal secara luas sebagai sosok yang sering memberi sumbangsih pemikiran mengenai kultur demokrasi di Indonesia sampai urusan Pemilihan Umum (Pemilu). Baru-baru ini, Franz mengeluarkan uneg-unegnya soal golongan putih (golput). Ia menolak keras keberadaan golput, kelompok yang saat ini jadi sorotan jelang Pilpres 2019.

Sebelumnya, seperti dikutip dari Wikipedia, istiliah "golput" alias golongan putih sendiri diciptakan tahun 1971 oleh Imam Waluyo, merujuk bagi mereka yang tak mau memilih. Adanya istilah ‘putih’ sebenarnya tertuju pada gerakan yang menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar parpol peserta pemilu kalau tak menyetujui pembatasan pembentukan partai-partai oleh pemerintah Orde Baru.

Golput, Isu yang Selalu Mengikuti Kala Musim Pemilu

Dalam kolom opini di surat kabar Kompas, Selasa, 12 Maret 2019, Franz yang merupakan seorang filsuf ini dengan keras menolak orang-orang yang mengambil sikap golput dalam Pilpres 2019. Menurutnya, memilih itu wajib secara moral sekalipun hukum tidak mewajibkan. Dalam pendapatnya itu, ia mengingatkan orang-orang yang golput dengan kalimat yang cukup pedas. Adalah bodoh, just stupid, atau benalu yang menurutnya menjadi kemungkinan seseorang menjadi golput.

Sederhananya, orang-orang yang golput menolak untuk memberikan suara di Pemilu. Di setiap penyelanggaraan Pemilu di Indonesia, isu golput selalu menjadi sorotan besar. Hal itu lantaran keberadaan golput dianggap mempengaruhi hasil akhir dari Pemilu itu sendiri terhadap sosok pemimpin yang terpilih nantinya.

Menurut Franz, dampak yang ditimbulkan dari banyaknya orang-orang yang golput nanti cukup signifikan. Apalagi hasil pemilu legislatif dan pilpres pada 17 April nanti akan krusial bagi masa depan bangsa dan negara. Untuk itu lah, menurutnya golput merupakan persoalan serius yang perlu diperhatikan, terutama jelang hari H pencoblosan di Pilpres 2019.

Setidaknya ada beberapa situasi, yang menurut Franz, di mana orang-orang berhak bahkan wajib untuk tidak memilih. Misalnya saja seperti mahalnya biaya untuk ikut memilih karena tempat pemungutan suara (TPS) terlalu jauh dari tempat tinggal si pemilih. Lalu, terkendala urusan pekerjaan, sampai harus merawat seseorang yang tak dapat ditinggalkan. Alasan-alasan itu menurutnya bisa ditolerir.

Namun, jika tak ada alasan yang sah dan objektif atau di luar alasan-alasan di atas, maka masyarakat wajib memilih. Franz menekankan bahwa ‘wajib’ dalam hal ini, bukanlah wajib secara hukum, melainkan wajib secara moral. Maka dari itu lah, Franz dengan tegas menggambarkan orang yang terang-terangan golput dengan tiga hal: bodoh, benalu, psycho-freak.

Dalam tulisannya itu, Franz terlihat begitu khawatir dengan keberadaan dan dampak yang bisa ditimbulkan jika banyak orang yang memilih untuk golput di Pilpres 2019. Ia pun menyodorkan berbagai opsi dalam memilih dua capres yang tersedia. Dalam opsinya itu, ujungnya tentu agar masyarakat memilih salah satu capres dan tidak golput.

Sebagai contoh, jika kedua capres tersebut dianggap sama-sama tak memuaskan, maka pilihannya tetap memilih salah satu. Seperti apa? Dari kedua capres, tentu keduanya memiliki perbedaan, dan dalam konteks kekurangan, tentu keduanya bakal masuk dalam kategori kurang baik dan sangat kurang baik lagi.

Di antara dua pilihan yang tersedia itu, Franz menilai masyarakat tentu sudah bisa menentukan pilihannya, meski ujung-ujungnya tetap saja tak dipuaskan dengan pilihannya itu karena dianggap tak memenuhi kriteria. Franz pun mengajak masyarakat untuk memastikan tak memilih capres yang sangat kurang baik lagi itu.

Yang jelas, dari dua pilihan itu, masyarakat harus memilih yang layak dari antara keduanya. “Dalam suatu pemilu, kita tak memilih yang terbaik, melainkan berusaha memastikan yang terburuk jangan terpilih,” ucap Franz.

Golput: Bodoh, Benalu, dan Psycho-freak, dan Pentingnya Memilih

Dalam tiga hal yang menggambarkan sosok golput, Franz memang tak rinci dijelaskan. “Kalau Anda, meskipun sebenarnya dapat, tetapi Anda memilih untuk tidak memilih atau golput, maaf, hanya ada tiga kemungkinan: Anda bodoh, just stupid; atau Anda berwatak benalu, kurang sedap; atau Anda secara mental tidak stabil, Anda seorang psycho-freak,” kata Franz dalam tulisannya itu. Ia menggambarkan kalau orang yang bodoh adalah ia yang memilih menjadi golput karena tidak ada calon yang sesuai dengan keinginannya. Maka dari itu, ia berpendapat, orang yang memutuskan untuk tidak memilih itu bodoh.

Selain itu, Franz juga menilai bahwa orang yang tidak memilih adalah benalu atau parasit. Ia mengaitkan hal ini dengan sikap memikirkan karier sendiri tetapi tidak peduli dengan negara. “Dia hidup atas usaha bersama masyarakat, tetapi tak mau menyumbang sesuatu. Kita dengan susah payah berhasil membangun demokrasi di Indonesia, tetapi Anda ‘tak peduli politik’. Betul-betul tak sedap,” kata Franz.

Tuduhan terakhir Franz kepada orang yang golput adalah bahwa mereka itu secara mental tidak stabil atau psycho-freak. Yang jelas, secara keseluruhan isi dari tulisan Franz itu adalah soal keharusan memilih. Ia menawarkan jalan keluar dari dilema seorang yang hendak memilih untuk golput, bahwa “Dalam satu pemilu, kita tak memilih yang terbaik, melainkan memastikan yang terburuk tidak terpilih dan berkuasa.”